Renungan Harian April 2024

 

1 April, SENIN,  Matius  28:8—15

Melampau Ketakutan

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukan-nya kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata, "Salam bagimu." Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Maka kata Yesus kepada mereka, "Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku." (Mat. 28:8-10).

Injil Matius 28:8-15 hari ini menggambarkan peristiwa beberapa perempuan yaitu Maria Magdalena dan Maria yang lain pergi mengunjungi kubur Yesus. Perasaan takut dan sukacita bercampur aduk saat para wanita bertemu dengan Kristus yang bangkit. Meskipun hati mereka gemetar, mereka dipercayakan dengan misi penting: menyebarkan berita tentang Kebangkitan. Tindakan yang terlihat sederhana ini bertentangan dengan norma sosial, sebab di dalam tradisi Yahudi para perempuan dikecualikan dari posisi kepemimpinan. Namun Yesus mengutus mereka untuk menjadi pewarta pertama kebangkitan Kristus.

Kisah Injil hari ini mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan melampaui ekspektasi dan batasan dalam hidup kita. Sama seperti para wanita yang mengatasi ketakutan mereka untuk menjadi saksi yang berani. Kita juga dipanggil untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Kita dipanggil untuk berbagi pesan Injil secara otentik dan dalam iman yang teguh. Dengan merangkul karunia hidup bakti kita, kita menjadi terang harapan, memancarkan kasih Tuhan yang bangkit di tengah dunia yang sangat membutuhkan kesaksian hidup kita.

Kabar Gembira Yesus merupakan asas pokok pedoman hidup kita.” (Konst. FIC art. 6).

Refleksi

Apakah ada ketakutan yang menghambat sukacita hidup sebagi religius FIC?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus Kristus, semoga peristiwa kebangkitan-Mu selalu menginspirasi dan menjadi sumber kekuatan iman kami untuk bersaksi melalui hidup kami sebagai religius. Amin.

Pengutusan

Menemukan inspirasi kebangkitan Kristus (paskah) bagi hidupku!

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Stanislaus Kostka, Ambarawa:

  1. Br. Antonius Sumardi
  2. Br. Frans Sugi
  3. Br. Markus Sugiyanto
  4. Br. Andreas Djoko Purnomo
  5. Br. Gregorius Anggara Tadon

2 April, SELASA, Yohanes 20:1118

 

Kristus yang Bangkit Mencari Kita

 

Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu, bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, "Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?" Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya, "Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya." (Yoh 20:14—15).

 

Injil hari ini, Yohanes 20:11-18 menyajikan perjumpaan mengharukan antara Maria Magdalena dan Kristus yang bangkit. Diliputi duka, Maria berpegang teguh pada kubur yang kosong, tidak menyadari transformasi mulia yang telah terjadi. Yesus, dengan kasih-Nya yang tak terbatas, mengambil inisiatif. Dia memanggil Maria dengan namanya, sebuah tindakan yang menembus kesedihannya dan memungkinkan dia untuk mengenalinya. Tindakan sederhana ini menggarisbawahi kebenaran mendalam bahwa Kristus yang bangkit secara aktif mencari kita, bahkan di saat-saat kita mengalami keputusasaan yang terdalam.

 

Perikop ini menawarkan wawasan berharga bagi mereka yang menjalani hidup bakti. Seperti Maria Magdalena, kita mungkin juga menghadapi saat-saat ragu atau putus asa. Dunia bisa terasa luar biasa, dan beban panggilan kita bisa terasa berat. Namun melalui Injil Yohanes 20:11-18 mengingatkan kita bahwa Kristus tetap hadir, selalu mencari dan ingin menjalin relasi dengan kita. Panggilan kita bukanlah tentang kemandirian, tetapi tentang keterbukaan terhadap kehadiran-Nya yang transformatif. Dengan membiarkan Dia memanggil kita dengan nama, kita dapat mengalami pembaruan sukacita dan tujuan yang datang dari perjumpaan secara personal dengan Tuhan yang bangkit. Relasi yang transformatif ini kemudian menjadi pijakan misi kita dan memungkinkan kita untuk memancarkan kasih-Nya di dunia.

Kita harus meninggalkan diri sendiri agar mencapai persatuan dengan Allah dan dengan sesama kita. (Konst. FIC art. 65).

 

Refleksi

Apakah aku percaya bahwa Kristuslah yang aktif mencari dan menjumpaiku?

 

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, semoga Roh Kudus selalu membuka hati dan pikiran kami, agar selalu terbuka akan kehadiran Kristus di dalam hidup kami. Amin.

 

Pengutusan

Mengenal dan memahami peristiwa Kristus yang mencari dan menjumpaiku dalam hidup sehari-hari!

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas  Annunciata, Rumah Retret Syalom, Bandungan:

  1. Br. Albertus Hariyadi
  2. Br. Antonius Karyadi
  3. Br. Yoezep Margiyanto
  4. Sr. M. Ambrosia, AK
  5. Sr. M. Agnesia, AK

3 April, RABU, Lukas 24:13—35

 

Iman yang Menyala Kembali

 

Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, "Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam." Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan merekapun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. (Luk. 24:29—31).

