Renungan Harian Februari 2024

 

1 Februari, KAMIS, Markus 6:7—13

 

Semangat Pengutusan Bersama

 

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, roti pun jangan, bekal pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan,.." (Mark. 6:7—8)

"Ut omnes unum sint: Supaya mereka semua menjadi satu" (Yoh 17 : 21), demikian doa Yesus. Sejak semula, Yesus menegaskan nilai kebersamaan dan persatuan. Tanpa nilai-nilai di atas niscaya perpecahan, kemelut internal dan konflik interest akan bertumbuh subur. Komunitas atau hidup persekutuan tanpa spirit persatuan akan hancur dan berantakan. Yesus mengutus murid-Nya berdua-dua. Yesus mengutus mereka setelah Ia mengalami penolakan di tempat asal-Nya Nazaret. Namun meskipun ditolak, Yesus tetap gigih melanjutkan karya misi pewartaan-Nya. Ia bekerjasama dengan para murid. Ia mengutus mereka pergi berdua-dua. Bahwasannya melaksanakan tugas  perutusan di tengah dunia itu tidak mudah. Banyak godaan dan tantangan. Para murid perlu berjalan bersama, bekerja sama, saling meneguhkan dan berbagi dalam pelayanan. Hindari mengandalkan diri sendiri, percaya akan penyertaan Tuhan.

 

Tantangan pelayanan dan perutusan kita hari ini adalah lahirnya godaan untuk berjalan sendirian. Kesendirian dapat berarti kemandirian tetapi juga dapat menjadi sebuah godaan berjalan dan mengandalkan kekuatan sendiri. Hasilnya pun dapat direka. Kita bisa melihat pe-ngalaman kita sendiri dalam melaksanakan tugas perutusan kongregasi. Namun yang perlu disadari bahwa Yesus selalu mendoakan persatuan para murid-Nya.  

 

Semua bruder dengan cara bagaimanapun terlibat dalam tugas kerasulan kita bersama, dan dalam memenuhi tugas kita, kita perlu mengandalkan dukungan persekutuan.” (Konst. FIC art. 26).

Refleksi

Apakah aku dalam menjalankan tugas pengutusan lebih banyak berjalan sendirian atau bersama?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus Kristus, Engkau meng-hendaki kami untuk menjalankan tugas pengutusan secara bersama-sama. Tolonglah kami dengan Roh Kudus-Mu, agar kami selalu memperjuangkan semangat persekutuan dalam melaksana-kan tugas perutusan kongregasi. Amin.

 

Pengutusan

Merefleksikan: apakah di dalam menjalankan tugas perutusan, saya lebih didominasi berjalan sendirian atau bekerja sama (mengandalkan persekutuan)?

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Stanislaus Kostka, Ambarawa:

  1. Br. Antonius Sumardi
  2. Br. Frans Sugi

 

 

 

 

  1. Br. Markus Sugiyanto
  2. Br. Andreas Djoko Purnomo
  3. Br. Gregorius Anggara Tadon

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2 Februari, JUMAT, Lukas 2:22—32

 

Belajar Dari Simeon

 

Ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya: "Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, (Luk. 2: 28—29).

 

Dikisahkan dalam Injil Lukas bahwa Simeon datang ke Bait Allah untuk berjumpa dengan bayi Yesus dibimbing atau digerakan Roh Kudus. Usianya sudah tua. Melalui Roh Kudus dinyatakan kepadanya bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat mesias. Simeon dalam hidup selalu menantikan Tuhan. Dia digambarkan orang yang benar dan saleh, Roh Kudus menyertai dia. Ketika “bayi Yesus” dibawa masuk oleh orang tuanya, “ia menyambut anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah”. Kisah yang menampilkan kepenuhan hidup Simeon. Gambaran identitas pribadi yang hidup spiritualnya mencapai puncak. Ia mengalami kebahagiaan yang mendalam yang tak dapat dilukiskan dengan bahasa manusia. Simeon sadar bahwa di hadapannya adalah Mesias yang dicari dan dirindukan sejak lama. Ia maju aktif menyambut, menatang sang mesias, dan mengucapkan syukur atas peristiwa itu. Simeon pun siap untuk “pergi” (mati) karena ia sudah berjumpa dengan Sang Mesias.

 

Kiranya kisah hidup Simeon, kepenuhan hidup spiritualnya menjadi inspirasi bagi kita. Marilah kita belajar dari Simeon sembari kita juga bertanya atau bercermin kepada diri kita sendiri, apakah aku juga memiliki sikap seperti Simeon yang dalam hidupnya selalu mencari dan ingin berjumpa dengan Mesias? Yang selalu membuka diri akan bimbingan Allah melalui Roh Kudus? Apakah kita juga  punya kerinduan seperti Simeon?.

 

Kita percaya bahwa seluruh hidup kita ditopang oleh Allah yang berpribadi, Allah yang merangkul kita dan semua orang serta segala yang ada, Allah yang adalah kasih. (Konst. FIC art. 2).

 

 

Refleksi

Apa yang dapat aku pelajari dari Simeon bagi pertumbuhan hidup rohaniku?

 

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, semoga pengalaman Simeon menginspirasi hidup rohani kami, agar kami pun selalu membuka diri kepada Allah melalui Roh Kudus, dan selalu mencari dan menantikan Tuhan. Amin.

 

Pengutusan

Implementasi konkret karakter Simeon yang menanti (selalu merindukan) Mesias dalam hidup komunitas dan karya!

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas  Annunciata, Rumah Retret Syalom, Bandungan:

  1. Br. Albertus Hariyadi
  2. Br. Antonius Karyadi
  3. Br. Yoezep Margiyanto
  4. Sr. M. Ambrosia, AK
  5. Sr. M. Agnesia, AK

 

 

3 Februari, SABTU, Markus 6:30—34

 

Tinggalkan Zona Nyaman

 

Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka. (Mrk. 6:33—34).

Biasanya setelah berativitas panjang, badan lelah. Oleh karena itu  menyenangkan bila ada waktu untuk mengistirahatkan diri. Saat beristirahat, rasanya enak bila tidak ada gangguan dari siapa pun. Dalam situasi itu, kenyamanan kita terganggu ketika ada yang datang ingin berjumpa dengan kita. Ini juga yang dialami oleh Yesus dan para murid-Nya yang melakukan pekerjaan seharian, bahkan mereka tidak sempat makan dan beristirahat. Tentu saja mereka mengalami kelelahan. Melihat hal itu Yesus mengajak para murid untuk mencari tempat sunyi, tempat menyenangkan untuk beristirahat sejenak.  Namun ternyata mereka juga diikuti oleh banyak orang yang ingin mendengarkan Yesus. Saat melihat orang banyak itu, hati Yesus tergerak oleh belas kasihan. Ia tahu bahwa itulah saat yang terbaik untuk mengajar mereka karena mereka seperti domba tak bergembala. Tidak terasa hari sudah mulai malam, padahal mereka semua belum makan. Maka terjadilah mukjizat lima roti dan dua ikan menjadi ribuan roti dan ikan.

 

Yesus meninggalkan kenyamanan-Nya dan menerima kehadiran banyak orang. Mereka yang datang kepada-Nya merasakan berkat. Sebagai pengikut Yesus, bersediakah kita meneladani Dia meninggalkan kenyamanan untuk memberikan diri bagi yang membutuhkan?

 

Kita bercita-cita menyediakan diri sepenuhnya menurut teladan Yesus: semua kemampuan fisik dan mental, bakat dan keahlian, waktu dan tenaga, inisiatif, kreativitas dan pengalaman hidup. (Konst. FIC art. 80).

 

Refleksi

Apa yang aku sadari sebagai zona nyamanku?

 

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, semoga kami selalu peka akan keteladanan hidup Yesus yang berani keluar dari zona nyaman demi kebahagiaan dan keselamatan sesama. Amin.

 

Pengutusan

Mengenal dan berani keluar dari zona nyaman.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Servatius, Kampung Sawah, Bekasi:

  1. Br. Yosef Anton Utmiyadi
  2. Br. Christianus Eko Wahyudi

 

 

4 Februari, MINGGU, Markus 1:29—39

 

Sukacita Dalam Pelayanan

 

Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan. Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia. Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. (Mrk 1:33—35).

Yesus melakukan pelayanan sepanjang hari. Dimulai dari mengajar di rumah ibadat, mengadakan kunjungan dari rumah ke rumah, dan mengunjungi ibu mertua Petrus yang sakit demam. Baru istirahat sebentar, ketika malam tiba, banyak orang datang kepada-Nya dengan membawa orang-orang sakit dan kerasukan setan. Yesus tetap melayani mereka dengan baik dan penuh kasih. Sesudahnya, Yesus beristirahat dan pagi-pagi buta Ia sudah bangun untuk mencari tempat yang sunyi untuk berdoa. Yesus mengerjakan semua tugas dengan tuntas. Tak berhenti di situ, Yesus dan murid-murid-Nya kemudian berjalan ke seluruh Galilea untuk memberitakan Injil. Sungguh pekerjaan yang sangat melelahkan. Secara fisik, Yesus pasti lelah. Namun, Yesus merasa puas dengan semua yang dikerjakan-Nya, karena Ia ingin menyelesaikan kehendak Bapa-Nya.

