Notice: Use of undefined constant ewSessionIndukGet - assumed 'ewSessionIndukGet' in /home/kenz/brfic/html/artikel.php on line 11 PENTINGNYA PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA :: Bruder F.I.C Indonesia ::
Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Minggu, 26 Maret 2017  - 2 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


16.06.2007 22:30:11 33359x dibaca
PENTINGNYA PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA
Oleh Paulus Yanu Amanto

Kita menyadari bahwa setiap budaya memiliki kekhasannya masing-masing. Bahkan seringkali saling bertolak belakang. Di satu budaya sikap tertentu dapat diterima, namun dalam budaya yang lain tidak. Sebagai contoh ketika saya seorang Jawa berada di Tumbangtiti (kota kecil yang letaknya sekitar 100 km dari Ketapang, Kalimantan Barat) menanyakan tujuan kepada tetangga dekat yang hendak bepergian. Kemudian dijawab dengan sepatah kata “entah” yang bagi saya cukup mengagetkan. Padahal konteks pembicaraan itu bermaksud untuk menyapa, namun berbeda tanggapannya.
 
Dari pengalaman itu, saya merasakan perlunya pemahaman lintas budaya sehingga perbedaan itu tidak mengakibatkan persoalan atau kesalahpahaman bagi kedua pihak yang terlibat. Dalam banyak kasus, konflik budaya mudah ditemui di berbagai tempat pertemuan multi budaya seperti Yogya dan kota-kota besar lainnya. Maka dalam artikel ini, saya hendak membahas permasalahan konflik kultural dalam kasus di atas.
 
Pertama-tama kita perlu menyadari dua budaya antara Jawa dan Kalimantan. Salah satu falsafah Jawa adalah tepa salira terhadap sesama. Artinya kurang lebih saya artikan sebagai sikap saling menghargai terhadap sesama. Falsafah itu mengandung konsekuensi bahwa setiap orang bertanggung jawab juga terhadap kehidupan orang lain. Maka, ia perlu mengerti pula urusan orang lain pula. Dalam hal ini, konteksnya adalah basa-basi untuk mendekatkan relasi dengan tetangga. Tambah lagi, jawaban dari pertanyaan itu bukanlah tujuan yang utama. Sementara itu, masyarakat Kalimantan yang dipengaruhi oleh keluasan alam dan lingkungan mereka membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan orang Jawa. Kebudayaan dipengaruhi juga oleh luas wilayahnya. Semakin luas wilayah kehidupan budaya tertentu, maka semakin luas pula ruang yang diperlukan oleh mereka. Itu berarti bahwa mereka semakin independen dan tak ingin dicampuri urusannya. Maka sebagai jawaban atas pertanyaan di atas adalah tidak menjawab. Secara spontan, pertanyaan di atas juga mengusik kebebasan mereka sehingga menimbulkan stimulus untuk bereaksi spontan dan emosional.
 
Berdasarkan analisis di atas, persoalannya terletak pada keluasan ruang bebas yang diperlukan oleh masing-masing budaya. Budaya yang satu membutuhkan ruang yang lebih luas dibandingkan oleh budaya yang lain. Sementara budaya yang lain justru merasa bahwa ruang bebas itu dibentuk secara bersama-sama. Apabila dicermati lebih lanjut, maka masing-masing memiliki aturan berbeda yang menerangi realitas yang sama yaitu mengenai penempatan diri terhadap orang lain. Aturan yang satu cenderung mengambil jarak, sementara yang lain cenderung makin menghilangkan jarak dalam tataran relasi bermasyarakat.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan di sini bahwa konflik budaya memungkinkan munculnya masalah yang lebih besar bagi kedua pihak yang bersalah paham. Persoalan kecil, tentang sapaan untuk berelasi dalam masyarakat dapat menghancurkan tujuan yang sebenarnya yaitu untuk bermasyarakat.
 
Bagaimanapun juga konflik budaya sangat berpeluang memunculkan permasalahan di dalam masyarakat multikultural seperti Yogya. Karenanya, siapa saja dan terutama orang-orang muda perlu belajar tentang pemahaman lintas budaya sehingga mereka dapat memahami perbedaaan budaya sebagai kesempatan untuk memperkaya budaya dan seni hidup manusia.