Injil hari ini Lukas 24:35-48, mengisahkan perjalanan dua murid ke Emaus yang adalah metafora untuk perjalanan iman kita sendiri. Dua orang murid, hati mereka berat dengan kehilangan Yesus baru-baru ini, bergulat dengan mimpi yang hancur dan kebingungan. Percakapan mereka adalah permadani yang dijalin dengan kesedihan dan keraguan. Namun, di tengah keputusasaan ini, secercah harapan muncul.

Yesus, yang menyamar sebagai sesama pejalan, berjalan bersama mereka, dengan sabar mendengarkan kesedihan mereka. Dia kemudian membuka mata mereka terhadap Kitab Suci, mengungkapkan bagaimana kisah tentang Mesias yang menderita terbentang melalui perkataan para nabi. Saat pemahaman muncul, ketakutan awal mereka berganti menjadi kekaguman. Dalam tindakan sederhana memecah-mecahkan roti bersama, pengenalan itu berkelebat - gerakan akrab menjadi momen transformatif. Mereka melihat Kristus yang bangkit, dan iman mereka, yang tadinya redup, meledak menjadi komitmen baru untuk berbagi kabar baik. Perjumpaan ini mengingatkan kita bahwa di lembah tergelap sekali pun, iman dapat dinyalakan kembali melalui Kitab Suci, persekutuan, dan kehadiran Yesus yang transformatif.

Kita tetap menjadi orang yang tak memenuhi harapan, namun kita dapat selalu percaya akan kasih Allah  (Konst.

FIC art. 73).

Refleksi

Apakah aku pernah mengalami kehadiran Tuhan saat kehilangan harapan?

 

Doa (Bersama)

Allah yang mahakasih, semoga Roh Kudus selalu menyadarkan kami untuk hidup di dalam iman, harapan dan kasih yang kokoh. Amin.

 

Pengutusan

Menemukan pengalaman-pengalaman imanku yang meneguhkan!.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Servatius, Kampung Sawah,

Bekasi:

  1. Br. Yosef Anton Utmiyadi
  2. Br. Christianus Eko Wahyudi

 

 

4 April, KAMIS, Lukas, 24: 13—35

 

Memulihkan Harapan

Ia berkata kepada mereka, "Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur." Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” (Luk. 24:44—46).

Kehadiran mendadak Yesus memicu reaksi ketakutan dari para murid, yang salah mengira-Nya sebagai hantu. Hal ini mencerminkan gejolak emosi mereka, mengungkapkan betapa terguncangnya iman mereka dalam menghadapi realitas kebangkitan Yesus yang sulit dipahami. Meskipun demikian, Yesus dengan lembut menenangkan mereka, menegaskan keberadaannya dengan bukti fisik yang nyata, menghilangkan keraguan mereka akan kebenaran-Nya.

Penegasan akan Kebangkitan Yesus dengan daging dan tulang membawa kedamaian pada pikiran mereka, mengkonfirmasi bahwa Yesus bukanlah sekadar imajinasi atau hantu masa lalu. Hal ini mengakar mereka pada realitas yang tak terbantahkan akan kehadiran-Nya yang nyata dan transformatif. Lebih dari sekadar keajaiban fisik, perikop ini juga menekankan pentingnya memahami ajaran Yesus, membuka pikiran kita untuk terang baru dalam Kitab Suci yang mengiluminasi makna dan tujuan pengurbanan-Nya.

Pertanyaan Refleksi mengajak kita untuk memikirkan bagaimana kita merespons keraguan atau keputusasaan dalam iman kita sendiri, sementara pesan keseluruhan perikop menekankan bahwa dalam keadaan paling sulit sekalipun, iman kita dapat diperbaharui. Dengan mengenali Yesus dalam momen-momen hubungan dan dengan mendalami pemahaman akan ajaran-Nya, kita dapat mengalami kehadiran-Nya yang membawa perubahan dalam hidup kita.

 

Penderitaan yang ditanggung dengan baik, semakin mendekatkan kita dengan Allah dan sesama.  (Konst. FIC art.116).

 

Refleksi

Apakah aku pernah mengalami iman goyah dan bagaimana menghadapinya?

 

Doa (bersama)

Allah yang mahakasih, semoga pengalaman akan kebangkitan Kristus mengobarkan iman kami untuk selalu bersaksi akan iman dan pengharapan dalam Kristus yang bangkit. Amin.

 

Pengutusan

Menjadikan kebangkitan Kristus sebagai sumber hidup baru!

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St.Bernardus Deltamas, Bekasi:

  1. Br. Arnorldus Masdiharja
  2. Br. Antonius Hardianto
  3. Br. Markus Sujarwo

5 April, JUMAT, Yohanes 21:1—14

 

Mengenal Kehadiran Tuhan dalam Rutinitas

 

Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguhpun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka: "Marilah dan sarapanlah." Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya: "Siapakah Engkau?" Sebab mereka tahu, bahwa Ia adalah Tuhan. (Yoh 21:11—12).

