Kenangan Penuh Cinta Kasih Br. Venantius, FIC

Kenangan Penuh Cinta Kasih Br. Venantius, FIC

Bruder Raden Antonius Sartono, FIC, yang menggunakan nama biara Br. Venantius dan akrab disapa Br. Venan, lahir di Pati pada 4 Agustus 1932. Ia adalah anak kelima dari enam bersaudara, lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga Jawa Katolik yang kaya akan nilai iman, kesantunan, dan kebersahajaan. Ia merupakan putra dari Bapak R.J.B. Martosuwongso dan Ibu R.A. Elisabeth Sudarmi.

 

Akar imannya bertumbuh dan bersemi di Nanggulan, Kulon Progo. Lingkungan inilah yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang halus dalam tutur kata, ramah dalam sikap, dan tekun dalam penghayatan iman. Dari tanah dan pengalaman hidup inilah panggilan hidup baktinya bertumbuh, panggilan yang kelak ia jalani dengan kesetiaan panjang dan penuh keteduhan.

 

Menjawab panggilan Tuhan yang ia rasakan sejak muda, Br. Venan memasuki Postulat Kongregasi Bruder FIC pada tahun 1953, lalu melanjutkan Novisiat pada 1 Juli 1954. Dengan hati yang mantap dan penuh kesadaran, ia mengikrarkan Profesi Pertama pada 2 Juli 1955 dan meneguhkan seluruh persembahan hidupnya dalam Profesi Seumur Hidup pada 2 Juli 1960. Sejak saat itu, hidupnya sepenuhnya diabdikan bagi Tuhan melalui karya pendidikan, pembinaan iman, dan pelayanan Gereja.

 

Dalam semangat melayani secara utuh dan bertanggung jawab, Br. Venan membekali dirinya dengan pendidikan dan pembentukan diri yang sungguh-sungguh. Ia menempuh pendidikan dasar hingga Sekolah Guru Atas (SGA), sebuah pilihan yang selaras dengan panggilan kerasulannya di bidang pendidikan. Selain pendidikan formal, ia juga memperkaya diri melalui berbagai pendidikan nonformal. Pada tahun 1965, ia mengikuti kursus kateketik di Yogyakarta selama satu tahun, yang semakin menajamkan kepekaannya dalam pewartaan iman dan pendampingan umat. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1970, ia mengikuti kursus sutradara di Semarang selama satu tahun. Pendidikan ini memperlihatkan minat dan perhatiannya yang besar pada seni sebagai sarana pewartaan, khususnya melalui drama, liturgi, dan ekspresi iman yang kreatif.

 

Minat dan bakatnya di bidang seni suara, musik, liturgi, drama, dan pembinaan iman menjadi ciri khas pelayanannya sepanjang hidup. Ia dikenal sebagai pribadi yang gemar belajar secara mandiri, terbuka terhadap hal-hal baru, dan tetap memiliki semangat belajar hingga usia lanjut. Baginya, belajar adalah bagian dari kesetiaan pada panggilan.

 

Pada tahun 2025, Br. Venantius merayakan 70 tahun hidup bakti. Perayaan itu menjadi kenangan yang mendalam bagi kita semua. Dalam keterbatasan fisiknya, ia hadir dengan kursi roda, namun dengan hati yang tetap penuh kasih. Ia memberkati satu per satu orang yang datang memberi ucapan selamat, dengan senyum sederhana dan keteduhan yang khas. Pada masa itu, ia juga dikenal sebagai bruder tertua di Provinsi Indonesia, berusia 93 tahun, tetap sehat, tenang, dan menjadi sumber berkat melalui kehadirannya.

 

Masa senja hidup Br. Venantius menjadi kesaksian yang sunyi namun kuat tentang iman yang tetap hidup hingga akhir. Walaupun pada masa-masa terakhir ia tidak lagi menghafal siapa saja bruder yang ada di sekitarnya, keterbatasan ingatan itu tidak pernah memadamkan relasinya dengan Tuhan. Ia tetap rajin berdoa. Tidak jarang pada malam hari ia bangun dan pergi ke kapel seorang diri. Saat hendak tidur, ia kerap memandang salib cukup lama, larut dalam doa yang hening dan penuh penyerahan.

 

Br. Venan meninggalkan warisan iman yang mendalam. Kesetiaannya dalam panggilan, cintanya pada liturgi dan seni, serta ketekunannya dalam pelayanan pendidikan dan pembinaan iman telah menumbuhkan banyak benih kebaikan. Semoga teladan hidup Br. Venantius meneguhkan kita untuk tetap setia dalam panggilan, melayani dengan hati yang tulus, dan mempersembahkan seluruh hidup, baik dalam kekuatan maupun dalam kelemahan, sebagai doa yang hidup bagi Tuhan dan sesama. Selamat jalan Br. Venan, doakan kami semua agar dapat mengikuti jejakmu, terus menjadi berkat sampai akhir hayat.