 

Pekerjaan bertumpuk-tumpuk, tanggung jawab dan tugas tak terduga lain membuat lelah bukan hanya tubuh, tapi juga emosi kita. Mungkin juga kita meninggalkan hidup doa dan hidup bersama karena banyak pekerjaan. Yesus memberi teladan bagi kita bagaimana cara mengatasinya: Bekerjalah seperti kita melakukannya untuk Tuhan, kerjakan dan layani saja dengan baik. Ketika kita bekerja dan melayani dengan kasih, maka kelelahan kita akan terobati dengan kepuasan karena telah menyelesaikan apa yang Tuhan percayakan.

 

Seorang manusia lebih bernilai daripada pekerjaan yang dapat ia selesaikan. Apa yang kita kerjakan memang penting. Tetapi “diri kita” justru amat bernilai. (Konst. FIC art. 30).

 

Refleksi

Apakah aku pernah merasa lelah dalam melayani baik fisik maupun mental (emosional)?

 

Doa (bersama)

Allah Bapa yang mahakasih, semoga melalui Roh Kudus, kami dimampukan untuk tak kenal lelah dalam melayani serta hanya dipersembahkan untuk kemuliaan Allah saja.  Amin.

 

Pengutusan

Merefleksikan apa yang membuatku lelah dalam melayani baik fisik maupun mental!

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Bernardus, Deltamas, Bekasi:

  1. Br. Arnorldus Masdiharja
  2. Br. Antonius Hardianto
  3. Br. Markus Sujarwo

5 Februari, SENIN, Markus 6:53—56

 

Belas Kasih Tuhan

 

Ke manapun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan hanya menjamah jumbai jubah-Nya saja. Dan semua orang yang menjamah-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:56).

 

Kisah Injil hari ini, kita mendapatkan kesan bahwa Yesus sudah menjadi selebritas. Ia dikenal oleh banyak orang sehingga banyak orang berbondong-bondong ingin berjumpa dengan Dia. Pewartaan-pewartaan Yesus sebelumnya, kisah-kisah mukjizat seperti memberi makan 5000 orang, Yesus berjalan di atas air, nampaknya membuat orang banyak semakin percaya akan Yesus.  Maka banyak  orang-orang kota dan desa, membawa saudara-saudaranya yang sakit kepada-Nya untuk disembuhkan. Kemana pun Ia pergi hal itu terjadi, termasuk ketika berada di pasar-pasar. Ia tidak menyembuhkan orang sakit di rumah-rumah ibadat. Manakala Ia tidak sempat menyapa mereka yang sakit, mereka memohon kepada-Nya agar diperkenankan menjamah jumbai jubah-Nya. Dan semua orang sakit yang menjamah jumbai jubah-Nya menjadi sembuh.

 

Kisah-kisah pelayanan Yesus kepada mereka yang sakit, lapar, miskin menunjukan Yesus berkarya menyatakan belas kasih-Nya. Iman kepada-Nya membuat mereka yang sakit menjadi sembuh walaupun hanya menjamah jumbai jubah-Nya. Apa maknanya bagi kita? Sebagaimana orang-orang itu menjadi pulih dari sakit-Nya karena iman, kita juga diajar untuk beriman kepada-Nya. Iman mendatangkan rasa aman dan pemulihan.

 

Semangat Kerasulan kita meresapi hidup persaudaraan, doa dan penghayatan triprasetia kita. (Konst. FIC art. 34).

 

Refleksi

Apakah aku termasuk bruder yang populer atau dikenal oleh banyak orang? Mengapa?

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, semoga melalui semangat pelayanan dan kesaksian hidup, nama-Mu semakin dikenal dan dimuliakan banyak orang. Amin.

 

Pengutusan

Merefleksikan semangat hidup bersama dan pelayanan yang menunjukan bahwa hidupku mewartakan Injil, agar Tuhan semakin dikenal banyak orang. 

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Staf Rumah Khalwat Roncalli, Salatiga: 

  1. Br. Petrus Anjar Trihartono, FIC 
  2. Br. Redemptus Lastiya, FIC 
  3. Br. Anton Sumardi, FIC 
  4. P. Aloy. Rinata Hadiwardaya, MSF 
  5. Br. Petrus Suparyanto, FIC
  6. Br. Florentius Widyo Rijanto, FIC

6 Februari, SELASA, Markus 7:1—13

 

Tradisi

 

“Jawab Yesus kepada mereka, "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia.  Perintah Allah kamu abaikan untuk berpegang pada adat- istiadat manusia." (Mrk.7:68).

 

Hari ini, Yesus mengkritik orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat. Mereka lebih mengutamakan tradisi daripada Allah. Mereka menomorsatukan tradisi dan menomorduakan Tuhan. Itulah yang dikecam Yesus.

 

Secara praktis, kita juga bisa terjebak dalam farisisme. Rutinitas yang mentradisi menjadikan hidup kita seperti mesin tanpa hati. Segala aktivitas, kita kerjakan karena sudah menjadi rutinitas, mentradisi. Kita memiliki banyak rutinitas pribadi, termasuk aktivitas doa dan liturgi bisa menjadi sekadar tradisi. Allah tidak ada di sana. Allah telah mati di hati penghayat hidup bakti.

 

Karenanya, konstitusi kita menegaskan pentingnya melibatkan Allah dalam tugas kerasulan kita:“Tanggung jawab kerasulan kita akan menjadi lebih kaya dan berakar mendalam, jika disediakan waktu yang cukup  untuk  berefleksi  dan  berdoa….”

(Konst. FIC art. 29).

 

Refleksi

Di manakah Tuhanku dalam hidupku sehari-hari?

 

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, dari waktu ke waktu, Engkau membukakan diri dengan pengantaraan para nabi. Lewat para pencari Allah, dari sufi hingga para mistisi, Engkau hadir dalam ragam bahasa duniawi. Sentuhan, bisikan, kehadiran-Mu menenteramkan hati, menembus batas-batas tradisi. Tambahlah kelembutan dan kepekaan di dalam hati kami, untuk mengalami kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Amin.

 

Pengutusan

Tetap setia menyediakan waktu bagi diri sendiri diam bersama dengan Allah.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Bunda Terkandung Tak Bernoda, Boro:

  1. Br. Marianus Sumardiyana
  2. Br. Marcelinus Senen
  3. Br. Bonifasius Kasmo
  4. Br. Ludgerus Haryono Widodo
  5. Br. Yohanes Sinu
  6. Br. Bambang Tri Margono, OFM

 

7 Februari, RABU, Markus 7:14—23

 

Kemurnian Hati

 

"Tidak dapatkah kamu memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya,  karena tidak masuk ke dalam hati, melainkan ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian, Ia menyatakan semua makanan halal.  Kata-Nya lagi, "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (Mrk. 7:14—23).

 

Yesus menyoal kejujuran dan kemurnian hati. Lebih khusus lagi, soal sikap terhadap kodrat ciptaan. Ia mengajarkan bahwa bukan karena kodratnya, alam ciptaan menjadi baik atau jahat, halal atau haram, melainkan karena sikap hati.

 

Yesus mengharapkan kita, agar memiliki hati yang jujur dan murni. Kejujuran dan kemurnian hati menjadikan lebih terbuka, tidak menyembunyikan sesuatu bagi diri sendiri. Juga menjadikan konsisten akan satunya kata dan perbuatan. Kejujuran dan kemurnian hati adalah dasar kedamaian kita.

 

“Doa yang jujur menuntut kasih yang jujur terhadap sesama, menuntut kasih dalam tindakan nyata. Dengan demikian, doa kita akan disuburkan oleh tugas pengutusan kita, dan akan mengobarkan semangat kerasulan kita.”(Konst.FIC art. 61).

 

Refleksi

Sikap tidak jujur biasanya tidak berdiri sendiri. Artinya, ketidakjujuran itu berakar pada sesuatu yang lain, kebutuhan-kebutuhan tertentu. Jika aku pernah tidak jujur dalam hidup ini, manakah persisnya penyebab yang paling dasar?

 

 

 

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, murnikanlah hati kami, agar mampu memandang kebesaran anugerah-anugerah-Mu dan mensyukurinya setiap waktu. Amin.

 

Pengutusan

Melatih sikap jujur terhadap diri sendiri. Misalnya, kalau malu, katakanlah kepada diri sendiri, kalau aku sedang dirundung rasa malu.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Perawan Maria, Bunda Allah, Wedi:

  1. Br. Yohanes Sumardi
  2. Br. Adrianus Sulistyo K.P.
  3. Br. Agustinus Anton Widyanto

 

8 Februari, KAMIS, Markus 7:24—30

 

Perempuan Siro-Fenisia

 

“Yesus berkata kepadanya, "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing."  Tetapi perempuan itu menjawab, "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."  Maka kata Yesus kepada perempuan itu, "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang, sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."  Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar." (Mrk. 7:27—30).

 

Perempuan Siro-Fenisia yang disebut dalam ayat 26 itu, juga disebut orang Kanaan (Khananaia), karena penduduk awal Fenisia adalah keturunan Kanaan. Akhirnya, Kanaan khususnya digunakan untuk Fenisia. Ia juga disebut orang Yunani. Mungkin, ia keturunan orang Yunani.

Perempuan Siro-Fenisia itu menghampiri Yesus, berulang-ulang memohon, agar Dia mengusir roh jahat dari anak perempuannya. Awalnya, Yesus menolak. “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing!” Bagi orang Yahudi, anjing (liar) adalah binatang menajiskan. Dalam percakapan ini, Yesus menyamakan dia dengan anjing-anjing kecil yang dipelihara di rumah. Itu suatu batu ujian bagi perempuan. Dengan rendah hati ia mengakui, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” Kata-katanya mencerminkan imannya yang besar. Karenanya, anak perempuannya disembuhkan.