 

Injil hari ini, Yohanes 21:1-11 menampilkan pandangan yang pedih tentang kehidupan para murid setelah peristiwa penting penyaliban dan kebangkitan Yesus. Putus asa dan tidak yakin, mereka kembali ke pekerjaan lama mereka - menjadi nelayan. Namun, bahkan dalam rutinitas yang familiar ini, percikan ilahi muncul. Kristus yang bangkit menampakkan diri, bukan dalam tontonan besar, tetapi di tepi pantai dunia keseharian mereka.

 

Meskipun upaya penangkapan ikan mereka gagal, instruksi sederhana dari Yesus menghasilkan hasil yang melimpah. Dalam "memecah-mecahkan roti," memori yang kuat teringat - saat-saat berbagi makanan dengan Yesus, simbol persekutuan dan pengajaran. Melalui tindakan ini, pengenalan muncul, dan Petrus, yang pernah dipenuhi keraguan, menegaskan kembali kasih dan komitmennya. Adegan ini mengingatkan kita bahwa bahkan di saat-saat kecil hati, Tuhan dapat menggunakan hal yang familiar untuk membawa kita kembali kepada tujuan kita dan memperbaharui iman kita.

 

Pewahyuan kasih Allah yang paling utama yaitu Yesus Kristus. Dalam Dia, Allah yang tak terbatas telah datang di antara kita  (Konst. FIC art. 56).

 

Refleksi

Apakah aku mudah menangkap kehadiran Tuhan dalam rutinitas harian hidupku?

 

Doa (Bersama)

Allah Bapa yang mahakasih, semoga kami selalu terbuka akan karya Roh Kudus, agar batin dan pikiran kami semakin tajam untuk melihat dan memahami kehadiran-Mu terutama di dalam kegiatan rutin hidup kami. Amin.

 

Pengutusan

Belajar mengenal dan mengerti kehadiran Tuhan dalam hal kegiatan rutin setiap hari.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Staf Rumah Khalwat Roncalli, Salatiga: 

  1. Br. Petrus Anjar Trihartono, FIC 
  2. Br. Redemptus Lastiya, FIC 
  3. Br. Anton Sumardi, FIC 
  4. P. Aloy. Rinata Hadiwardaya, MSF 
  5. Br. Petrus Suparyanto, FIC
  6. Br. Florentius Widyo Rijanto, FIC
  7. Sr. Grace Budiman, SDP

 

6 April, SABTU, Markus 16:9—15

 

Maria Magdalena

 

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Dari padanya, Yesus pernah mengusir tujuh setan.  Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang selalu mengiringi Yesus, dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. … Lalu Ia berkata kepada mereka, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. (Mrk. 16:9—10,15).

 

Maria Magdalena ialah seorang perempuan yang ditolong Yesus, ketika Yesus mengusir tujuh iblis dari padanya (Luk. 8:2). Nama Magdalena kemungkinan besar menyatakan kalau dia berasal dari Magdala, kota di sebelah barat daya Laut Galilea. Setelah Yesus mengusir tujuh iblis dari padanya, dia menjadi salah seorang pengikut Yesus.

Maria Magdalena sama sekali tidak diperkenalkan sebagai pelacur maupun sebagai perempuan yang berdosa, meskipun banyak orang menganggapnya demikian. Maria Magdalena juga selalu dikaitkan dengan seorang perempuan yang diselamatkan Yesus dari ancaman hukuman pelemparan batu karena perzinaannya (Yoh. 8:1—11). Namun, sekali lagi, hal ini tidak didukung bukti apa pun di dalam Alkitab. Film The Passion of the Christ yang membuat kaitan ini. Pandangan ini mungkin saja benar, namun lebih tidak mungkin dan tidak pernah dinyatakan oleh Alkitab.

 

Sebagai saksi pertama yang menyaksikan kebangkitan Yesus, ia diutus oleh Yesus untuk memberitakan kebangkitan-Nya kepada para murid (Yoh. 20:11—18). Meskipun ia kali terakhir disebutkan di bagian ini, kemungkinan besar ia termasuk perempuan yang berkumpul bersama dengan para rasul untuk menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan. (Kis. 1:14).

 

“Sebagai bruder, kita menyadari bahwa kita dipanggil dan diutus bersama, untuk ikut serta dalam karya Yesus. Ia berkeliling sambil berbuat baik. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran. Ia datang untuk melayani. Ia datang untuk menyelamatkan, dan Ia membawa amanat yang membebaskan, yaitu amanat kerajaan Allah, amanat cinta kasih. Ia mengundang kita untuk menyerahkan diri bagi pelayanan Kerajaan Allah.” (Konst. FIC art.15).

 

Refleksi

Maria Magdalena disebut sebagai misionaris yang pertama. Dialah yang kali pertama mewartakan kebangkatan Kristus. Sampai saat ini, manakah cara-caraku untuk menjadi pewarta kabar gembira Injil?

