Pendidikan Menjadikan Manusia yang Utuh

Pendidikan Menjadikan Manusia yang Utuh

Pada tahun 2025, dunia pendidikan kita sempat viral dengan salah satu kasus yang terjadi di SMAN 1 Cimarga, Banten. Peristiwa itu bermula ketika seorang kepala sekolah mendapati siswa yang merokok di lingkungan sekolah. Peristiwa ini memicu reaksi luas: orang tua tidak terima dan melaporkan ke pihak berwajib, siswa melakukan aksi solidaritas, dan para guru justru diliputi rasa takut dalam menegakkan disiplin. Banyak perdebatan mengenai aksi guru, murid, orang tua dan siswa-siswi sekolah tersebut. Bahkan pada kolom-kolom komentar media sosial  ada gerakan untuk blacklist lulusan sekolah tersebut. Hal ini menunjukan betapa kompleksnya suatu permasalahkan dalam dunia pendidikan.  Pendidikan tidak terbatas pada ruang kelas, buku pelajaran, atau angka-angka dalam raport yang diterima pada akhir atau tengah semester. Pendidikan merupakan suatu proses panjang yang berlangsung seumur hidup. Proses yang dilalui itu menjadi pembelajaran terus-menerus yang membentuk manusia menjadi pribadi yang semakin utuh. Dalam semangat ini, belajar bukan sekadar kewajiban anak-anak di sekolah, melainkan sikap hidup setiap orang. Pendidikan tidak hanya berbicara tentang “menjadi pintar”, tetapi tentang “menjadi manusia”. Menjadi manusia yang seutuhnya

Dalam realita hidup zaman yang semakin maju, pendidikan kerap dipersempit menjadi soal capaian akademik saja. Tolok ukur pencapaian adalah nilai dalam bentuk angka dan prestasi menjadi jaminan seolah menentukan masa depan. Individu dengan nilai tingga menyandang gelar pintar dan sebaliknya individu dengan nilai rendah dianggap bodoh. Di tengah arus ini, semangat belajar yang sejati perlahan bisa tergeser dimana orang tidak lagi mementingkan proses daripada hasil. Orang akan cuek atau acuh tak acuh pada situasi sekitar dan semakin individualis. Jika pendidikan kehilangan dimensi kemanusiaannya, produk yang dihasilkan yakni pribadi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh dalam bela rasa, kepedulian dan semangat juang.

Jika berkaca pada pengalaman diatas sesungguhnya tidak perlu mencari contoh yang jauh dari kehidupan disekitar kita. Salah satu pengalaman yang menarik bagi saya terjadi ketika pembagian raport pada akhir semester ganjil. Salah satu orang tua murid yang tinggal di asrama mengungkapkan ketidakpuasannya terhadap hasil belajar anaknya. Anak tersebut dinilai tidak mencapai standar yang diharapkan, meskipun telah mengikuti berbagai les tambahan. Kekecewaan itu kemudian dilimpahkan pada handphone (hp). HP menjadi sumber anak tidak memperoleh nilai yang diharapkan orang tua. Dengan nilai yang diperoleh seolah anak itu gagal.

Sebagai pendamping yang hidup bersama anak setiap hari, saya melihat realitas yang berbeda. Anak ini bukanlah pribadi yang bermasalah. Ia sopan, santun, hormat kepada sesama, dan tidak terlibat dalam perilaku yang merugikan dirinya maupun orang lain. Ia juga menggunakan hp dalam batas yang telah ditentukan: saat pulang sekolah dan setelah waktu belajar malam. Dalam konteks ini, penilaian yang hanya berfokus pada angka-angka akademik terasa tidak utuh, bahkan cenderung tidak adil. Sikap yang baik yang ada pada diri anak runtuh atau dihapuskan dengan angka nilai mata pelajaran yang tidak sesuai dengan diharapkan orang tua. Catatan negatif dari wali kelas tidak ada bahkan diapresiasi dengan nilai yang tergolong baik.

Pengalaman  ini mengajak kita untuk berefleksi lebih dalam tentang makna pendidikan itu sendiri. Apakah pendidikan semata-mata tentang pencapaian nilai? Ataukah pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya? Yesus yang adalah Guru sejati tidak pernah menilai seseorang hanya dari satu aspek. Ia melihat keseluruhan pribadi. Ketika berhadapan dengan berbagai orang baik mereka yang dianggap berdosa, lemah, atau dianggap gagal oleh masyarakat, Ia selalu memandang dengan belas kasih dan kebenaran.  “Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati” (1 Samuel 16:7).

Pola pikir Pendidikan zaman dahulu sering kali menempatkan nilai akademik sebagai tolok ukur utama keberhasilan. Anak yang pintar dan berprestasi menjadi kebanggaan, sementara yang kurang menonjol kerap dipandang sebelah mata. Pola inilah yang masih terasa hingga kini, meskipun zaman telah berubah. Di era digital, dengan segala kecanggihannya, tantangan semakin kompleks. Teknologi seperti HP memang ibarat pisau bermata dua: dapat menjadi sarana pembelajaran yang luar biasa, namun juga berpotensi menjadi hal yang melemahkan pendidikan.

Dalam dua sisi yang berlainan tersebut, pendidik mengambil perasaan sebagai “nabi”. Nabi bukan sekadar penyampai pesan, tetapi juga penafsir tanda-tanda zaman dan pembela nilai-nilai kebenaran. Dalam dunia pendidikan, kita dipanggil untuk menjadi suara yang menyeimbangkan: tidak terjebak dalam tuntutan angka semata, tetapi juga tidak mengabaikan pentingnya usaha dan tanggung jawab belajar.

Pendidik tidak hanya hadir di ruang kelas atau di lingkungan sekolah. Pendidikan berlangsung di mana pun kita berada. Bahkan kita adalah pendidik bagi diri kita sendiri. Dalam kehidupan komunitas para bruder pun, proses pendidikan itu terus terjadi. Hal tersebut tampak dalam sikap-sikap seperti: setia pada kesepakatan bersama, mengelola emosi, mengendalikan keinginan diri, serta melatih disiplin dalam hal-hal sederhana namun mendasar. Hal ini menjadikan komunitas atau biara menjadi “sekolah kehidupan” yang konkret, tempat setiap pribadi tidak hanya mendidik, tetapi juga dididik. Mungkin sering kali kita menuntut anak untuk berubah dan berkembang, namun lupa bahwa kita sendiri masih berada dalam proses yang sama. Ketika kita berjuang mengendalikan emosi atau setia pada komitmen komunitas, di situlah kita sebenarnya sedang memberi teladan pendidikan yang paling nyata. Pendidikan bukan pertama-tama soal kata-kata, tetapi kesaksian hidup.

Yesus Kristus sendiri memberikan teladan yang sangat kuat dalam hal ini. Ia tidak hanya mengajar, tetapi juga hadir, mendengarkan, dan memahami. Dalam Matius 11:28, Ia berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Sikap ini menunjukkan bahwa pendekatan yang manusiawi dan penuh empati justru menjadi kunci dalam membangun pertumbuhan sejati.

*Penulis tinggal di Komunitas Ketapang, Kalimantan Barat

Artikel pernah dimuat di Majalah Komunikasi Edisi II /2026