 

“Lama-kelamaan, doa akan semakin berupa hanya tinggal dalam kehadiran Allah melalui iman, harapan, dan kasih.” (Konst. FIC art. 66).

 

Refleksi

Bagaimanakah aku sebagai bruder mengembangkan ketiga keutamaan teologal Gereja ini : iman, harapan, dan kasih?

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, syukur bahwa pada hari ini kami belajar beriman dari perempuan Siro-Fenisia. Ketabahannya dalam menghadapi ujian, dan kedalaman imannya akan kuasa-Mu yang menyembuhkan, menginspirasi kami untuk meneladani imannya. Tambahlah iman kami kepada-Mu. A m i n.

 

Pengutusan

Mengupayakan sikap batin terbuka, untuk mendengarkan dan melakukan kehendak Roh dalam iman yang teguh.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Paulus, Kembangan, Jakarta Barat:

  1. Br. Anton Marsudiharjo
  2. Br. Heri Sumardjo Bekti Kristana
  3. Br. Yohanes Sudarman
  4. Br. Valentinus Pardi
  5. Br. Laurentius Baharu

 

9 Februari, JUMAT, Markus 7:31—37

 

Efata

 

"Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit,  Yesus menarik napas  dan berkata kepadanya, "Efata!", artinya, Terbukalah!  Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu, terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik.(Mrk. 7:33—35).

 

Peristiwa Yesus menyembuhkan orang tuli, hanya Markuslah yang mengisahkannya. Diceritakan, Yesus melewati Tirus dan Sidon, sebelum Ia tiba di Galilea, daerah Dekapolis.  Orang-orang Tirus dan Sidon dianggap tak menghiraukan sisi-sisi rohani dan hanya mementingkan materi. Namun wilayah seperti itu tidak dilupakan Tuhan, malah Ia semakin menemukan diri-Nya di sana.

 

Kisah penyembuhan orang tuli ini lebih menarik jika dibaca bersama dengan kisah penyembuhan orang buta di Betsaida (Mrk. 8:22—26). Sebab, kesembuhan si tuli dan si buta ini ada makna simboliknya. Perjumpaan dengan Yesus sang peziarah ini, membuka gerbang telinga dan pintu mata. Ketulian sesenyap apa pun dan kebutaan segelap apa pun, tak bisa menahan suara dan terang yang keluar dari diri Yesus. Kesembuhan mereka itu ialah kesembuhan dari ketulian dan kebutaan mengenai siapa Yesus sebenarnya.

 

Mengenai Yesus, Konstitusi kita menegaskan: “… Jika Allah tidak mewahyukan diri-Nya, Ia tetap tak dapat kita bayangkan. Kita percaya bahwa Ia telah mewahyukan diri-Nya. Dalam Yesus dari Nazaret, kita melihat citra Allah yang hidup. Dalam Yesus dari Nazaret, Allah adalah manusia bersama kita.”

(Konst.FIC art. 3).

 

Refleksi

Sudahkah peristiwa-peristiwa hidupku, lebih-lebih peristiwa yang tidak mengenak-kan, memahitkan, mengkrisiskan, menjadi kesempatan untuk mengalami secara lebih dalam, kehadiran Allah secara pribadi?

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, kesombongan kami sering menutup mata dan telinga kami, sehingga hanya samar-samar mendengar Sabda dan melihat kehadiran-Mu di dalam setiap peristiwa hidup kami. Ajarilah kami untuk semakin mampu membuka telinga dan mata, sehingga semakin mengalami kehadiran-Mu yang menyelamatkan. Amin.

 

Pengutusan

Membiasakan diri untuk mendengarkan (suara hati) dan melihat peristiwa-peristiwa hidup dengan mata Allah (iman).

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Maria Ratu Kenya, Danan, Giriwaya:

  1. Br. Petrus Paijan
  2. Br. Heribertus Triyanto
  3. Br. F.A. Teisianus Leonardo

10 Februari, SABTU, Markus 8:1—10

 

Daya Ilahi

 

“Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu, Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak.  Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa,  sebanyak tujuh bakul." (Mrk. 8:6—8).

 

Markus mengkisahkan Yesus meng-gandakan tujuh roti untuk memberi makan empat ribu orang, dan akhirnya masih tersisa tujuh bakul. Apa arti sisa yang sebanyak itu? Tentu bukan sekadar menunjukkan bahwa sisanya melimpah dan cukup bagi siapa saja. Ada saran tersamar bagi mereka yang telah memerolehnya, agar juga membawakan bagi mereka yang belum ikut menikmati.  Diajarkan oleh Gereja awal, daya ilahi, bisa disampaikan kepada semakin banyak orang, lewat mereka yang telah memerolehnya.

 

Dengan bantuan kisah Yesus memberi makan orang banyak ini, kita diajak untuk menemukan yang luar biasa, yakni hadirnya yang ilahi di tengah-tengah umat. Kehadiran yang mengisi ruang batin ini, akan menjadi sumber kekuatan yang dapat diteruskan kepada siapa saja dan tidak akan habis.

 

Penerusan daya ilahi ini dalam Konstitusi bisa dimaknai penerusan warisan para pendiri. Misalnya:  “Menjaga warisan para pendiri kita berarti: … kita dalam berbagai situasi, terus-menerus memberikan perhatian secara istimewa terhadap yang miskin dan yang berkekurangan; …”(Konst. FIC art.10).

 

Refleksi

Sudahkah aku membiarkan diri didayai  oleh kuasa ilahi? Kubagikan pulakah pengalaman ini kepada orang-orang di sekelilingku? Bagaimana konkretnya?

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, ajarilah kami untuk terus belajar hidup dalam sikap terus-menerus terbuka dan membiarkan diri dikuasai daya ilahi-Mu. Mampukanlah kami untuk terus-menerus membiarkan diri Kaurajai, agar kami mampu menjadi pewarta kasih-Mu. Dengan cara itulah, kami menjadi pewarta-pewarta akan datangnya Kerajaan-Mu.

Amin.

 

Pengutusan

Memberikan diri untuk dikuasi Roh Tuhan, dengan mendengarkan suara hati dan mengikuti-Nya.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Bernardus, Ketapang:

  1. Br. Valentinus Naryo
  2. Br. Leonardus Paryoto
  3. Br. Paskalis Baylon Puryoko
  4. Br. Tomas Tefa
  5. Br. Yohanes Ari Apelabi

11 Februari, MINGGU, Markus 1: 40—45

 

Digerakkan oleh Iman

Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan daku." Maka, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasih, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya, "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. (Mark. 1:40—42).

Kisah penyembuhan seorang yang sakit kusta menggambarkan bagaimana seseorang digerakkan oleh iman.  Melalui iman, dia percaya bahwa Yesus dapat menahirkannya. Dia dengan keyakinan dan kesungguhan yang luar biasa, memohon kepada Yesus yang tecermin dalam kalimat,  “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menahirkan daku.” Dia meletakkan sepenuhnya pengharapan dan ke- sembuhannya kepada kuasa Yesus. Kisah ini memiliki dua sisi, dari pihak penderita, ia digerakkan oleh iman dan disisi lain ada kuasa yang dimiliki Yesus untuk menyembuhkan bagi yang percaya kepada-Nya. 

Iman tidak hanya menggerakkan kepercayaan kita pada saat yang sulit atau menghadapi aneka persoalan. Kita diundang untuk senantiasa berserah diri pada kuasa-Nya sepanjang hidup kita. Iman mengundang kita untuk semakin terlibat mewartakan kasih-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Iman membantu kita mengalami kasih dan penyertaan-Nya melalui sesama yang hidup sekomunitas dengan kita.

Percaya akan Allah berarti kita melihat kehidupan biasa sehari-hari dalam terang baru; kita diberi kesempatan untuk menjalin hubungan kasih dengan Allah yang mahakasih. Percaya akan Allah berarti kita mengalami kasih dan kesetiaan-Nya di dalam segenap ciptaan dan di dalam kenyataan hidup biasa sehari-hari. Percaya akan Allah berarti kita dapat menemukan Dia dalam mencintai sesama dan dalam mengalami kasih mereka. (Konst. FIC art. 55).

Refleksi

Pengalaman mana yang menampakkan dengan jelas bahwa aku digerakkan oleh iman?

 

Doa (Bersama)

Terima kasih Tuhan, atas iman yang Kau- anugerahkan kepada kami. Semoga kami semakin mampu mengalami kehadiran-Mu di dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.

 

Pengutusan

Teguh dalam niat dan tindakan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Maria Mediatrix, Klaten:

  1. Br. Nicolaas Budihardja
  2. Br. Agustinus Sakiman
  3. Br. Agustinus Sudarmadi
  4. Br. Yohanes Bosko Purwanto
  5. Br. Fransiskus Mujiono

 

 

 

 

 

12 Februari, SENIN, Markus 8: 11—13

 

Belajar dari Para Murid

 

Muncullah orang-orang Farisi dan bersoal jawab dengan Yesus. Untuk mencobai Dia, mereka meminta kepada-Nya, suatu tanda dari surga. Maka mengeluhlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, "Mengapa angkatan ini meminta tanda? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kepada angkatan ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”(Mrk.8:11—12)

 

Berhadapan dengan orang-orang Farisi, Yesus menampakkan sisi kemanusian-Nya. Ia merasa jengkel dengan orang-orang yang degil hatinya dan tidak percaya kepada-Nya. Namun, Yesus tidak menyerah dengan kesulitan yang dihadapi-Nya. Yesus meneruskan karya-Nya bagi mereka yang bisa mengerti dan menerimaNya. Yesus tidak terkungkung oleh emosi negatif yang diterima dari orang-orang Farisi.