 

Doa (Bersama)

Yesus Tuhan kami, syukur dan terima kasih pada hari ini, melalui Maria Magdalena, Engkau telah mengajar kami untuk menjadi pewarta-pewarta ke-bangkitan-Mu. Semoga kesadaran akan tugas pewartaan ini, menuntun kami setiap langkah hidup kami dalam mencari cara-cara baru dalam mewartakan Injil-Mu. Amin.

Pengutusan

Menyadari diri bahwa setiap perbuatan baikku merupakan bentuk pewartaan Injil kepada orang-orang di sekitarku.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas   Bunda  Terkandung  Tak

Bernoda, Boro:

  1. Br. Marianus Sumardiyana
  2. Br. Marcelinus Senen
  3. Br. Bonifasius Kasmo
  4. Br. Ludgerus Haryono Widodo
  5. Br. Yohanes Sinu
  6. Br. Bambang Tri Margono, OFM

 

7 April,  MINGGU,  Yohanes 20:1931

 

Tomas

 

Yesus berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan janganlah engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yoh. 20:27—28).

 

Kisah Tomas mewakili orang-orang yang tidak hadir dalam peristiwa penampakan Yesus yang bangkit, hanya dapat mendengar kesaksian mereka. Karenanya, pembicaraan mengenai bekas luka di situ, dimaksud untuk menegaskan bahwa yang kini menampakkan diri itu sama dengan dia yang mati di kayu salib. Hal ini bukan perkara yang mudah.

 

Yesus menampakkan diri kepada Tomas dan meminta dia untuk meraba bekas luka itu sendiri, bila tindakan ini akan membuat dia percaya. Tomas diminta memutuskan sendiri, benarkah dia yang kini datang itu sama dengan yang dahulu diikutinya. Kepercayaan yang demikian besar dari pihak yang bangkit itu, membuat Tomas mengenalinya, lalu dia berseru, “Tuhanku dan Allahku!” Saat itulah mata batin Tomas terbuka. Melihat Yesus berarti melihat Allah yang mahatinggi, yang mengutus Yesus ke dunia ini. Itulah sebabnya, Tomas menyerukan dua sebutan itu.

 

“Dalam Perjanjian Baru, Persekutuan Umat Kristen Perdana memberikan kesaksian tentang Yesus dari Nazaret sebagai Mesias, Sabda yang telah menjadi daging, citra Allah yang hidup, Putra yang berdoa kepada Bapa dan mengajar kita bagaimana kita harus berdoa.” (Konst.FIC art. 68).

 

Refleksi

Sebagai religius bruder, kadang-kadang kita digodai untuk beriman seperti Tomas, yakni percaya kalau ada bukti-bukti positif. Benarkah demikian?

 

Doa (Bersama)

Yesus Tuhan kami, kami tidak tahu mesti mengucapkan apa untuk mengungkapkan rasa syukur kami. Syukur atas kehadiranmu yang telah bangkit dan memberikan rasa damai. Syukur  pula atas pengalaman Tomas yang menyadarkan kami, bahwa dengan memandang Engkau, kami Kauantarkan sampai kepada Allah Bapa. Untuk itu semua, kami ucapkan syukur kepada-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Melatih iman kepercayaan, dengan mendalami tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, seperti Tomas dalam Injil hari ini.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Perawan Maria, Bunda Allah, Wedi:

  1. Br. Yohanes Sumardi
  2. Br. Adrianus Sulistyo K.P.
  3. Br. Agustinus Anton Widyanto

 

8 April, SENIN, Lukas 1:26—38

 

Maria

 

“Dalam bulan yang keenam, Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf  dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.  Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata, "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu…. Kata Maria, "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu." (Luk. 1:26—29, 38).

 

Lukas menyebut Maria dengan lengkap, “seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria.” Dengan menyebut Maria dalam kedudukan ini, Lukas ingin mengajak pembaca melihat bahwa Gabriel memang diutus mendatangi seorang yang memungkinan Yesus lahir nanti, lahir dalam garis keturunan Daud.

 

Maria kemudian berkata, bagaimana mungkin ini terjadi, karena dia “belum bersuami”. Tidak usah kita sangkal, bahwa waktu itu Maria memang masih berpikir dalam ukuran-ukuran yang tidak dipakai Gabriel, atau lebih tepat, oleh Dia yang mengutusnya. Gabriel pun akan meluruskan pemikiran Maria.

 

Keterbukaan Maria untuk menerima penjelasan,itulah  yang  menjadi  kekuatan.

“Kehidupan Maria sepenuhnya dibaktikan bagi pelayanan terhadap putranya. Ia memandang dirinya sebagai hamba yang hina-dina, yang mengalami bahwa Tuhan mengerjakan karya agung dalam dirinya.” (Konst. FIC art.12).

 

Refleksi

Pernahkah aku mengalami, ketika rancangan pribadi diputarbalikkan oleh “Allah”? Bagaimana pergulatanku saat itu terjadi?

