Ludovicus Hubertus Rutten, Sang Bejana Tanah Liat

Ludovicus Hubertus Rutten, Sang Bejana Tanah Liat

Ludovicus Hubertus Rutten, imam dari Maastricht pendiri Kongregasi Para Bruder Santa Perawan Maria yang Terkandung Tak Bernoda atau Para Bruder FIC, adalah Sang Bejana Tanah Liat yang mewadahi benih surgawi.

Kondisi ‘bejana tanah liat’ pada diri Rutten sudah terbentuk ketika di masa anak-anak ditinggal mati ibunya. Waktu itu usia Rutten masih tujuh tahun. Beberapa teori psikologi saat ini menegaskan bahwa pengalaman kehilangan orang tua di masa anak-anak, salah satunya karena kematian, akan menimbulkan trauma psikologis.

Beberapa dampak yang bisa terjadi adalah trauma emosional. Kehilangan orang tua itu bisa menjadi pengalaman traumatis bagi anak-anak. Mereka bisa mengalami rasa kehilangan yang dalam, kesedihan dan kecemasan yang mendalam.

Dampak lain adalah anak mengalami kecemasan dan depresi. Perasaan kehilangan karena kehilangan orang tua yang tidak terkelola dengan baik bisa memicu terjadinya gangguan mental. Anak yang kehilangan orang tua juga bisa mengalami kesulitan dalam pembentukan identitas. Kehilangan orang tua dapat merusak konsep diri dan citra diri mereka.

Beberapa tokoh membahas tentang dampak kehilangan orang tua pada anak-anak. Jhon Bowlby yang dikenal dengan teori attachment atau teori ikatan mengamati pentingnya ikatan emosional anak dengan figur pengasuhnya, terutama ibu. Bagi Bowlby kehilangan orang tua pada masa anak memengaruhi pembentukan mutu ikatan emosional dan dapat berdampak pada kesehatan mentalnya.

Mengikuti pemikiran Erik Erikson, trauma psikologis karena kehilangan orang tua pada masa anak-anak akan memengaruhi perkembangan psikologis tahap “trust versus mistrust” – “percaya versus tidak percaya” dan “autonomy versus shame and doubt” – “otnomi versus malu dan ragu”. Anak dengan pengalaman trauma kehilangan orang tua bisa mengalami gangguan pembentukan kepercayaan dan otonominya.

Mengikuti teori psikologi di atas, Rutten yang mengalami kehilangan ibunya di masa balita, nalarnya juga mengalami gangguan pertumbuhan kecenderungan emosi, intimitas relasi emosi (attachment) dengan orang lain, pembentukan konsep diri, juga pola relasi dengan orang lain dalam hal otonomi diri dan dan pembentukan kepercayaan diri serta kemampuan mempercayai dan dipercaya oleh orang lain.

Kondisi-kondisi psikologis seperti membentuk kecenderungan merasa, berpikir, dan bertindak Rutten. Hal ini terbukti pada kisah studinya di masa anak-anak, pengalamannya magang kerja di kantor, juga setelah ia menjadi imam dalam hal mewujudkan proyek-proyek serta dalam membangun kerjasama dengan para bruder, khususnya dengan Br. Bernardus Hoecken.

Pasang surut kehidupan, keberhasilan dan kegagalan, antusiasme yang berkobar dan perasaan ketidakberdayaan, adalah dua kutub dinamika hidup yang senantiasa mewarnai hidup Rutten sejak masa kanak-kanak hingga pada periode akhir hidupnya di Thienen.

Meski faktanya eksistensi Rutten itu laksana bejana tanah liat, namun pada diri Rutten yang rapuh itu Allah memercayakan karya kasih-Nya. Dimulai dari serambi Gereja St. Servastius, karya amal bakti Rutten terus berkembang. Banyak orang ditolong. Bahkan sebuah kongregasi bruder yang berusia ratusan tahun dengan jumlah anggota ratusan bruder lahir darinya pula.

Realitas hidup Rutten sepertinya menerjemahkan dengan jernih kesaksian St. Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus (2Kor 4:5-7,10). “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga.”

Maka, merenungkan sosok Rutten itu merenungkan karya Allah dalam diri yang rapuh. Dari sisi manusiawi, kalau Rutten tetap tekun dan setia hingga akhir hayatnya merawat benih dari Allah, tentu Rutten berjuang sangat hebat mengelola kerapuhannya. Sejarah hidup Rutten, khususnya pengalaman kehilangan di masa anak-anak, sesungguhnya membuat Rutten tidak memiliki kondisi yang cukup untuk mewadahi benih Ilahi. Dan itu terbukti dari aneka kesulitan yang dialami Rutten dalam mewujudkan proyek amal kasihnya bersama para bruder. Dan yang paling tegas tampak pada periode tahun-tahun akhir hidupnya selama 20 tahun yang berat itu.

Hidup Rutten adalah kesaksian perjuangan dan komitmen manusia rapuh yang tekun dan setia menjadi wadah benih keilahian, menjadi rekan Allah dalam menghadirkan karya kasih-Nya. Pada kesadaran itu pula tampaklah bahwa kesempurnaan Rutten adalah melulu karena kasih Allah.

Pada sosok Rutten Nampak teranglah refleksi hidup St. Paulus, “Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus. Sebab Allah yang telah berfirman: ‘Dari dalam gelap akan terbit terang!’, Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.”

(Br.Sidharta FIC)