 

Para murid Yesus adalah orang-orang yang tidak melihat tanda-tanda istimewa dari surga, melainkan mereka percaya kepada isi pewartaan Yesus. Apa dasarnya? Jawabnya: iman! “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Kepada orang-orang yang termasuk dalam kelompok terakhir ini, Yesus berkata, “Berbahagialah orang yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh. 20:29).

 

Iman tumbuh dan berkembang karena rahmat Allah. Percaya akan Allah berarti – dalam arti yang sedalam-dalamnya – kita berani menyerah tanpa syarat kepada-Nya. Penyerahan itu berdasarkan kepercayaan yang tak terbatas serta didorong oleh kasih, karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita. “Allah adalah kasih”. Kasih-Nya menopang kita dan segenap ciptaan-Nya. Kasih-Nya merupakan dasar terdalam, misteri terdalam dari segala yang ada. (Konst. FIC art. 54).

 

Refleksi

Benarkah aku termasuk pribadi yang beriman seperti para murid Yesus, ataukah aku pribadi yang senantiasa dihinggapi keraguan akan kasih-Nya?

Doa (Bersama)

Ya Bapa, berilah kami iman yang hidup, dan jadikanlah kami berani menjadi saksi-Mu, sehingga semakin banyak orang mampu melihat wajah-Mu dalam hidup kami sehari-hari. Ya Bapa, kuatkanlah dan tambahlah iman kami kepada-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Menemukan dan mengalami kasih Allah dalam diri sesama.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Postulat, Muntilan:  

  1. Br. Savio Gino Nataprayoga 
  2. Br. Agustinus Suparno 
  3. Br. F. A. Galih Sih Hartanta
  4. Br. Antonius Teguh Nugraha 
  5. Fr. Herman Afrizal Sihombing

 

 

 

 

13 Februari, SELASA, Markus 8:14—21    

Aktivisme

 

Ketika Yesus mengetahui apa yang mereka  perbincangkan, Ia berkata, ”Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Telah degilkah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar?” (Mrk. 8: 17—18).

 

Injil hari ini mengingatkan adanya bahaya rabun dekat, yakni seseorang yang memiliki gangguan pada mata, yang menyebabkan penderita tidak bisa melihat objek dekat dengan jelas, namun benda yang jauh justru terlihat terang-benderang. Para murid dikritik oleh Yesus karena tidak menangkap esensi dari pembicaraan Yesus tentang bahaya aktivisme seperti yang dihayati kaum Farisi dan ahli taurat. Mereka cenderung mengutamakan aneka kegiatan secara rutin tanpa penghayatan. Namun, para murid memandang Yesus sedang berbicara tentang kekurangan roti yang mereka bawa. Inilah yang dimaksud Yesus dengan mempunyai mata, namun tidak melihat.

 

Mengapa aktivisme perlu kita hindari? Hal ini dikarenakan kita cenderung sibuk dengan aneka kegiatan baik, namun tidak menemukan landasan rohani yang kukuh. Aktivisme cenderung menjadikan kita sibuk, menghabiskan waktu dan tenaga, namun kehilangan arah sesuai dengan ciri hidup kita sebagai religius. Supaya kita terhidar dari bahaya aktivisme, kita diingatkan oleh konstitusi tentang pentingnya memaknai semangat kerasulan.

 

Kerasulan lebih kaya daripada kerja semata-mata, lebih kaya dan lebih dalam. Karya yang dilakukan dengan semangat pengabdian dan kasih serta dilandasi oleh sikap dasar religius, dapat berubah menjadi kerasulan. Kita mencita-citakan seluruh hidup kita diresapi oleh semangat kerasulan. (Konst. FIC art. 20).

 

Refleksi

Apa yang sebaiknya kuusahakan, agar aku terhindar dari bahaya aktivisme?

Doa (Bersama)

Tuhan, kami bersyukur bahwa kami boleh ikut ambil bagian dalam karya-Mu melalui kerasulan yang dipercayakan kepada kami. Semoga karena belas kasih-Mu, kami semakin Kaumampukan berakar kuat dalam iman, sehingga apa pun yang kami usahakan melulu demi kemuliaan-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Bertekun dalam doa bersama.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Immaculatae, Haji Nawi, Jakarta Selatan:

  1. Br. Michael Poedyartana
  2. Br. Agustinus Mujiya
  3. Br. Albertus Slamet
  4. Br. Gregorius Bambang Nugroho
  5. Br. Valentinus Vembriyanto
  6. Br. Boromeus Haryono

 

 

 

14 Februari, RABU,Matius 6:1—6,16—18

 

Pengendalian Diri

 

Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang, bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka, Bapamu yang melihat yang tersembunyi, akan membalasnya kepadamu." (Mat. 6: 17—18).

 

Pada hari ini, kita memulai masa prapaska. Selama 40 hari, kita diudang untuk melaksanakan retret panjang, mempersiapkan perayaan kebangkitan Tuhan. Angka “40” sendiri memiliki makna rohani. Nabi Musa berpuasa selama 40 siang dan 40 malam, sebelum menerima Sepuluh Perintah Allah di Gunung Sinai (Kel. 34:28).Nabi Elia berjalan selama 40 siang dan 40 malam menuju Gunung Horeb (1 Raj. 19:8). Lalu, Tuhan Yesus berpuasa dan berdoa selama 40 siang dan 40 malam di padang gurun, sebelum memulai pelayananNya. (Mat. 4:2).

 

Selama 40 hari, kita diundang untuk lebih banyak berdoa dan melakukan tindakan amal. Kita juga diundang untuk berpantang sesuai dengan kemampuan kita. Salah satu pantang dan puasa yang perlu diupayakan di zaman sekarang adalah mengurangi penggunaan HP. Menurut data yang diliris oleh Reportal, pada tahun 2023, penduduk Indonesia menjadi rangking pertama di dunia dalam menggunakan HP. Rata-rata penduduk Indonesia mengguna-kan HP setiap hari selama 5 jam 39 menit. Kalau pada masa lampau mengurangi makan atau mengurangi jajan menjadi salah satu bentuk askese, sekarang mengurangi penggunaan HP dapat menjadi pertimbangan kita dalam beraskese. Ini salah satu bentuk pengendalian diri yang bijaksana.

 

Hidup wadat kita demi Kerajaan Allah, hendaknya ditandai oleh keugaharian penuh hormat dan pengendalian diri secara bijaksana, seperti dituntut oleh kodrat hidup kita dan oleh cara hidup yang telah kita pilih (Konst. FIC art. 96).

 

 

Refleksi

Bentuk-bentuk pengendalian diri macam apakah yang kuperjuangkan selama ini?

 

Doa (Bersama)

Allah Bapa, bantulah kami dengan Roh-Mu, agar selama masa prapaska, kami mampu bersyukur atas aneka berkat yang boleh kami terima. Amin.

 

Pengutusan

Mengurangi penggunaan HP.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Novisiat Kanonik, Muntilan:

  1. Br. Petrus I Wayan Parsa
  2. Fr. Marselinus Anton Kelitadan
  3. Fr. Laurensius Gde Gunawan Subrata
  4. Fr. Felix Graciano Bagaskoro Putro
  5. Fr. Philipus Aji Sapto Wibowo

Komunitas Novisiat Lanjutan - Muntilan:

  1. Br. Robertus Koencoro Budi S.
  2. Fr. Yakobus Aditiya
  3. Fr. Yohanes Zendi Pamungkas
  4. Fr. Gembira Fransiskus Simbolon
  5. Fr. Jaimito Tan Tuames
  6. Fr. Gregorius Yoan Danu Tama
  7. Fr. Deniz Lopes de Araujo

15 Februari, KAMIS, Lukas 9: 22—25

 

Kualitas Diri

 

Kata-Nya kepada mereka semua, "Setiap orang yang hendak mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memanggul salibnya setiap hari,  dan mengikut Aku. Karena siapa saja yang hendak menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya. (Luk. 9: 23—24).

 

Melalui Injil hari ini, kita diingatkan oleh Yesus tentang kualitas diri sebagai pengikut-Nya, terlebih kita sebagai seorang religius. Kita dituntut untuk memiliki keberanian menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti perjuangan-Nya. Apa maknanya? Menyangkal diri berarti kesanggupan untuk melupakan diri sendiri, tidak berpusat pada diri atau egosentris. Memanggul salib berarti menyatukan aneka derita hidup pada salib Yesus. Segala derita yang kita tanggung demi mengikuti Dia, memiliki makna. Kebermaknaan inilah yang membedakan seseorang berkualitas atau tidak. Sedangkan mengikuti Yesus dalam perjuangan-Nya, memiliki arti, kita diundang untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diperjuangkan Yesus, yakni menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, dan kasih.

 

Kualitas diri seorang religius akan teruji melalui kesiapsediaannya dalam memberikan diri. Adakah kita memiliki kesanggupan untuk mengutamakan nilai-nilai yang kita perjuangkan, meski aneka tantangan manghampirinya? Beranikah kita melupakan diri, berkurban bagi kepentingan sesama, atau bahkan kita lekat dan lengket dengan aneka fasilitas yang memanjakan diri? Untuk memiliki kualitas diri yang konsisten, kita perlu berjuang konsekuen dengan pilihan hidup kita seperti ditekankan oleh konstitusi.

