Dunia pendidikan saat ini sedang mengalami perubahan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya. Teknologi digital bukan lagi sekadar tamu di dalam ruang kelas, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari para siswa. Menyadari tantangan ini, SMA PL St. Yosef Solo mengambil langkah nyata untuk memperkuat kapasitas para pendidiknya melalui pelatihan khusus bertajuk "Membekali Guru dengan Keterampilan Koding Dasar dan Etika Digital". Pelatihan ini bertujuan untuk menjembatani celah antara metode pengajaran konvensional dengan kebutuhan generasi masa depan yang serba digital.
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah pengenalan terhadap Artificial Intelligence (AI) melalui teknik prompting. Di masa lalu, mungkin ada kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan peran guru, namun melalui pelatihan ini, para guru justru belajar bagaimana menjadikan AI sebagai asisten pribadi yang cerdas. Para guru berlatih menyusun kalimat perintah atau prompt yang efektif agar AI dapat membantu meringankan beban administratif, seperti menyusun draf rencana pembelajaran atau mencari ide proyek kreatif yang sesuai dengan minat siswa. Dengan menguasai cara berinteraksi yang tepat dengan AI, guru dapat menghemat waktu dan memfokuskan kembali energi mereka untuk pendampingan emosional serta pengembangan karakter siswa di sekolah.
Selain itu, para guru juga diajak untuk terjun langsung ke dalam dunia koding dasar. Materi koding ini diberikan bukan untuk mencetak semua guru menjadi ahli komputer, melainkan untuk menanamkan cara berpikir komputasional atau computational thinking. Saat guru mencoba menuliskan baris kode sederhana, mereka sebenarnya sedang melatih logika untuk menyelesaikan masalah secara berurutan, teliti, dan sistematis. Pola pikir inilah yang nantinya akan ditularkan kepada siswa agar mereka tidak hanya menjadi penonton atau pengguna teknologi saja, tetapi juga mampu memahami logika di balik cara kerja dunia digital yang mereka gunakan setiap hari.
Menariknya, kecanggihan teknologi ini tidak dibiarkan berdiri sendiri, melainkan dikaitkan erat dengan metode Taksonomi Bloom. Para guru dibekali strategi untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu guna meningkatkan level berpikir siswa. Harapannya, siswa tidak hanya berhenti pada tahap menghafal atau memahami informasi mentah dari internet. Dengan bantuan koding dan AI, guru didorong untuk merancang tugas yang memicu siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, hingga menciptakan sesuatu yang baru. Teknologi diposisikan sebagai katalisator agar proses belajar menjadi lebih mendalam, kritis, dan inovatif.
Sebagai pelengkap yang paling mendasar, pelatihan ini juga menekankan pentingnya etika digital. Di tengah derasnya arus informasi, peran guru sebagai kompas moral menjadi sangat krusial. Guru di SMA PL St. Yosef Solo diharapkan menjadi teladan dalam menjaga kesantunan di dunia maya, menghormati privasi, serta bijak dalam menyaring berita. Integrasi antara keterampilan teknis koding, kecanggihan AI, dan keteguhan etika diharapkan mampu menciptakan ekosistem sekolah yang cerdas sekaligus berbudi pekerti. Melalui inisiatif ini, SMA PL St. Yosef Solo membuktikan komitmennya untuk mencetak generasi yang tidak hanya mahir teknologi, tetapi juga memiliki integritas tinggi dalam menghadapi masa depan.