 

 

Doa (Bersama)

Ya Maria, Bunda Pelindung kami, kami bersyukur atas teladanmu, keterbukaan terhadap rancangan Allah dengan segala konsekuensinya. Dalam keterlindunganmu, kami percaya bahwa kami pun semakin menjadi terbuka akan rencana-rencana Allah yang kadang-kadang tersembunyi di dalam peristiwa hidup sehari-hari. Amin.

 

Pengutusan

Melatih diri untuk bertanya seperti Maria pada setiap peristiwa, “Apa arti salam ini?”

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Paulus, Kembangan, Jakarta Barat:

  1. Br. Anton Marsudiharjo
  2. Br. Heri Sumardjo Bekti Kristana
  3. Br. Yohanes Sudarman
  4. Br. Valentinus Pardi
  5. Br. Laurentius Baharu

 

9 April, SELASA, Yohanes 3:7—15

 

Nikodemus

 

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu, ”Engkau harus dilahirkan kembali." (Yoh. 3:7).

 

Nikodemus mulai menyadari bahwa Yesus datang dari Dia. Semua ini disampaikannya kepada Yesus sambil mengharapkan pencerahan lebih jauh. Dikatakan oleh penginjil, ia menemui Yesus pada malam hari. Malam adalah saat kegelapan dan kuasanya terasa mencengkam.

 

Injil Yohanes mengajak pembaca ikut mengalami yang dirasakan Nikodemus dan dengan demikian dapat ikut masuk ke dalam pembicaraan dengan Yesus sendiri. Dalam ayat 3, Yesus menegaskan bahwa hanya orang yang dilahirkan kembali – dan dilahirkan dari atas sana – akan melihat Kerajaan Allah. Semakin disimak, jawaban Yesus ini semakin membawa kita kepada pertanyaan yang sebenarnya ada dalam hati Nikodemus dan boleh jadi juga dalam diri kita, “Apa maksud macam-macam mukjizat yang dilakukan Yesus, yang tentunya disertai Allah itu?” Tentu tak lain tak bukan ialah…kenyataan apa itu Kerajaan Allah! Itulah yang dibawakan Yesus kepada orang banyak. Inilah yang semestinya dicari orang.  Nikodemus bertanya lebih lanjut, “Kalau begitu bagaimana caranya bisa ikut masuk ke dalam Kerajaan ini?”

 

Penjelasan Yesus diberikan dalam wujud kesaksian mengenai diri-Nya. Ia datang dari atas sana. Karena itulah, Ia dapat membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Yesus ialah orang yang sudah mengalami apa itu lahir kembali dari atas sana, dan yang kini hidup dalam roh. Untuk mengalami bagaimana lahir dalam roh, jalannya yaitu berbagi hidup dengan dia yang sungguh sudah ada dalam keadaan itu.

 

“Oleh karena itu, didorong oleh Roh-Nya, sama seperti orang-orang Kristen perdana, kita berhasrat hidup sehati sejiwa, karena kita merupakan persekutuan, dan kita berusaha sungguh-sungguh untuk membangun persekutuan di luar lingkungan kita sendiri.”  (Konst.FIC art.35).

 

Refleksi

Seperti pengalaman Nikodemus, maukah kita semakin mengerti siapa itu Yesus dan semakin lebih dekat untuk mengikuti Dia?

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, kami mengucapkan syukur kepadamu, karena melalui Nikodemus kami menjadi sadar akan pergulatan kami untuk mengikuti Engkau. Semoga dengan semakin membaca dan merenungkan Sabda-Mu, kami semakin mengimani misteri Kerajaan yang Kauwartakan itu. Amin.

 

Pengutusan

Menyediakan waktu untuk membaca kisah tokoh-tokoh beriman dalam Kitab Suci.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Belitang, Sumatra Selatan:

1)  Br. Agustinus Agusono

2)  Br. Pilipus Sukiran

3) Br. Yohanes Baptista Suranto

10 April, RABU, Yohanes 3:16—21

 

Lahir Kembali

 

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan  Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia  bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum;  siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. (Yoh.3:16—18).

 

Atas pertanyaan Nikodemus tentang bagaimana caranya orang bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah, Yesus menjawab, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.”

 

Jawaban tadi semakin membuat Nikodemus bertanya-tanya. Boleh jadi, kita juga demikian. Bagaimana bisa, orang setua dia, setua kita, dapat lahir kembali. Tentu Nikodemus tidak berpikir secara harafiah belaka. Ia tahu yang dimaksud, ialah lahir kembali secara rohani. Namun, justru itulah soalnya, bisakah orang yang sudah jauh melangkah di jalan lain mendapatkan hidup baru? Berangkat dari nol lagi? Adakah hidup dalam roh sepadan dengan pengurbanan yang perlu dijalani? Menanggalkan hidup badaniah, menisbi-kannya demi hidup dalam roh? Inilah maksud pertanyaan dalam ayat 9, “Bagaimana itu bisa terjadi?”

 

Yesus memberikan penjelasan dengan rupa kesaksian mengenai diri-Nya. Yesus datang dari atas sana. Karena itulah ia dapat membawakan Kerajaan Allah kepada orang banyak. Yesus ialah orang yang sudah mengalami apa itu lahir kembali dari atas sana, dan yang kini hidup dalam roh.