 

Kongregasi kita diharapkan memiliki sikap kesiapsediaan yang besar dan tanpa pamrih. Hendaknya kita mengabdikan seluruh diri kita di mana saja dibutuhkan dan dengan cara yang paling sesuai. Hal ini menuntut keberanian, penyangkalan diri, keugaharian, dan pengakuan atas kemampuan kita. (Konst. FIC art. 22).

 

Refleksi

Sejauh mana aku menjaga kualitas diri sebagai religius bruder? Sudahkan aku menyangkal diri dan ugahari?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas panggilan-Mu melalui Kongregasi FIC. Mampukanlah kami untuk berani berkurban bagi sesama, yang memerlukan uluran tangan kami. Amin.

 

Pengutusan

Merelakan diri berbagi  bakat,  sarana  dan prasarana, serta  waktu  dengan  sesama.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Santo Fransiskus Xaverius, Yogyakarta:

  1. Br. Petrus Heru Nugroho
  2. Br. Agustinus Marjito
  3. Br. Damasus Agung Marwilistyo
  4. Br. Titus Totok Trinugroho
  5. Br. Yustinus Tri Haryadi
  6. Br. Stefanus Agus Faisal
  7. Br. Andreas Andri Anggun Pah
  8. Br. Aloysius Riyanto 
  9. Br. Ag. Waruwu, OFMCap.
  10. Fr. David Juliawan Ndruru, OFMCap.
  11. Fr. Kaspar Indar Cahyadi W., OFMCap

 

16 Februari, JUMAT, Matius 9:14—15

 

Intensi Laku Rohani

 

Kemudian, datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, "Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?" Jawab Yesus kepada mereka, "Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang, mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.” (Mat. 9:14—15).

Berpuasa adalah salah satu bentuk laku rohani. Puasa dapat menolong orang, untuk mengakrabi kerapuhannya dan memberdayakan diri dari realitas kerapuhannya. Keutamaan-keutamaan yang bisa didapatkan dengan berpuasa antara lain keterampilan untuk mengelola egoisme, kerendahhatian, dan empati. Keutamaan-keutamaan itu sangat diperlukan untuk merawat hidup beriman kita kepada Allah. Baiklah bila semua laku rohani kita diintensikan untuk meningkat-kan iman kita kepada Allah.

 

Kalau Konstitusi 63 - Keteraturan dan Kesetiaan, - sebagian mengungkapkan                                   “Doa menuntut keberanian, kesetiaan, dan keteraturan. Doa menuntut kita untuk membebaskan diri dari serangkaian tugas sehari-hari, agar kita mempunyai kesempatan untuk berdoa. Doa kita akan sangat kecil nilainya, jika kita hanya berdoa bila ada keinginan untuk itu;” itu juga dimaksudkan, agar doa-doa kita menjadi wujud proses kita mendapatkan keutamaan hidup; dan akhirnya iman kita kepada Allah pun bertambah.

 

Refleksi

Apakah alasanku, saat aku melakukan latihan rohani?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau menghendaki, agar kami hidup di dalam Engkau. Tolonglah kami, agar terus setia dan tekun melakukan aneka latihan rohani, agar iman kami kepada-Mu terus tumbuh dan berkembang. Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

Pengutusan

Mohon rahmat, agar dalam melakukan latihan rohani melulu demi memuji dan meluhurkan Allah.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Hati Kudus, Salatiga:

  1. Br. Redemptus Lastiya
  2. Br. Herman Yoseph Sagiman S. S.
  3. Br. Thomas Didimus Sumaryadi
  4. Br. Petrus Anjar Trihartono
  5. Br. Petrus Suparyanto
  6. Br. Zakarias Puji Lestariyo
  7. Br. Florentius Widyo Rijanto
  8. Br. Fransiskus Saptono
  9. Rm. Robertus B. Asiyanto, SVD

 

 

 

17 Februari, SABTU, Lukas 5:27—32

 

Kerinduan Disentuh oleh Yesus

 

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya, "Ikutlah Aku!" Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia. Lalu jawab Yesus kepada para orang Farisi dan ahli Taurat, kata-Nya, "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, melainkan orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa, supaya mereka bertobat." (Luk. 5:27,28,31,32).

 

Apa yang membuat Lewi, pemungut cukai itu segera menyambut ajakan Yesus? Mungkinkah sesungguhnya Lewi telah begitu lama merasakan remuk redam hati dan jiwanya; sehingga saat Yesus menyentuhnya dengan ajakan untuk mengikuti-Nya, ajakan itu laksana hujan yang membasahi kemarau yang panjang? Pengakuan, kesadaran, atau penghayatan hati dan jiwa yang remuk redam itu mungkin tidak ada pada para ahli Taurat dan orang Farisi. Karenanya, mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Yesus sebagai anugerah untuk membebaskan jiwa yang rapuh.

 

Karena itu, Konstitusi 72 - Kesalahan dan Pengampunan - mengajak kita untuk terus menyadari kerapuhan diri, dan bertekun merayakan sakramen rekonsiliasi. Pada perayaan sakramen rekonsiliasi itu kita mengalami Yesus yang menyentuh hati dan jiwa yang terluka oleh dosa. Konstitusi mengungkapkan, “Betapa pun baik maksud-maksud kita, kita masing-masing akan mengalami kegagalan dalam mencapai cita-cita kita. Kesalahan pribadi dan kesalahan bersama merupakan kenyataan hidup kita yang berat. Oleh karena itu, kita memberikan perhatian terhadap pemeriksaan batin, terhadap perayaan-perayaan yang mengutamakan pengakuan kesalahan (dosa) dan kesediaan untuk melaksanakan tobat; sering merayakan sakramen pengampunan (rekonsiliasi) dengan cara-cara yang sungguh bermanfaat.”

Refleksi

Adakah rongga kerinduan di dalam diriku akan sentuhan Yesus?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau menciptakan kami dalam kebaikan. Engkau juga selalu menghendaki, agar kami hidup dalam kebaikan. Namun, kami sering memilih jalan hidup yang kurang baik. Maka, kami memohon pertolongan-Mu, agar setelah kami menyadari kelemahan dan kerapuhan kami, Engkau menguatkan kerinduan kami untuk mendapat pengampunan dari pada-Mu lewat sakramen rekonsiliasi. Amin.

 

Pengutusan

Mohon rahmat, agar bisa mengalami dan menghayati kerapuhan diri.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Belitang, Sumatra Selatan:

1)  Br. Agustinus Agusono

2)  Br. Pilipus Sukiran

3) Br. Yohanes Baptista Suranto

18 Februari, MINGGU, Markus 1:12—15

 

Di Dalam Kuasa Roh Kudus

 

Segera sesudah itu, Roh memimpin Yesus ke padang gurun. Di padang gurun itu, Ia tinggal empat puluh hari lamanya, dicobai oleh Iblis. Ia berada di sana di antara binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia. Sesudah Yohanes ditangkap, datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!" (Mrk. 1:12—15).

 

Saat menjalani ritus baptisan Yohanes, Roh Allah turun ke atas Yesus. Selanjutnya Roh Allah menuntun Yesus untuk melakukan latihan rohani di padang gurun. Roh Allah mempersiapkan Yesus tampil di Galilea, untuk mewartakan Injil. Pola seperti inilah yang mesti menjadi pola hidup dan berkerasulan kita sebagai bruder FIC. Hanya bila dilakukan dalam kuasa Roh Allah, kehadiran dan kerasulan kita akan menghadirkan Kerajaan Allah.

 

Kesungguhan mengelola cara hidup dan berkerasulan di dalam kuasa Roh Allah adalah upaya untuk mewujudkan pesan Konstitusi 2 - Dalam Allah - yang mengungkapkan: “Kita percaya bahwa seluruh hidup kita ditopang oleh Allah yang berpribadi, Allah yang merangkul kita dan semua orang serta segala yang ada, Allah yang adalah kasih.”

 

Refleksi

Sejujurnya, masihkah aku membutuhkan kuasa Roh Allah dalam hidup dan kerasulanku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, sering kami merasa tidak membutuhkan Dikau dalam hidup dan kerasulan kami. Lebih-lebih ketika kami disibukkan oleh banyak hal, sehingga seolah-olah tidak ada faedahnya berseru memohon pertolongan-Mu. Ampunilah kami, ya Tuhan. Amin.         

 

Pengutusan

Memohon rahmat keberanian, untuk meletakkan hidup dan kerasulan dalam Penyelenggaraan Ilahi.

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Josef Pekerja, Don Bosko, Semarang:

  1. Br. Martinus T. Handoko
  2. Br. Yohanes Sudaryono
  3. Br. Heribertus Irianto Mulyono
  4. Br. Yohanes Hartoko Susilo
  5. Br. Michael Sidharta Susila
  6. Rm. Mateus Sudiantoro, SDB

 

 

 

 

19 Februari, SENIN, Matius 25:31—46

 

Tuhan di Dalam Keseharian Kita

Maka, orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya, “Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?” Dan Raja itu akan menjawab mereka, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:37—40).

 

Setidaknya, kutipan Injil hari ini mengingatkan kita, bahwa Tuhan sering hadir dalam raga orang-orang di sekitar kita, di dalam keseharian hidup kita. Mungkin tidak mudah bagi kita, untuk menemukan kehadiran Tuhan yang seperti itu. Kesulitan ini bisa disebabkan karena kita teramat disibukkan oleh aneka hal, hingga hidup kita melulu berfokus pada diri kita sendiri. Kalau demikian, jangan-jangan setan menggunakan aneka kesibukan, agar kita tidak punya kesempatan dan alasan untuk memerhatikan yang di luar diri kita sendiri. Tuhan yang hadir dalam raga sesama kita dalam keseharian hidup kita pun tidak pernah kita alami.

