
Kehadiran para bruder sungguh dibutuhkan demi kelangsungan karya-karya yang telah dirintis pastor van Lith SJ. Maka tanggal 26 Desember 1921 Br. Bonifasius, Br.Eustatius, Br. Wiro tiba di Tanjung Priok yang kemudian pada tanggal 30 Desember 1921, mereka membentuk komunitas di Muntilan, dengan pemimpin komunitas Br. Bonifasius dari situ nampak jelas bahwa Dewan Umum pusat tidak hanya berani menerima misi namun berani juga memperhatikan kepentingan orang-orang yang membutuhkan pertolongan.
Jauh lebih kongkrit dari komunitas Yogyakarta, di komunitas Muntilan para bruder merasa sebagian dari suatu keseluruhan besar, keseluruhan yang menjamin hari depan kongregasi; sekolah pendidikan guru dengan 200 murid lebih, satu-satunya di seluruh Gereja Hindia Belanda serta sekolah-sekolah misi dengan jumlah anak kurang lebih 1000 murid, suatu pusat pendidikan yang bernilai untuk seluruh Nusantara. Dengan perkembangan jumlah siswa yang semakin melejit, jumlah tenaga bruder tetap mencukupi karena tanggal 17 Agustus 1922, Br. Gerontius dan Br. Siardus telah tiba di Jawa.
Demi pendampingan yang lebih serius maka dibangunlah konvik-konvik (asrama) dengan suasana yang tidak jauh berbeda dengan situasi di rumah sebelumnya. Konvik-konvik itu langsung ditangani oleh para bruder. Adapun pembangunan konvik-konvik itu berlangsung sebagai berikut : konvik pertama dibangun tahun 1925, konvik kedua dibangun tahun 1926. Namun sayang justru pada tahun 1926 hasil panen kurang memuaskan. Syukurlah pada tahun 1927 menunjukkan panen bagus, maka sekarang para bruder berani mendirikan konvik keempat. Dalam tahun 1929, bahkan para bruder mendirikan konvik yang keempat. Dengan begitu kira-kira 200 orang anak dapat ditampung dalam konvik. Pada tanggal 2l November 1930, bahkan para bruder memulai peletakan batu pertama untuk pembangunan rumah bruder. Sayang dalam bulan dan tahun yang sama yaitu tanggal 24 November 1930 terjadi bencana alam: meletusnya Gunung Merapi. Tentu saja bencana ini menghambat pembangunan rumah bruder. Sehingga tanggal 8 September 1931 rumah para bruder baru dapat diberkati tanpa gangguan apapun.
Ada alasan bagi para bruder untuk bergembira atas dibukanya kesempatan untuk menerima calon bruder dalam semacam asrama bernama Juvenat, tampak anak muda yang bermaksud akan menjadi bruder. Hal ini mengingat telah ada beberapa pemuda yang harus mengenyam pendidikan di negeri Belanda untuk menjadi bruder FIC (OO pada jaman dahulu). Maka pada tanggal 1 Agustus 1936 mulailah pendidikan calon bruder di Jawa dan sampai hari ini pendidikan tersebut berjalan terus. Lima orang Juvenis membuka Juvenat baru, antara lain Andreas Wongsodimedja, yang nantinya menjadi bruder dengan nama Br.Yohanes de Deo almarhum.
Karya yang sampai sekarang masih tetap diemban para bruder di Muntilan adalah pendidikan seperti TK-SD, SMP, SMA PL Van Lith dan SMK Pangudi Luhur. Pendampingan para Calon Bruder yang disebut masa Postulat dan Novisiat. Selain itu juga karya perusahaan Percetakan Pangudi Luhur, pelayanan tenaga kerja, Unit produksi mesin dan unit produksi kayu.
Para bruder yang saat sekarang berada di komunitas Muntilan yaitu Br. Aloysius Sutiarta, Br. Wilhelm Leensen, Br. Benedictus Sumartaya, Br. Ignatius Dalimin, Br. Edmundus Sukapdi, Br. Albertus Suwarto, Br. Yoh. Sugiono, Br. Petrus Suparyanto, Br. Zakarias Puji Lestariyo, Br. Simon Andrus Briyanto, Br. Mikael Sidharta Susila, Br. Yustinus Tri Haryadi dan Br. Wensislaus Parut.