Meruangkan Kemakmuran

Meruangkan Kemakmuran

Seorang sahabat mengirimi baju sebagai hadiah kepada Bruder Makmur. Karena sudah lama tidak berjumpa, sang sahabat tidak tahu pasti ukuran baju yang pas untuk Bruder Makmur. Maka ia mengirimkan dua ukuran yaitu ukuran L dan XL.

“Cukup atau tidak ukuran baju itu untuk Bruder?” tanya sang sahabat via Whatsapp. “Semoga cukup dan bisa digunakan dengan nyaman.”

Bruder Makmurpun merespon, “Ya harus diusahakan cukup untuk kondisi badanku. Kalau tidak cukup, entah bagaimana caranya aku harus membuat baju itu cukup untuk tubuhku. Ha ha ha ha.”

Setelah bingkisan dibuka, ternyata baju yang dikirimkan itu kekecilan, dua-duanya. Memang, tubuh si Bruder Makmur telah membesar, makin gemuk. Menyadari kondisi ini, Bruder Makmur bertekat untuk mengecilkan badannya, mengurangi berat badannya hingga baju-baju yang dikirimkan dengan tulus dan kasih itu bisa dikenakan dengan nyaman.

Selanjutnya Bruder Makmur berjuang menurunkan berat badannya dan mengecilkan ukuran tubuhnya. Caranya dengan berolah raga dan membatasi konsumsi makanan tertentu. Untuk ini Bruder Makmur harus berolah raga keras, konsisten, dan tekun. Itulah usaha agar baju kemakmuran itu bisa dikenakan pada tubuhnya.

Kisah Bruder Makmur adalah kisah yang lumrah. Namun, dari yang lumrah itu ada pesan yang penting dalam hidup kita hari-hari ini. Saat ini banyak orang dan institusi yang mengeluh kesulitan hidupnya. Seolah-olah tiada penolong untuk mengeluarkan seseorang atau institusi dari kesulitan hidupnya. Bahkan ada yang merasa Tuhan tidak lagi hadir memberikan pertolongan.

Dari salah satu perspektif memahami kisah Bruder Makmur, barangkali pertolongan selalu ditaburkan oleh alam semesta, oleh Tuhan kepada manusia atau institusi. Namun, seperti kondisi Bruder Makmur, manusia atau institusi yang mengeluh kesulitan dengan hidupnya tidak siap meruangkan pertolongan dari Tuhan. Kalau baju tidak bisa masuk di tubuh yang kebesaran, maka mungkin juga ada kondisi-kondisi pada seseorang atau institusi yang sepadan dengan kondisi “kegemukannya Bruder Makmur”.

Kalau Bruder Makmur memilih berolah raga keras dan disiplin agar baju kemakmuran hadiah dari sahabatnya itu bisa muat di badannya, barangkali kita atau institusi kitapun harus bekerja keras menemukan hal-hal atau kondisi apa saja yang membuat kita “kegemukan”, sehingga kemakmuran yang dianugerahkan Tuhan dan alam semesta tidak bisa dimanfaatkan, bahkan ditolak dan dibuang percuma.

Apa hal-hal atau kondisi yang membuat seseorang atau institusi “kegemukan”?

Mungkin cara hidup kita, mungkin selera kita, mungkin kesibukan kita, mungkin kriteria-kriteria hidup kita, mungkin kerewelan kita, mungkin harapan-harapan kita. Gusti mboten sare, Tuhan tidak pernah tidur hingga melupakan kita; tetapi kemauan kita seringkali tidak klop dengan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Ilustrasi refleksi di atas senada dengan kisah di Kitab Suci tentang pemuda kaya yang hendak mengikuti Yesus. Kisah tersebut erat kaitannya dengan kelekatan yang susah ditinggalkan. Dalam menapaki panggilan sebagai religius bruder dituntut untuk memiliki orientasi hidup yang baru dengan konsekwensi meninggalkan orientasi pribadi termasuk kelekatan akan hal-hal duniawi.

Pemuda kaya karena keraguannya urung untuk mengikuti Yesus karena merasa keberatan meninggalkan semua hartanya. Namun realita yang ada saat ini, ada pribadi yang memutuskan mengikuti Yesus tetapi masih menghidupi gaya hidup pribadinya, dan kesulitan untuk menanggalkannya. Apa efek yang mengikutinya? Beberapa pribadi pengikut Yesus terbiasa dengan pemenuhan akan hasrat, hobi, keinginan pribadi yang membahayakan diri dan panggilannya yang berpeluang juga merugikan institusi karena pola hidup yang salah tanpa dibarengi niat untuk mengendalikan diri.

Kemakmuran adalah salah satu dari sekian buah dalam mengikuti Yesus. Namun demikian anugerah itu harus kita terimadengan “sakmadyo” atau sewajarnya, tidak berlebih. Salah satu caranya yaitu dengan pengendalian diri.