 

Komitmen untuk menciptakan keharmonisan penghayatan pilar-pilar hidup bakti adalah cara untuk tetap bisa mengenali Tuhan yang hadir dalam keseharian hidup kita. Konstitusi 34 - Persatuan Dalam Kasih - mengungkapkan, “Semangat kerasulan kita meresapi hidup persaudaraan, doa, dan penghayatan triprasetia kita. Penghayatan triprasetia, doa, dan kehidupan komunitas, menyuburkan dan menghasilkan buah bagi kerasulan kita. Semakin mendalam hidup kita, dan semakin sungguh kita mencari Allah yang mahakasih, maka segala sesuatu dalam hidup kita pun akan semakin harmonis, bertemu, dan menyatu. “Allah adalah kasih,” dan dalam Dia segala sesuatu akan bergabung dalam kasih.”

 

Refleksi

Kondisi-kondisi apa saja yang sering membuatku mengalami kesulitan menemukan Tuhan yang hadir dalam diri orang-orang di sekitarku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, orang-orang dan ciptaan lain Kau- hadirkan bagi kami, agar kami selalu mengalami kehadiran-Mu dalam hidup sehari-hari kami. Tolonglah kami, agar kami tidak dibutakan oleh kesibukan kami sendiri, sehingga tidak pernah menemukan Engkau yang hadir di dalam raga sesama kami. Amin.

 

Pengutusan

Memohon rahmat kecermatan menemukan Tuhan dalam perjumpaan dengan orang-orang di sekitar kita.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas “Wisma Bernardus”, Don Bosko, Semarang:

  1. Br. Venantius Sartana
  2. Br. Yosaphat Sukosuwito
  3. Br. Berchmans Nyotoharjo
  4. Br. Anton Hadiwardaya
  5. Br. Antonius Paryanta
  6. Br. Yohanes Sugiyono
  7. Br. Fransiskus Asisi Dwiyatno
  8. Br. Simon Andrus Briyanto
  9. Br. Yohanes Triwuryanto
  10. Br. Antonius Iswanto
  11. Br. F.X. Kuswara Widigdo
  12. Br. Thomas Nova Wibisono

 

20 Februari, SELASA, Matius 6:7—15

 

Hidup yang Diresapi oleh Kasih

 

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata, doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. (Mat. 6:7—8).

 

Kutipan Injil hari ini ditutup dengan ungkapan ayat 14—15, “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." Pengampunan adalah laku rohani yang diperlukan, agar kita bisa berdoa dengan baik dan sederhana. Pengampunan menciptakan ruang longgar di dalam batin kita. Kalau ruang batin kita sumpek oleh kejengkelan terhadap orang lain, suasana batin kita akan terasa tidak nyaman. Pada kondisi seperti ini, bila kita berdoa, mungkin kita akan mengungkapkan banyak kata sebagai bagian dari ekspresi kesumpekan hati kita. Doa kita pun tidak sederhana lagi.

 

Kalau demikian, kasih memungkinkan kita untuk hidup sederhana. Hidup yang diresapi oleh kasih akan menghadirkan berkat, juga dalam melakukan aktivitas kerasulan kita. Maka Konstitusi 20 -Diresapi oleh Semangat Kerasulan   -  mengungkapkan: “Kerasulan lebih daripada kerja semata-mata, lebih kaya dan lebih dalam. Karya yang dilaksanakan dengan semangat pengabdian dan kasih, serta didasari oleh sikap dasar religius, dapat berubah menjadi kerasulan.”

 

Refleksi

Hal-hal apa yang membuat batinku terasa penuh, hingga  aku mengalami kesulitan untuk berkomunikasi dengan Allah?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, tolonglah kami untuk hidup sederhana. Tolonglah kami untuk membebaskan diri dari aneka kebiasaan yang membuat kami melupakan Dikau. Amin.

 

Pengutusan

Memaafkan orang lain sebagai upaya melonggarkan batin kita.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Br. August, Sedayu:

  1. Br. Antonius Kurniawan Romy S.
  2. Br. Yustinus Wahyu Bintarto
  3. Br. Krisologus Pusrayan Dono

 

 

21 Februari, RABU,  Lukas 11:29—32

 

Yesus Tanda Kehadiran Allah

 

Ketika orang banyak mengerumuni Dia, berkatalah Yesus, "Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda, selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda bagi orang-orang Ninive, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda bagi angkatan ini.” (Luk. 11:29—30).

 

Orang-orang meminta tanda kepada Tuhan Yesus. Ia menegaskan bahwa tanda itu sudah mereka miliki, yakni tanda nabi Yunus. Kehadiran Yunus sebagai tanda bagi orang Ninive. Kehadirannya membuat orang bertobat. Orang mengubah hidupnya, berbalik dari tingkah laku yang penuh dosa kepada kekudusan. Kehadiran Yunus membuat orang Ninive merasakan cinta dan belas kasih Allah. Mereka diselamatkan oleh Allah.

 

Yesus menyebut orang-orang Farisi dan para ahli Taurat sebagai angkatan yang jahat. Mereka sudah diberi tanda yang sangat jelas, tanda keselamatan, yaitu kehadiran Yesus, Anak Manusia. Ia berkeliling sambil berbuat baik. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran. Ia datang untuk melayani. Ia datang untuk menyelamatkan. Namun, mereka masih menuntut tanda lagi.  Mereka tidak mampu melihat makna tanda itu karena kesombongan mereka. Mereka merasa sudah tahu semua, merasa sudah melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Karena kesombongan rohani mereka, mata hati mereka tertutup, tidak mampu menangkap bahwa Yesus adalah tanda kehadiran Allah.

 

Kita merindukan pengalaman nyata kehadiran Allah yang penuh kasih: – bila kita berdoa; – bila kita membuka diri terhadap Sabda-Nya dalam Kitab Suci; – bila kita menerima sakramen-sakramen (Konst. FIC art. 58).

 

Refleksi

Mampukah aku menangkap kehadiran Allah lewat tanda kehadiran sesamaku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, kami sering sibuk dengan kepentingan diri sendiri, sehingga kami tidak mampu melihat kehadiran-Mu. Bimbinglah kami ya Tuhan, agar kami mampu menangkap cinta kasih-Mu, melalui tanda-tanda sederhana yang kami jumpai sehari-hari. Amin.

 

Pengutusan

Mempertajam mata hati, agar dapat mengenali kehadiran Allah dalam tanda-tanda sederhana dalam hidup sehari-hari.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Aloysius, Sukaraja:

  1. Br. F.X. Teguh Supono
  2. Br. Romanus Paryanto
  3. Br. Ignatius Andri Pratomo

22 Februari, KAMIS, Matius 16:13—19

 

Iman Pernyataan Allah Bapa

 

Maka, jawab Simon Petrus, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Kata Yesus kepadanya, "Berbahagialah engkau, Simon bin Yunus, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.

(Mat. 16:16—17).

 

Ketika Yesus bertanya kepada para murid, siapakah diri-Nya, Simon Petrus spontan menjawab, “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.” Mendengar jawaban itu Yesus mengatakan bahwa itu bukan pernyataan dari manusia, melainkan dari Allah Bapa. Rupanya Yesus mengetahui bahwa sebenarnya Petrus belum sungguh memahami makna  Mesias. Hal ini terbukti, ketika Yesus menjelaskan bahwa Ia adalah Mesias yang harus menderita, lalu dibunuh, dan dibangkitkan demi keselamatan manusia, Petrus tidak bisa menerimanya.(Mat. 16:21—22).

 

Kita mau dekat, hidup bersama Yesus, dengan memilih hidup sebagai religius bruder, agar mengenal Yesus lebih dalam. Namun, perlu disadari bahwa pilihan hidup ini bukan buah analisis pikiran. Kita tidak bisa menjelaskan alasan pilihan hidup kita dengan logika belaka. Banyak misteri dalam kehidupan kita.

 

Kita memilih memeluk hidup bakti karena mengikuti suara hati. Kita yakin suara hati adalah suara Roh Kudus, pernyataan dari Allah Bapa. Ia memperkenalkan kita kepada Yesus, Sang Mesias, Juruselamat, dengan anugerah iman kepercayaan. Kita bersyukur dan bahagia atas anugerah iman ini. Semoga kita  bertekun dan setia mengikuti Allah yang hidup. Kita terus berubah dari hidup berpusat pada diri sendiri menuju kepada berpusat pada Tuhan dan sesama.

 

Iman adalah keajaiban yang mengagum-kan, mencakup misteri kehidupan kita yang terdalam. Iman adalah keberanian untuk hidup bersama dengan misteri itu. Iman bukanlah hasil usaha kita sendiri, dan tak pernah dipaksakan. (Konst. FIC art. 54)

Refleksi

Bagaimanakah aku merawat anugerah iman akan Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari?

 

Doa (Bersama)

Bapa, kami bersyukur atas anugerah iman kepada-Mu, kami boleh mengenal Engkau sebagai penyelamat jiwa kami. Utuslah Roh Kudus selalu, agar membimbing dan menolong kami untuk bertekun dan setia mengikuti Yesus, Juruselamat kami. Amin.