 

”Pewahyuan kasih Allah yang paling utama yaitu Yesus Kristus. Dalam dia, Allah yang tak terbatas telah datang di antara kita, dalam penjelmaan yang terbatas dan duniawi. Yesus Kristus itulah Allah beserta kita; Yesus Kristus itulah saudara kita, sama seperti kita dalam segala hal, kecuali dalam hal dosa.” (Konst.FIC art. 56).

 

Refleksi

Seperti dikatakan Yesus kepada Nikodemus, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, orang harus hidup dalam roh. Sejauh mana selera rohani dari pembaktian diriku sebagai religius?

 

Doa (Bersama)

Ya Yesus, syukur dan terima kasih, sebab melalui Nikodemus, Kaubukakan kesadaran kami akan hal yang hakiki dalam hidup ini. Kauarahkan hidup kami untuk menuju Terang tempat Engkau sendiri berasal dari atas sana. Tambahkanlah kekuatan iman kepada kami, agar semakin mampu untuk hidup dalam tuntunan Roh-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Membiasakan diri untuk mawas diri, agar lekas tanggap mana gerak roh jahat dari gerak roh baik.

 

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Bernardus, Ketapang:

  1. Br. Valentinus Naryo
  2. Br. Leonardus Paryoto
  3. Br. Paskalis Baylon Puryoko
  4. Br. Tomas Tefa
  5. Br. Yohanes Ari Apelabi

 

11 April, KAMIS, Yohanes 3: 31—36

Mewahyukan Diri-Nya

 

Ia memberikan kesaksian tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku, bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus  Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. (Yoh.3:32—35).

 

Salah satu kebijakan Kongregasi FIC melalui Tim Promosi Panggilan adalah memberi kesempatan para pemuda yang ingin mengenal kehidupan para bruder untuk tinggal bersama di suatu komunitas atau live in. Pengenalan ini penting untuk memberi pertimbangan pemuda tersebut ingin bergabung dengan kongregasi atau tidak. Tentu live in bukan keharusan. Tetapi dengan live in, seseorang akan lebih kaya dan luas pemahamannya tentang kehidupan yang riil, tentang siapa Bruder FIC.

Yesus dalam Injil hari ini dapat menjelaskan siapa Bapa yang telah mengutus-Nya, karena Ia sungguh datang dan tinggal bersama Bapa. Ia dapat menjelaskan siapa Allah secara mendetail dengan segala kualitasnya, kepada para murid, karena relasi-Nya yang sangat intim dengan Allah. Yesus adalah pewahyuan diri dari Bapa.

 

Kita ini terbatas. Oleh karena itu, jika Allah tidak mewahyukan diri-Nya, ia tetap tak dapat kita bayangkan. Kita percaya bahwa Ia telah mewahyukan diri-Nya. Dalam Yesus dari Nazaret, kita melihat citra Allah yang hidup. Dalam Yesus dari Nazaret, Allah adalah manusia bersama kita. (Konst. FIC art. 3).

 

Refleksi

Sejauh mana aku mengenal, mencintai, dan mengikuti Yesus melalui kehidupanku sebagai religius?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau telah memberikan kesaksian kepada dunia tentang kebesaran kasih-Mu. Semoga kami Kaumampukan memberikan kesaksian tentang kebesaran kasih-Mu itu, kepada sesama yang kami jumpai sehari-hari, sehingga semakin banyak orang memperoleh keselamatan yang bersumber dari belas kasih-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Mewartakan kasih Allah dengan sukacita.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Maria Mediatrix, Klaten:

  1. Br. Nicolas Budihardja
  2. Br. Agustinus Sakiman
  3. Br. Agustinus Sudarmadi
  4. Br. Yohanes Bosko Purwanto
  5. Br. Fransiskus Mujiono

 

12 April, JUMAT, Yohanes 6: 1—15

Ketulusan Dalam Pemberian Diri

 

Seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; namun apakah artinya itu bagi orang sebanyak ini?" Kata Yesus, "Suruhlah orang-orang itu duduk." Adapun di tempat itu banyak rumput. Maka duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. (Yoh. 6: 8—11).

 

Kisah Yesus memberi makan lima ribu orang dapat terjadi karena dua aspek. Pertama, ketulusan seorang anak yang memiliki lima roti dan dua ikan. Ketulusan anak ini menjadi berkat bagi banyak orang. Kedua, Yesus mengucap syukur dan terima kasih kepada Allah atas pemberian anak berupa lima roti dan dua ikan. Ucapan syukur dan terima kasih ini mengubah sesuatu yang tidak masuk akal menjadi suatu realita. Lima roti dan dua ikan dibagi dengan tulus dan ternyata cukup untuk lima ribu orang, bahkan masih tersisa.

