Dirajam Kesenangan

Dirajam Kesenangan

Seri Kisah Pendiri

 

Pengalaman kesulitan, bahkan kegagalan dalam studi agaknya memberi pengalaman traumatis bagi Ludovicus Rutten. Setidaknya pengalaman itu praktis melenyapkan antusiasmenya untuk terus studi. Dukungan orang-orang di sekitarnya pun tidak mampu membangkitkan antusiasmenya. Rutten menulis, “Walaupun ayah saya serta beberapa kenalannya mendesak supaya saya menyelesaikan studi, namun saya meninggalkan kolese pada tanggal 20 Agustus 1827.”

Sebagai anak dari keluarga kaya, Rutten tetap mendapatkan aneka kegiatan untuk mengisi hari-harinya. Ia menulis, “Seperti halnya dengan anak-anak lain dalam keluarga saya, saya diberi kesempatan untuk belajar menunggang kuda, ikut pelajaran berdansa, dan menghadiri pergelaran musik.”

Kegiatan itu memang menyenangkan hidup Rutten. Tetapi, menurut Rutten sendiri, setelah ia refleksikan beberapa tahun kemudian, pola hidup seperti itu telah dengan sempurna menjerumuskannya ke dalam kesenangan duniawi.  

Pada refleksi Rutten itu kita membayangkan aktivitas-aktivitas yang sekilas menyenangkan itu justru merajam hakikat dirinya. Ingatlah kita pada hikmat Latihan Rohani Ignatian tentang pembedaan Roh (discernment). 

Agaknya roh jahat menggunakan aktivitas yang menyenangkan untuk memperdaya Rutten. Roh jahat terus menyodorkan kesenangan-kesenangan semu, hingga membuat Rutten terus membayang-bayangkan kenikmatan-kenikmatan dan kesenangan inderawi. Dengan cara itu roh jahat membuat Rutten tetap pada keadaan ketidakberdayaannya. Lalu ia terus berkembang dalam keyakinan diri bahwa ia tidak punya daya untuk menempuh cara hidup yang baik. (Pedoman Latihan Rohani/Ped. LR. 314)

Dari pengalaman hidup Rutten itu juga kita belajar bahwa memang benar intensi penghiburan yang diberikan oleh roh jahat agar jiwa seseorang terus diseret ke arah maksud jahat, kedurhakaan, dan kehancuran hidupnya. (Ped. LR. 331) Ini sungguh berlawanan dengan hiburan dari Roh baik. Hiburan Roh baik bertujuan demi kemajuan jiwa, supaya berkembang dan meningkat dari taraf hidup baik/bermutu/bermartabat kepada yang lebih baik/bermutu/bermartabat.

Mengapa pada periode itu Rutten terus terperosok hidupnya oleh aktivitas yang menyenangkan? Apakah roh jahat memanfaatkan kerapuhan jiwa Rutten yang kesulitan untuk bertekun? Apakah roh jahat mengeksploitasi kondisi jiwa Rutten dengan kepercayaan diri yang rawan akibat pengalaman traumatis psikologis di masa kanak-kanak karena kehilangan ibunya akibat kematian?

Bila ini benar, maka dari periode hidup Rutten itu kita belajar bahwa roh jahat akan masuk dan memperdaya kita lewat ruang rapuh kita. Roh jahat akan menawarkan kesenangan-kesenangan duniawi yang memikat yang cocok dengan kerinduan psikologis kita akibat jiwa yang rapuh akibat suatu pengalaman traumatis. Roh jahat tidak akan menawarkan emas kepada orang yang sedang kehausan.

Kecerdikan roh jahat memperdaya Rutten memang melumpuhkan otot-otot keutamaan hidup Rutten. Ia menulis, “Tetapi saya harus bekerja juga di sebuah kantor, supaya kelak saya akan mampu meneruskan perusahaan ayah saya. Selama beberapa bulan saya bekerja dengan rajin sebagai penulis di kantor. Tetapi karena tidak ada banyak kesibukan di situ, sedangkan saya enggan terus-menerus menulis surat tagihan kepada para warga kota dan petani, maka saya makin bosan melakukan pekerjaan itu. Saya lebih senang pergi berjalan bersama ayah ke rumah peristirahatan, dan lain-lain.”

Roh jahat tahu persis kecenderungan kurang unggul Rutten akibat kerapuhan jiwanya. Karenanya roh jahat terus menawarkan kesenangan. Dan bersamaan itu juga terus membangun gugus nalar dalam angan Rutten agar cepat bosan melakukan aktivitas yang sebenarnya bagus untuk hidupnya. Pada cara seperti itu, sesungguhnya roh jahat sedang merajam Rutten dengan aktivitas-aktivitas yang menyenangkan.