 

Pengutusan

Merawat iman dengan lebih rajin berdoa.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Vincensius a Paulo, Randusari, Semarang:

  1. Br. Yohanes M. Wiryasumarta
  2. Br. Antonius Parjana
  3. Br. Albertus Suwarto
  4. Br. Gregorius Suhadi
  5. Br. M. Hans Gendut Suwardi
  6. Br. Andrias Eko Susanto
  7. Br. Agustinus Marsanto
  8. Fr. Charles Thomana, Pr

23 Februari, JUMAT, Matius 5:20—26

 

Hidup Benar

 

Maka Aku berkata kepadamu, Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.(Mat. 5:20).

 

Ahli Taurat adalah para pakar dalam hukum yang mampu menjelaskan dan mengajarkan hukum Taurat bagi orang Yahudi. Mereka mempunyai tugas menyusun peraturan-peraturan dan ketentuan-ketentuan dalam kehidupan keagamaan Yahudi. Sedangkan orang Farisi adalah kelompok religius di dalam Yudaisme. Mereka memperjuangkan pengetahuan yang mendasar tentang Taurat dan tradisi para nenek moyang mereka. Umumnya pola hidup para agamawan dan cendekiawan ini kurang baik. Mereka mengajarkan, namun tidak melakukannya, munafik, suka pamer, menaruh beban peraturan pada pundak orang, tinggi hati, haus pujian dan sanjungan, tidak berbelas kasih kepada orang yang susah. (bdk. Mat. 23:3—39). Maka, Yesus mengatakan, jika pola beragamamu tidak lebih baik daripada mereka, tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga.

 

Semoga kita sebagai bruder, guru, agamawan, memiliki pola hidup yang benar, tidak menjadi batu sandungan bagi umat dan siapa pun yang kita jumpai. Kehadiran kita bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi orang lain untuk hidup berdasarkan hukum kasih.

 

Sebagai bruder, kita menyadari bahwa kita dipanggil dan diutus bersama untuk ikut serta dalam karya Yesus. Ia berkeliling sambil berbuat baik. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran. (Konst. FIC art. 15).

 

Refleksi

Bagaimanakah aku bersaksi tentang kebenaran dalam hidupku sehari-hari?

 

 

 

Doa (Bersama)

Tuhan, sadarkanlah kami selalu, akan identitas kami sebagai religius bruder dalam kehidupan bersama di mana pun kami berada, agar kami dapat menempatkan diri di tempat yang benar, tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain, melainkan menjadi peneguh iman bagi sesama. Amin.

 

Pengutusan

Hidup konsisten atas kata dan tindakan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Yosef, Surakarta:

  1. Br. Ignatius Dalimin
  2. Br. F.X. Djija Atmadja
  3. Br. Paulus Sumarno
  4. Br. Stephanus Ngadenan
  5. Br. Andrias Purwanto

24 Februari, SABTU, Matius 5:43—48

 

Berdoa dan Mengampuni Musuh

 

Kamu telah mendengar firman, “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.  Tetapi Aku berkata kepadamu, Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

(Mat 5:43—44).

 

Dalam kehidupan bersama, kita menghadapi berbagai macam perbedaan, yaitu perbedaan pendapat, pandangan, kebiasaan, sikap, dan perilaku yang lain. Ada yang menuntut supaya berperilaku sama dengan dirinya.  Maka, terjadilah ketegangan dalam hidup bersama. Suasana komunitas menjadi kurang hidup. Berbicara sekadarnya, formalistis. Suasana hidup bersama menjadi tidak nyaman. Orang menjadi tidak bebas. Hendak bertemu, berkontak dengan orang yang tidak sepaham itu menjadi malas. Orang membawa beban perasaan, tidak bebas beraktualisasi diri. Menyapa, memberikan salam saja menjadi sesuatu yang berat.

Sebagai religius, kita diharapkan senantiasa hidup bersama dengan Roh Kudus. Kita hidup dekat dengan Tuhan, sebab setiap hari kita berdoa, merayakan Ekaristi, merenungkan Kitab Suci. Realitasnya, kita tidak mudah mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Padahal, hidup kudus yang terpuji menurut Tuhan Yesus tidak lain daripada mendoakan musuh dan mengampuninya.  Nilai dari doa itu jauh lebih tinggi daripada segala perbuatan baik yang lain. Ini adalah tindakan Allah yang sempurna, yang harus bisa dicapai oleh  umat-Nya.

 

Kesalahan pribadi dan kesalahan bersama merupakan kenyataan hidup kita yang berat. Insaf akan semuanya ini, baiklah menyadari bahwa Yesus Kristus mengajar kita berdoa: “...ampunilah kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” (Konst. FIC art. 72).

 

Refleksi

Mudahkah aku mendoakan sesama yang bersalah kepadaku? Mudahkah aku mengampuninya?

Doa (Bersama)

Bapa, jadikanlah kami religius yang berkualitas, terpuji di hadapan-Mu, hidup yang berbeda dengan semangat duniawi, yang berbuat baik karena ingin menerima yang baik. Semoga kami berbuat baik karena ada Roh Kudus di dalam diri kami, sehingga Bapa dipermuliakan. Amin.

 

Pengutusan

Hidup membawa kedamaian bagi sesama, dengan mudah mengampuni sesama.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Tanjung, Kalimantan Barat:

  1. Br. Justinus Juadi
  2. Br. Kristoforus Sangsung
  3. Br. Yohanes Sarwono

25 Februari, MINGGU, Markus 9:2—10

 

Salib Jalan Kebahagiaan

 

Tampaklah kepada mereka, Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, "Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu bagi-Mu, satu bagi Musa, dan satu bagi Elia." (Mrk. 9:4—5).

 

Injil hari ini mengisahkan Yesus yang dimuliakan di atas gunung. Itu terjadi enam hari setelah Ia mengajarkan kepada para murid, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam  kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. (Mrk. 8:31). Pengajaran Yesus tentang Anak Manusia yang sengsara, wafat, dan bangkit ini rupanya belum ditangkap maknanya oleh para murid. Mereka masih bertanya-tanya dalam hati. Namun, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes pergi ke atas gunung. Di sana mereka melihat Yesus berubah rupa, dimuliakan dalam terang yang mengagumkan, bersama dengan Nabi Musa dan Nabi Elia. Pemandangan kemuliaan Tuhan itu memberikan kebahagiaan luar biasa bagi para rasul itu. Karena bahagianya, Rasul Petrus ingin membangun tiga buah tenda bagi Yesus, bagi Musa, dan bagi Elia. Maksudnya, mungkin agar kebahagiaan itu berlangsung lebih lama. Namun, segera  datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia,” Setelah itu pemandangan menjadi biasa.

 

Itulah kebahagiaan, mulia bersama Tuhan Yesus dan para orang kudus yang dijanjikan kepada kita. Tetapi jalan menuju ke kemuliaan itu sesuai dengan pengajaran yang kita dengarkan dari Dia, yaitu jalan salib, kehilangan nyawa bagi Tuhan demi keselamatan sesama. Panggilan hidup bakti mengikuti jalan salib Yesus.

 

Kehidupan biasa sehari-hari dapat melelahkan dan membosankan, seolah-olah tiada harapan untuk pertumbuhan lebih lanjut. Allah dan sesama kita tampak dan terasa sangat jauh. Singkatnya, salib dan penderitaan akan memasuki hidup kita. (Konst. FIC art. 116).

 

Refleksi

Relakah aku menderita bagi sesama, demi kemuliaan bersama dengan Yesus?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus, Engkau menghendaki, agar pengharapan akan kemuliaan surgawi yang Kaujanjikan, memberikan semangat kepada kami untuk menjalani hidup ini. Tajamkanlah mata rohani kami, agar kami dapat mendengarkan dan melihat kemuliaan-Mu dalam diri orang-orang dan lingkungan alam sekitar kami. Amin.

 

Pengutusan

Melihat kemuliaan Tuhan melalui alam ciptaan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Fransiskus Asisi, Tumbang Titi:

  1. Br. Petrus Sutimin
  2. Br. F.A. Dendi Setiawan
  3. Br. Paulinus

26 Februari, SENIN, Lukas 6:36—38

 

Belas Kasih Dua Arah

Yesus berkata, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” (Lk. 6:36—37).

Santo Ignatius dari Loyola, dalam panduan retret 30 hari, meminta peserta retret untuk menghabiskan minggu pertama retret dengan berfokus pada dosa, penghakiman, kematian, dan neraka. Hikmahnya, setelah satu minggu melakukan meditasi ini, para peserta retret sampai pada kesadaran yang mendalam, tentang betapa mereka membutuhkan belas kasih dan pengampunan Tuhan; dan kerendah- hatian yang dalam dipupuk dalam jiwa mereka, ketika mereka melihat kesalahan mereka dan berpaling kepada Tuhan untuk mendapatkan belas kasih-Nya.

Belas kasih berjalan dua arah. Belas kasih hanya dapat diterima, jika ia juga diberikan. Dalam ayat Injil di atas, Yesus memberikan perintah yang sangat jelas kepada kita, tentang penghakiman, penghukuman, belas kasih, dan pengampunan. Pada dasarnya, jika kita mengingini belas kasih dan pengampunan, maka kita harus memberikan belas kasih dan pengampunan. Jika kita menghakimi dan mengutuk, maka kita juga akan dihakimi dan dikutuk. Kata-kata ini sangat jelas. “… baiklah (kita) menyadari bahwa Yesus Kristus mengajar kita berdoa: … ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami” (Konst. FIC art. 72).

 

 

Refleksi

Maukah aku mencoba memahami, betapa serius dan buruknya dosa?

