Ruang Rapuh Masa Kanak-kanak Rutten

Ruang Rapuh Masa Kanak-kanak Rutten

Ketika Ludovicus Rutten berumur 7 tahun, ibunya meninggal. Lalu ia diasuh dan dididik oleh neneknya. Neneknya mendidik dengan baik, penuh cinta kasih dan pengabdian. Ia juga mendapat pendidikan iman yang baik.

Nalarnya, kematian ibunya di usia anak-anak itu menimbulkan trauma psikologis dan emosi. Menurut tokoh psikologi Jhon Bowbly, kehilangan orang tua pada masa anak memengaruhi pembentukan mutu ikatan emosional dan dapat berdampak pada kesehatan mentalnya.

Mengikuti Erik Erikson, trauma psikologis karena kehilangan orang tua pada masa anak-anak akan memengaruhi perkembangan psikologis tahap “percaya versus tidak percaya” dan “otnomi versus malu dan ragu”. Anak dengan pengalaman trauma kehilangan orang tua bisa mengalami gangguan pembentukan kepercayaan dan otonominya.

Pengalaman masa kecil Rutten yang kehilangan ibunya akibat kematian membentuk ruang rapuh dalam dunia batinnya. Pada bulan Oktober 1821 Rutten masuk sebuah sekolah untuk golongan elite di Maastricht. Tahun pertama sekolah dilalui Rutten dengan sungguh-sungguh. Ia berhasil dengan baik. Karenanya Rutten mendapat hadiah atas prestasinya itu.

Sayang, tahun kedua prestasinya merosot. Di tahun kedua, Rutten lebih asyik dengan mainan dari hadiah-hadiah yang ia terima. Tahun ketiga prestasinya semakin merosot. Akhirnya Rutten hanyalah siswa biasa-biasa saja.

Dinamika studi awal Rutten yang mengalami turbulensi itu membuatnya tidak antusias lagi untuk studi. Kata Rutten, “Satu-satunya yang masih saya harapkan yaitu: kelak menjadi seorang pengurus kebun anggur atau pengelola perusahaan anggur dan bir, seperti ayah saya yang tercinta. Akibat semua angan-angan itu, yakni ketika saya telah sampai akhir kelas empat, saya tidak mau lagi meneruskan studi saya.”

Kisah studi awal Rutten menggambarkan kondisi psikologis Rutten yang kurang kokoh. Sekali lagi, mengikuti teori psikologi, itu disebabkan oleh pengalaman trauma psikologis akibat kehilangan ibu karena kematian. Rutten harus berjuang untuk konsisten. Di kemudian hari, tampaklah bahwa antusiasmenya kadang meledak-ledak, namun juga tiba-tiba melemah.

Pada kisah Rutten di masa kanak-kanak itu kita seperti melihat potret kehidupan. Kadang kita tidak bisa menolak realitas ketika kehidupan membentuk kita dalam kerapuhan. Tidak ada yang salah, tidak ada yang bisa disalahkan. Kita hanya bisa menerima. Tetapi, dalam ruang jiwa yang rapuh itu, toh Allah tetap menggunakan kita; toh Allah tetap menitipkan benih keilahian pada sanubari kita.

Selanjutnya, kitapun sering harus berjuang, dengan kekecewaan, bahkan mengutuki diri, gara-gara gagal konsisten hidup dalam kebaikan dalam merawat benih keilahian dari Tuhan. Itulah misteri hidup. Itulah misteri orang-orang terpanggil.

Bagi para Bruder FIC, merenungkan sepenggal kisah Rutten di masa kecilnya, seperti ajakan untuk tinggal di gua jiwanya yang rapuh, dengan pendar cahaya Allah. Ada kehangatan keilahian yang samar. Para Bruder diajak untuk terus bertahan dan mensyukuri pendar cahaya, dan kehangatan keilahian yang samar itu. Cukuplah itu untuk bekal bertekun dan setia.