11 KOMENTAR
21.07.2007 10:12:19
Saya sependapat jikalau diadakan temu lintas budaya agar generasi muda,lebih bisa mengetahui dan memahami budaya yang berbeda antara daerah satu dan daerah lain nya.generasi sekarang memang perlu sosialisai yang kuat untuk memmahi karakter budaya,agar tidak terjadi konflik dan kesenjangan antara budaya satu dan budaya lainnya.sebagai oarang kalimantan asli saya bisa memahami apa yang bruder paparkan mengenai pengalaman bruder di tumbang titi,saya juga mengetahi seluk belu bruder FIC yang sudah banyak membantu orang2di kalimantan.tahun 2002-2005 saya merupakan alumni sarama WPK ketapang jadi sangat mengetahui siapa sih bruder FIC itu.sebagai orang dari pedalaman yaiti berasalal dari Balai Semandang Simpang Hulu.bergaul sesama suku saj dalam komunitas asrama juga sangat terasa perbedaan dan persepsi meskipun sama-sama stu suku apalagi berbeda suku.barangkali yang bruder alami itu adalah generasi muda nya yang tidak lagi menghargai nilai2 kesopanan nya,banyak anak-anak muda sekarang yang terperangkap arus modernisasi sehingga lupa akan budaya asli nya.gaya-gaya metropolitan melekat di sifat mereka.oleh karena iti lintas budaya,temu budaya,dan seminar antara budaya mestinya menjadi bahan kurukulum di sekolah.agar pemahaman terhadap budaya lain dapat di mengerti.sekian dan terima kasih.
YOGI ALEXANDER  
23.07.2007 12:26:00
Terima kasih atas tanggapannya. Saya dulu juga pernah mendampingi di asrama WPK dari Januari-Maret 2002. Memang benar bahwa budaya setempat memang perlu diberi wadah di sekolah, tinggal muatannya yang disesuaikan dengan kurikulum sekolah. Semoga usulan saudara ada kelanjutannya di sana.
PAULUS YANU  
09.02.2008 11:16:50
Der Yanu..saya sangat setuju dengan apa yang bruder ungkapkan mengenai pembinaan lintas budaya, karena munurut saya ini menjadi titik awal untuk saling mnegenal bukan hanya yang terlihat mata tetapi keseluruhan pribadi sesorang yang memang berbeda latar belakang budaya. yang saya alami selama masa pendidikan Postulat, Novisiat, saya merasa bahagia hidup bersama para bruder, frater yang mayoritas orang jawa. dan ini saya alami sebagai kebagiaan ketika saya membuka diri terhadap nilai-nilai baru, dan juga karakter mau belajar dari siapapun. saya menyakini bahwa semua budaya itu baik, hanya bagaimana kita menempatkannya. jika semua ini bisa berjalan maka akan memperkaya satu sama lain bukan menilai budayaku yang lebih baik. pada akhirnya akan muncul kesadaran hidup berkomunitas yang saling menghargai, mengerti dan bekerja sama.
terima kasih

MARKUS YONO  
07.09.2008 04:20:56
Saya mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, ingin mengetahui definisi lintas budaya atau cross-culture sebagai salah satu tugas mata kuliah Pemahaman Lintas Budaya, mohon bantuannya, terima kasih.
AULIA MAHINDRA  http://www.yahoo.com
10.12.2008 01:55:55
maw nanya ....
contoh lain dari komunikasi lintas budaya yang ada di Indonesia itu apalagi yaah ??
tenkyu ...

RINI INDRIANI  http://rinindriani.blogspot.com
15.01.2009 08:29:39
belajar lintas budaya sangat penting untuk kita dapat menjangkau lebih banyak lagi tanpa menimbulkan penolakan
KAWI ARMIYASA  
27.01.2009 21:34:07
Siapapun ingin berteman dan bergaul tapi bila kurang diterima pada lingkungan masyarakat tertentu karena dia tidak mengenal budaya yang berlaku. Sebaiknya kita berbaik sangka dan menjelaskan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Budaya daerah adalah aset kekayaan nasional yang seharusnya kita pelihara.
SULAIMAN  http://jenahudin.wordpress.com
02.03.2009 20:57:00
Pengenalan budaya dari masing-masing suku bangsa yang ada di Indonesia oleh warga negara Indonesia penting. Karena mulikultur adalah ciri yang melekat pada bangsa Indonesia. Dan sebagai aset bangsa telah mampu menjadi kekuatan dalam menyatukan bangsa kita dalam bentuk negara bangsa denga bentuk kesatuan. Tetapi pemahaman mengenai budaya bangsa kita masih sangat terbatas. Oleh karena itu perlu pengenalan yang dimulai sejak dini kepada seluruh warga bangsa agar dapat memahami secara sadar akan keragaman budaya bangsa yang masing-masing mempunyai makna dalam kehidupan.
AFIFHM  
12.05.2011 21:15:00
Mbak Tutut pernah beberapa kali melaksanakan Kirab Remaja, itu cukup baik sebagai upaya pemahaman Generasi Muda Indonesia memahami keindahan ragam budaya lintas daerah
I B SEDHAWA  
27.09.2011 08:49:27
cukup banyak perbedaan..aku pun sempat tersinggung ma bahasa java. untung sekarang sudah bisa bahasa java.. jadi tinggal nyeletuk bhsa java tdak kalaimantan lagi.hehe
IGASBUJANG  http://igasbujang.blogdetik.com
28.10.2015 03:26:15
I reckon, cross cultural understanding is knowing and seeing closer to the differences between a culture and another one.
It is obligatory for all of us to respect other cultures and always try to be open to learning new things. We have to understand other people's perspective, even if it's completely different from our own. It is mandatory for us to love and respect our own culture, we know how to pick the right or wrong thing.
We have to get along with each other, so we can bond with people who has different culture at last. Be open-minded, laid-back, outgoing, and generous. Keep your eyes wide open.

AGNESTA LESLIE  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 2 ms