 

Doa (Bersama)

Yesus, Sang Pengampun, kami berterima kasih atas belas kasih-Mu yang tak terbatas. Tolonglah kami untuk melihat dengan jelas dosa-dosa kami, sehingga kami dapat merasakan kebutuhan kami akan belas kasih-Mu. Bukalah hati kami terhadap belas kasih-Mu sehingga kami dapat menerimanya dan membagikannya kepada orang lain. Jadikanlah kami alat belas kasih-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Menghidupkan kembali kesadaran akan seriusnya dosa, untuk menumbuhkan keinginan akan belas kasih dan pengampunan, kesadaran yang lebih dalam akan dosa sendiri di hadapan Allah, agar dapat lebih mudah untuk tidak menghakimi dan mengutuk orang lain.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Petrus Canisius, Muntilan: 

  1. Br. Yohanes Guido Sukarman 
  2. Br. Johanes Warisa
  3. Br. Petrus Ponidi
  4. Br. Edmundus Sukapdi
  5. Br. Robertus Ari Yunanto
  6. Br. Thomas Aquinas Prastianto

 

Komunitas SMA van Lith, Muntilan:

  1. Br. Agustinus Giwal Santoso 
  2. Br. Yohanes Albert Pratama
  3. Br. Hendrikus Ari Handoko
  4. Br. Hieronymus Wisnumurti Rahadyan

 

 

 

 

27 Februari, SELASA, Matius 23:1—12

 

Kebesaran Sejati

 

“Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Mat. 23:11—12).

 

Dalam Injil hari ini, Yesus memberi kita salah satu kunci menuju ke kebesaran. "Yang terbesar di antara kamu, haruslah menjadi pelayanmu." Menjadi seorang hamba berarti mengutamakan orang lain daripada diri sendiri. Kita mengutamakan kebutuhan mereka daripada mencoba membuat mereka memerhatikan ke-butuhan kita. Dan ini sulit dilakukan.

 

Sangat mudah dalam hidup ini, untuk memikirkan diri kita sendiri terlebih dahulu. Namun kuncinya adalah bahwa kita menempatkan orang lain di atas diri kita. Hal ini karena pilihan untuk mendahulukan orang lain tidak hanya baik bagi mereka, melainkan juga merupakan hal yang terbaik bagi kita. Kita diciptakan untuk mengasihi dan melayani orang lain. Kita diciptakan untuk memberikan diri kita kepada orang lain tanpa memperhitungkan biayanya. Namun, ketika kita melakukan hal ini, kita tidak kehilangan diri kita sendiri. Sebaliknya, dalam tindakan memberikan diri kita sendiri dan mengutamakan orang lain, kita benar-benar menemukan siapa diri kita dan menjadi pribadi sebagaimana kita diciptakan. Kita menjadi KASIH itu sendiri. Orang yang mengasihi adalah orang yang hebat, yang ditinggikan oleh Tuhan. Dalam persekutuan yang erat bersatu padu, terwujudlah perhatian yang penuh kasih bagi yang sakit, yang lanjut usia, mereka yang membutuhkan, dan semua yang sedang mengalami saat-saat berat, apa pun alasannya. (Konst.FIC art. 40).

 

Refleksi

Maukah aku hari ini merenungkan misteri menjadi besar dan panggilan untuk merendahkan diri?

 

 

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas kesaksian kerendahhatian-Mu. Engkau memilih untuk mengutamakan semua orang, bahkan sampai mengizinkan diri-Mu sendiri mengalami penderitaan dan kematian sebagai konsekuensi dari dosa-dosa kami. Berilah kami hati yang rendah, agar Engkau dapat memakai kami untuk membagikan kasih-Mu yang sempurna kepada orang lain. Amin.

 

Pengutusan

Membuat pilihan untuk merendahkan diri di hadapan orang lain. Memedulikan, memerhatikan, mendengarkan keprihatinan dan kebutuhan mereka.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Aloysius,Pemalang:

  1. Br. Christoforus Sukarman
  2. Br. Lorentius Edy Wahyudi

 

 

 

 

28 Februari, RABU, Matius 20:17—28

 

Tidak Takut Menghadapi Salib

 

Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan, "Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Dia diolok-olok, disesah, dan disalibkan; dan pada hari ketiga Dia akan dibangkitkan." (Mat.20:17—19).

 

Yesus tahu bahwa penderitaan dan kematian-Nya sudah dekat, dan Dia siap, tidak takut, dan bersedia menerimanya tanpa ragu-ragu. Dia melihat salib-Nya tidak dalam terang yang negatif, sebagai suatu tragedi yang harus dihindari. Yesus memandang penderitaan-Nya yang akan segera terjadi dalam terang kebenaran. Dia melihat penderitaan dan kematian-Nya sebagai tindakan kasih yang mulia, yang akan segera Dia persembahkan, dan oleh karena itu, Dia tidak takut untuk menerima penderitaan ini.

 

Dalam kehidupan kita sendiri, kita diundang untuk mencontoh keberanian dan kasih Yesus, setiap kali kita harus menghadapi sesuatu yang sulit dalam hidup. Ketika hal ini terjadi, beberapa godaan yang paling sering muncul adalah menjadi marah atas kesulitan tersebut, atau mencari cara untuk menghindarinya, atau menyalahkan orang lain, atau menyerah pada keputusasaan dan sejenisnya. Kita cenderung menghindari salib yang mengadang kita. “Singkatnya, salib dan penderitaan akan memasuki hidup kita.” (Konst. FIC art. 116)

 

Refleksi

Dapatkah aku melihat setiap kesulitan dan salib yang diberikan kepadaku sebagai suatu kesempatan untuk berkurban dalam kasih, yang berpotensi untuk menjadi alat yang penuh rahmat dalam kehidupan kita sendiri dan orang lain?

 

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus yang menderita, berilah kami anugerah untuk mencontoh kasih-Mu yang sempurna dan melakukannya dengan kekuatan dan keyakinan seperti yang Kau- miliki, pada saat-saat kami menghadapi kesulitan dan salib. Amin.

 

Pengutusan

Berusaha mencontoh Tuhan kita, dalam menghadapi kesulitan dan salib-salib kehidupan, memeluknya dengan penuh kasih.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Ainaro, Timor Leste:

  1. Br. Yusup Kuncoro Bowo S.
  2. Br. Blasius Supriyantoro
  3. Br. Jose Maria de Araujo Barreiro

 

Komunitas Bedois, Dili, Timor Leste:

  1. Br. Bonaventura  Zeca M.S.
  2. Br. Arcancio Amaral

29 Februari, KAMIS, Lukas 16:19—31

 

Kontras yang Sangat Kuat

 

Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Bahkan anjing-anjing datang dan menjilati boroknya.” (Luk. 16:19—21).

 

Ada perbedaan dan kontras yang sangat jelas antara orang kaya dan Lazarus dalam perikop Injil hari ini.

Kontras pertama: Kehidupan orang kaya tampak sangat lebih menyenangkan, setidaknya di permukaan. Dia kaya, memilikirumah bagus untuk ditinggali, mengenakan pakaian yang bagus, dan makan dengan mewah setiap hari. Sebalik-nya, Lazarus miskin, tidak punya rumah, tidak punya makanan, penuh dengan luka, dan bahkan menanggung penghinaan dari anjing-anjing yang menjilati luka-lukanya.

 

Kontras yang kedua: Ketika mereka berdua mati, mereka mengalami nasib kekal yang sangat berbeda. Ketika orang miskin itu meninggal, ia "dibawa pergi oleh para malaikat." Dan ketika orang kaya itu meninggal, dia pergi ke alam maut, di mana ada siksaan yang berkelanjutan.

 

Suatu realitas yang paling menggoda dan menipu dalam hidup adalah iming-iming kekayaan, jabatan, kemewahan, dan hal-hal yang menyenangkan. Dunia materi tidaklah buruk, namun ada godaan besar yang menyertainya. Mereka yang kaya akan hal-hal duniawi, sering tergoda untuk hidup bagi diri sendiri. Ketika seseorang memiliki semua kenyamanan yang ditawarkan dunia ini, mudah sekali untuk menikmati kenyamanan tersebut tanpa memedulikan orang lain. “kita ingin menghindari segala sesuatu yang dapat dipandang sebagai nafsu mengejar kekayaan. (Konst.FIC art.90).

               

 

Refleksi

Kekayaan apa yang sesungguhnya kuingini di dalam hidup ini?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau memiliki kekayaan sejati. Tolonglah kami untuk mengasihi Engkau dengan segenap keberadaan kami dan mengasihi orang lain seperti Engkau mengasihi mereka. Amin.

 

Pengutusan

Membangun keinginan akan kasih kepada Allah dan kepada sesama, agar dibawa oleh para malaikat, ketika hidup ini selesai.

 

Berdoa khusus bagi:

  • Para Bruder yang menderita sakit dan yang mengalami kesulitan dalam hidup mereka.
  • Bruder Pemimpin Umum dan para anggota Dewan Umum
  1. Br. Augustine Kubdaar – Pemimpin Umum
  2. Br. Theodorus Suwaryanto – Wakil Pemimpin Umum
  3. Br. Raphael Besigrinee – Anggota Dewan
  4. Br. Valentinus Daru Setiaji

 

  • Bruder Pemimpin Provinsi dan Dewan Provinsi Indonesia
  1. Br. F. A. Dwiyatno – Pemimpin Provinsi
  2. Br. M. Sidharta S.  – Wakil Pemimpin Provinsi
  3. Br. Anton Karyadi  – Anggota Dewan
  4. Br. Y. B. Purwanto – Anggota Dewan
  5. Br. Martinus Hans Gendut S.– Anggota Dewan