 

Melalui prasetia kemiskinan, kita belajar dari para bruder pendahulu, untuk menyerahkan dengan tulus, apa yang kita peroleh kepada kongregasi. Hasil jerih lelah para bruder dikumpulkan dan menjadi “dana abadi” yang bisa menghidupi kongregasi hingga hari ini. Kita pun diundang untuk melakukan hal serupa.

 

Sebagai perseorangan maupun persekutu-an, dalam hal penggunaan uang dan harta milik, serta segalanya yang kita terima atau kita hasilkan, kita serahkan kepada persekutuan demi pertumbuhan Kerajaan Allah, demi dunia baru-Nya, yaitu dunia kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita. (Konst. FIC art. 88).

 

 

Refleksi

Sudahkah aku secara tulus dan jujur menyerahkan aneka pendapatan kepada komunitas/kongregasi?

 

Doa (Bersama)

Terima kasih ya Bapa, atas perjuangan para bruder pendahulu. Mereka telah menjadi peletak pondasi kongregasi. Semoga kami Kaumampukan melanjutkan perjuangan mereka. Amin.

 

Pengutusan

Tertib membuat pembukuan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Postulat, Muntilan:  

  1. Br. Savio Gino Nataprayoga 
  2. Br. Agustinus Suparno 
  3. Br. F. A. Galih Sih Hartanta
  4. Br. Antonius Teguh Nugraha 
  5. Fr. Herman Afrizal Sihombing

 

13 April, SABTU, Yohanes 6:16—21    

Badai Dalam Hidup

 

Ia berkata kepada mereka, "Aku ini, jangan takut!" Mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga, perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh. 6: 20—21).

 

Gereja bagai bahtera mengarungi zaman, begitu kita sering menggambarkannya. Itulah pengalaman para murid yang di-tinggalkan, setelah Yesus menggandakan roti. Mereka naik perahu menyeberang ke Kapernaum. Ketika badai menghantam, rasa takut sulit dikendalikan. Ketakutan para murid membuat tidak mampu mengenali kehadiran Yesus.

 

Badai yang mengamuk dapat meng-guncang kepastian apa pun dalam hidup. Bagi kita yang pernah opname dan sakit parah sampai masuk ke kamar operasi, dapat mengingatkan betapa kita sering merasa takut dan tidak berdaya. Pengalaman sakit dan kesulitan hidup, dapat membuat kita tak mampu lagi memahami kehadiran Tuhan. Namun, justru di tengah badai hidup itulah, Allah sering hadir dengan cara-Nya yang tak terduga. Memang, kita tak selalu dapat memahami apa yang sedang Allah kerjakan. Bahkan, kita pun sering merasa takut, ketika melihat kehadiran Tuhan. Kita percaya bahwa selalu ada makna di balik aneka badai yang melanda hidup kita.

 

Kita hendaknya sadar, betapa pun aneh kedengarannya, penderitaan sungguh dapat memperdalam kebahagiaan kita, dan dapat sungguh membuka hati kita untuk mencintai. Penderitaan yang ditanggung dengan baik, semakin mendekatkan kita kepada Allah dan sesama. Yesus sendirilah teladan hidup kita. Pada hari-hari buruk, Ia tetap setia kepada tugas-Nya, dan kepada panggilan-Nya: “Taat sampai mati, bahkan mati di salib”. Kita juga melihat kesetiaan dalam kehidupan Maria, yang dalam sukacita penuh kesetiaan, melagukan Magnificatnya, dan yang dalam kegelapan penderitaan, berani berdiri di dekat salib. (Konst. FIC art. 117).

 

Refleksi

Badai macam apa yang meneguhkan panggilanku? Bagaimana kisahnya?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, bantulah kami dengan Roh-Mu, agar kami tetap setia dan mengandalkan kuasa-Mu, pada saat kami mengalami aneka badai kehidupan. Amin.

 

Pengutusan

Memercayakan hidup pada kuasa Allah.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Immaculatae, Haji Nawi, Jakarta Selatan:

  1. Br. Agustinus Mujiya
  2. Br. Albertus Slamet
  3. Br. Gregorius Bambang Nugroho
  4. Br. Valentinus Vembriyanto
  5. Br. Boromeus Haryono

 

 

14 April, MINGGU, Lukas 24: 35—48

 

Saksi Pertobatan dan Pengampunan

 

Kata-Nya kepada mereka, "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamu adalah saksi dari semuanya ini. (Luk. 24: 35—48).

 

Bagi orang Yahudi, dosa itu ibarat jerat yang menyeret orang ke dasar telaga yang dalam. Semakin dalam, semakin tak berdaya, menyesesakkan, dan gelap. Gambaran ini bisa kita baca dalam Mazmur 18: 5—6, yang menyebut tali-tali maut yang melilit dan makin menyesakkan. Satu-satunya jalan adalah minta tolong kepada Yang Mahakuasa, Sang Pembebas. Kita bisa mencermati dalam Mazmur 130, yang dengan jelas menggambarkan seruan minta tolong dari jurang yang dalam.

