Reuni Bruder FIC 2025 diselenggarakan pada 27–28 Desember 2025 di Kompleks Don Bosko Semarang sebagai ungkapan syukur atas panggilan hidup bakti sekaligus sarana mempererat persaudaraan lintas generasi. Sejak pagi hari, para Bruder dan Frater (calon Bruder FIC) berkumpul dalam suasana akrab melalui pertemuan, rekreasi, dan olah raga persaudaraan. Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan yang sederhana namun bermakna, tempat cerita lama dan pengalaman hidup saling dibagikan, memperkuat rasa memiliki sebagai satu keluarga FIC.
Hari pertama ditandai dengan pembukaan resmi Perayaan Hidup Bakti dan Reuni FIC 2025, dengan ibadat, sharing, serta ungkapan profisiat bagi para Bruder yang merayakan hidup baktinya. Malam hari, suasana kebersamaan diperkaya dengan Pagelaran Wayang Wahyu “Ngajab Rahayu”, dengan lakon “Putri Piniji Maria Suci”, dengan dalang oleh Ki Dr. Antonius Bambang Suwarno dari Surakarta. Pertunjukan ini menghadirkan kekayaan budaya sebagai sarana pewartaan iman, sekaligus meneguhkan semangat persaudaraan dalam suasana yang hangat dan penuh syukur.
Hari kedua dilanjutkan dengan olah raga pagi, pemeriksaan kesehatan, serta acara kebersamaan bertema “Menghidupi Identitas FIC” di Aula SMA PL Don Bosko. Acara ini dipandu oleh Br. Andri Pratomo dan Br. Paulinus sebagai MC, diawali dengan pemutaran video refleksi tentang identitas FIC yang disiapkan oleh panitia. Pendalaman dan refleksi dipandu oleh Br. Theo Riyanto sebagai moderator, dengan memberi ruang pertama bagi para Bruder pestawan untuk berbagi pengalaman hidup bakti, kemudian diikuti oleh para Bruder dan Frater lainnya. Suasana semakin hidup dengan berbagai tampilan selingan dari Bruder Junior serta anak-anak dari sekolah Pangudi Luhur Perwakilan Semarang. Reuni dan Pesta Hidup Bakti ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Aria Dewanto, S.J., sebagai ungkapan syukur atas kesetiaan Allah yang menyertai perjalanan panggilan para Bruder, khususnya bagi Br. Venantius Sartana (70 tahun hidup bakti); Br. Nikolas Budiharjo dan Br. Anton Hadiwardaya (60 tahun hidup bakti); Br. Gregorius Suhadi; Br. Yohanes Triwuryanto; dan Br. F.X. Teguh Supono, (25 tahun hidup bakti); serta Br. Yohanes Albert Pratama; Br. Romanus Paryanto; dan Br. Agustinus Marsanto (12,5 tahun hidup bakti). Kebersamaan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama sebagai tanda persaudaraan yang terus ingin dipelihara.