Perayaan Sabda

Perayaan Sabda

Peristilahan dan Macamnya

Perayaan Sabda: Merupakan perayaan yang dihadiri umat beriman untuk mendengarkan Sabda Allah melalui Kitab  Suci yang dibacakan dan direnungkan, dan umat menanggapi dengan pujian dan doa. Perayaan Sabda dapat menunjuk Liturgi Sabda ataupun Ibadat Sabda. Istilah ini lebih luas penggunaanya. Istilah Liturgi Sabda menunjuk tata Liturgi Sabda resmi yakni Liturgi Sabda sebagai bagian dari Perayaan Ekaristi. Perayaan Ekaristi terdiri dua pokok bagian, yakni Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi (bdk. SC 56); dan kedua bagian pokok itu diapit oleh Ritus Pembuka dan Ritus Penutup.

Ibadat Sabda: Menunjuk pada ibadat yang berpusat pada pewartaan Sabda Allah dan tanggapan umat atas Sabda Allah itu melalui doa pujian ataupun doa permohonan. Ibadat sabda ini tidak dipandang sebagai liturgi (resmi), tetapi sangat dianjurkan oleh Gereja. Kita mengenal Ibadat Sabda ini, misalnya ibadat sabda pada hari Minggu berhubung tidak ada Misa di tempat itu mengingat tidak ada imam, ataupun ibadat sabda yang diadakan dalam pertemuan umat di wilayah atau lingkungan/stasi.

Secara historis, Perayaan Sabda Gereja berakar pada tradisi ibadat Yahudi, khususnya di sinagoga. Menurut struktur dasarnya, ibadat sabda Yahudi terdiri atas tiga bagian pokok, yakni bacaan, tanggapan, dan doa. Struktur dasar ini diambil dari Gereja. Doa seperti yang dipraktikkan dalam ibadat Yahudi tersebut dalam arti tertentu kini masih terus dipraktikkan Gereja dalam ibadat harian. Sedangkan ibadat sabda  yang asli dan tertua dari tradisi kiranya masih dipelihara dalam Liturgi Sabda pada perayaan malam Paskah. Lalu, ibadat sabda pada liturgi Jumat Agung termasuk ibadat sabda kristiani yang sudah sangat tua.

Liturgi Sabda sebagai Bagian Perayaan Ekaristi  

Masuknya Liturgi Sabda dalam Tata Perayaan Ekaristi kiranya sudah terjadi sejak awal perkembangan Misa Kudus dalam Gereja. Hanya saja bukti tertua bahwa Liturgi Sabda telah menjadi bagian dari Perayaan Ekaristi ditemukan pada pertengahan abad ke-2 tulisan-tulisan Santo Yustinus martir. Beliau menerangkan bahwa sebelum memasuki Liturgi Ekaristi jemaat melaksanakan Liturgi Sabda yang terdiri atas bacaan, tafsiran atas bacaan (homili) dan doa. Dalam abad ke-3 kesatuan Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi sudah merupakan sesuatu yang berlaku umum dan diterima di mana-mana. Pada pertengahan hingga awal  Abad ke-20, tempat dan peran Sabda Allah serta Kitab Suci kurang mendapat perhatian walaupun dalam liturgi Gereja  selalu dibacakan Kitab Suci. Pusat perhatian umat lebih difokuskan pada perubahan roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Kristus dalam misa kudus. Liturgi Sabda hanya dipandang sebagai persiapan misa. Khotbah dilepaskan dari Perayaan Sabda bahkan keseluruhan misa kudus dan tema khotbah  pun hanya berkutat pada ajaran iman dan moral Gereja dan bukan membahas Kitab Suci. Baru Abad ke-20, terutama berkat gerakan pembaharuan liturgi, Kitab Suci dan peranannya dalam liturgi dikukuhkan. Konsili Vatikan II menyatakan secara resmi kedudukan penting Kitab Suci dalam liturgi dan bahkan dalam seluruh hidup Gereja (lih. SC 35; DV.25).       

Ibadat Sabda di Luar Perayaan Ekaristi 

Ibadat sabda sebenarnya sudah langsung menunjuk ibadah sabda di luar Perayaan Ekaristi. Ibadat sabda seperti ini berlangsung dalam rangka perayaan sakramen lain ataupun upacara pemberkatan dan perayaan Sabda hari Minggu tanpa imam. Kemungkinan ini ditandaskan oleh Konstitusi Liturgi yang mengatakan: “Hendaknya dikembangkan Perayaan Sabda Allah pada  malam menjelang hari-hari agung, pada beberapa hari biasa dalam masa adven dan prapaskah, begitu pula pada hari-hari Minggu dan hari-hari raya, terutama di tempat-tempat  yang tidak ada imam. Dalam hal itu, perayaan hendaknya dipimpin oleh diakon atau orang lain yang diberi wewenang oleh uskup” (SC 35,4). Demikian pula dalam rangka pertemuan jemaat di lingkup kecil seperti dalam kelompok atau lingkungan, bisa diadakan ibadat sabda yang dilanjutkan dengan sharing iman dan doa bersama.

Ibadat sabda tidak dimasukkan pada tingkatan liturgi resmi. Salah satu aplikasinya, ibadat sabda dapat dipimpin oleh awam, entah diberi tugas resmi oleh Ordinaris Wilayah seperti uskup, entah siapa saja yang diterima dalam jemaat, khususnya dalam kesempatan khusus. Untuk ibadat sabda ini sudah ada pedoman yang dikeluarkan oleh kongregasi Ibadat pada tahun 1988 yang berjudul: Directium de Celebrationibus Dominicalibus Absente Presbytero atau Pedoman Umum Perayaan Sabda Hari Minggu.

Masalah Pastoral

Masalah pastoral  yang sering muncul ialah bahwa penghargaan orang-orang Katolik terhadap perayaan sabda, khususnya Ibadat Sabda (apalagi dipimpin oleh awam), kurang terlalu tinggi dibandingkan dengan Perayaan Ekaristi. Disatu pihak, Misa kudus atau perayaan Ekaristi memang puncak dan sumber kehidupan seluruh umat kristiani (LG 11) dan perayaan liturgi resmi memiliki tingkatan tertinggi. Di pihak lain, kurangnya penghargaan terhadap ibadat sabda tentu bukan hal yang baik. Maka diperlukan sebuah pemahaman atas teologi sabda yang benar.                                                 

                                                                        Sumber: Martasudjita,  Pengantar untuk studi dan praksis Liturgi, Kanisius 2011

disarikan oleh : Br. Robertus Koencoro, FIC