Temu Bruder dan Frater FIC 2026

Temu Bruder dan Frater FIC 2026

Yogyakarta menjadi ruang perjumpaan dan refleksi bagi para Bruder dan Frater FIC dalam kegiatan pertemuan yang berlangsung pada 5–6 September 2026. Mengusung tema Berakar dalam Identitas, Bertumbuh Menjawab Zaman, pertemuan ini menjadi kesempatan untuk kembali menyadari jati diri sebagai pribadi yang dipanggil untuk hidup dalam semangat FIC sekaligus terus terbuka terhadap tantangan dan perkembangan zaman. Pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda bersama, tetapi menjadi ruang untuk berjumpa, berbagi pengalaman, berefleksi, saling meneguhkan, dan membangun kembali semangat persaudaraan di antara Bruder dan Frater FIC.

Kegiatan diawali dengan olahraga bersama. Dalam suasana yang santai dan penuh kegembiraan, para peserta membangun keakraban melalui aktivitas fisik yang sederhana namun bermakna. Olahraga menjadi simbol bahwa perjalanan panggilan tidak dijalani seorang diri. Setiap pribadi membutuhkan kehadiran, dukungan, dan semangat dari saudara seperjalanan.

Setelah olahraga, kegiatan dilanjutkan dengan perkenalan masing-masing peserta. Momen ini menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat pribadi, pengalaman, perjalanan panggilan, serta dinamika yang sedang dihadapi oleh masing-masing Bruder dan Frater. Perkenalan sederhana tersebut membuka ruang bagi sebuah kesadaran bahwa setiap pribadi memiliki cerita dan perjalanan yang berbeda. Namun, di balik keberagaman pengalaman tersebut, terdapat satu identitas yang menyatukan panggilan untuk hidup dan bertumbuh dalam semangat FIC.

Salah satu bagian penting dalam pertemuan ini adalah sesi bersama Br. Triharyadi. Sesi tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali makna identitas dan panggilan sebagai Bruder dan Frater FIC. Identitas bukan sekadar nama, status, pakaian, ataupun keanggotaan dalam sebuah kongregasi. Identitas merupakan sesuatu yang perlu dihidupi dalam sikap, pilihan, cara berpikir, cara berelasi, serta cara menghadirkan diri di tengah masyarakat.

Dalam perkembangan zaman yang semakin cepat, identitas menjadi semakin penting. Kemajuan teknologi, perubahan budaya, perkembangan kecerdasan buatan, serta perubahan pola relasi manusia menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan. Di tengah perubahan tersebut, seorang Bruder dan Frater dipanggil untuk tidak kehilangan akar. Berakar bukan berarti menolak perubahan. Sebaliknya, berakar berarti memiliki fondasi yang kuat sehingga mampu bertumbuh dan menghadapi perubahan dengan arah yang jelas. Karena itu, identitas FIC perlu terus diterjemahkan dalam konteks zaman. Semangat pendiri dan nilai-nilai FIC tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi perlu dihidupi secara kreatif dalam realitas kehidupan masa kini.

Suasana pertemuan semakin diperdalam melalui peneguhan dari Bruder Provinsial. Dalam peneguhan tersebut, kembali ditekankan pentingnya identitas sebagai Bruder FIC. Identitas menjadi dasar bagi setiap langkah dan pelayanan. Ketika seseorang mengetahui siapa dirinya dan untuk apa ia dipanggil, ia akan lebih mampu menentukan arah hidupnya di tengah berbagai perubahan.

Menjadi Bruder FIC berarti berani menghidupi nilai-nilai persaudaraan, kesederhanaan, pelayanan, pendidikan, dan perhatian terhadap sesama. Identitas tersebut tidak hanya tampak dalam kegiatan formal, tetapi terutama melalui kehidupan sehari-hari. Peneguhan ini menjadi pengingat bahwa perkembangan zaman tidak boleh membuat para Bruder dan Frater kehilangan arah. Justru, perubahan zaman menjadi kesempatan untuk menemukan cara-cara baru dalam menghadirkan nilai-nilai FIC.

Identitas memberikan akar, sementara keterbukaan terhadap zaman memberikan ruang untuk bertumbuh. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Bruder dan Frater FIC dipanggil untuk memadukan keduanya tetap teguh pada nilai-nilai dasar, tetapi terbuka terhadap kreativitas, inovasi, dan kebutuhan zaman.

Setelah melewati rangkaian refleksi dan peneguhan, pertemuan ditutup dengan rekreasi bersama di Keraton Yogyakarta dan Taman Sari. Kegiatan rekreasi menjadi ruang untuk melepaskan sejenak rutinitas dan menikmati kebersamaan. Berjalan bersama, berbincang, menikmati suasana Yogyakarta, serta mengenal kekayaan sejarah dan budaya menjadi bagian dari pengalaman yang mempererat persaudaraan.

Keraton dan Taman Sari juga memberikan pengalaman tersendiri. Di tengah warisan sejarah yang begitu kuat, para peserta diajak untuk menyadari bahwa setiap generasi memiliki tugas untuk menerima warisan yang baik sekaligus memberikan makna baru bagi masa depan. Demikian pula dengan panggilan FIC, warisan spiritual dan nilai-nilai yang telah diterima dari generasi sebelumnya perlu dijaga, dihidupi dan dikembangkan sesuai dengan konteks zaman.

Pada akhirnya, perjalanan panggilan bukanlah tentang memilih antara identitas atau perubahan, melainkan bagaimana menjadikan identitas sebagai fondasi untuk menghadapi perubahan. Semoga perjumpaan para Bruder dan Frater FIC di Yogyakarta menjadi energi baru untuk terus berjalan bersama, saling meneguhkan, dan menghadirkan semangat FIC secara nyata di tengah dunia yang terus berubah.