Manusia dibebaskan dari dosa, kalau melakukan pertobatan dan pengampunan.  Kita diundang menjadi saksi kebangkitan Yesus, bahwa pertobatan itu bisa terjadi karena rahmat-Nya dan pengampunan dosa itu membebaskan. Syarat mutlak untuk menjadi saksi Yesus adalah iman. Iman yang berakar dalam, hanya terbentuk apabila kita terus-menerus membangun relasi pribadi dengan Yesus,  terutama dalam doa dan Ekaristi, serta terus belajar mengenal Yesus melalui kebiasaan membaca dan merenungkan Kitab Suci.

 

Kita ingin membuka hati dan budi kita terhadap Sabda Allah, dengan sering dan secara teratur membaca dan merenungkan teks-teks Kitab Suci. Dalam Kitab Suci, kita membaca bagaimana Allah memperkenal-kan diri-Nya sebagai Allah yang hadir di dunia kita, dan dalam sejarah umat manusia, yaitu bagaimana Dia mewahyukan diri-Nya. (Konst. FIC art. 68).

 

Refleksi

Mudahkah aku mengampuni sesama?

 

Doa (Bersama)

Bapa, terima kasih atas jalan keselamatan melalui Yesus, Putra-Mu. Mampukanlah kami, untuk menjadi saksi keselamatan-Mu, melalui pelayanan kami sehari-hari. Amin.

 

Pengutusan

Membaca dan merenungkan Kitab Suci.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Novisiat Kanonik, Muntilan:

  1. Br. Petrus I Wayan Parsa
  2. Fr. Marselinus Anton Kelitadan
  3. Fr. Laurensius Gde Gunawan Subrata
  4. Fr. Philipus Aji Sapto Wibowo

Komunitas Novisiat Lanjutan, Muntilan:

  1. Br. Robertus Koencoro Budi S.
  2. Fr. Yakobus Aditiya
  3. Fr. Yohanes Zendi Pamungkas
  4. Fr. Gembira Fransiskus Simbolon
  5. Fr. Jaimito Tan Tuames
  6. Fr. Gregorius Yoan Danu Tama
  7. Fr. Deniz Lopes de Araujo

15 April, SENIN, Yohanes 6: 22—29

 

Belajar Percaya

 

Kata mereka kepada-Nya, "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya  kepada Dia yang telah diutus Allah." (Yoh. 6: 28—29).

 

Dalam bahasa Inggris, kita mengenal kata believe dan trust. Terjemahan kedua kata tersebut dalam bahasa Indonesia memang sama, yakni percaya. Kalau dalam Injil hari ini, kita diminta oleh Yesus untuk percaya kepada-Nya sebagai utusan Allah, kata mana dalam bahasa Inggris yang dapat mewakilinya?

 

Percaya sebagai believe terjadi pada tataran intektual dan tidak menuntut komitmen apa-apa dari kita, kecuali mengiyakan saja. Sebaliknya, percaya sebagai trust, menuntut kita untuk menyerahkan sebagian atau seluruh diri kita kepada pihak yang kita percayai. Oleh sebab itu, jelas bahwa percaya yang dimaksud Yesus dalam Injil hari  ini  adalah

I trust God.

 

Percaya kepada Tuhan yang bermakna selalu menyerahkan dan memasrahkan segenap hati, diri, dan apa pun yang kita lakukan kepada-Nya. Dalam keyakinan yang mendalam, bahwa Dia selalu memberikan hal yang terbaik kepada kita. Yesus menghendaki kita tumbuh dari hari ke hari, hidup penuh kepasrahan kepada-Nya.

 

Iman tumbuh dan berkembang karena rahmat Allah. Percaya akan Allah berarti – dalam arti yang sedalam-dalamnya – kita berani menyerah tanpa syarat kepada-Nya. Penyerahan ini berdasarkan kepercayaan yang tak terbatas serta didorong oleh kasih, karena Ia telah lebih dahulu mengasihi kita. (Konst. FIC art. 54).

 

Refleksi

Kepercayaan macam apa yang kuhayati selama ini?

 

 

 

Doa (Bersama)

Tuhan, ampunilah kami yang kadang- kadang kurang memercayakan diri hidup kami kepada-Mu dan lebih mengandalkan kekuatan diri kami sendiri. Amin.

Pengutusan

Terus-menerus  memercayakan hidup  ke dalam penyelenggaraan Tuhan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Santo Fransiskus Xaverius, Yogyakarta:

  1. Br. Petrus Heru Nugroho
  2. Br. Agustinus Marjito
  3. Br. Damasus Agung Marwilistyo
  4. Br. Titus Totok Trinugroho
  5. Br. Yustinus Tri Haryadi
  6. Br. Stefanus Agus Faisal
  7. Br. Andreas Andri Anggun Pah
  8. Br. Aloysius Riyanto 
  9. Br. Ag. Waruwu, OFMCap.
  10. Fr. David Juliawan Ndruru, OFMCap.
  11. Fr. Kaspar Indar Cahyadi W., OFMCap

 

16 April, SELASA, Yohanes 6:30—35

 

Sumber Hidup yang Sejati

 

Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.” (Yoh. 6:35).

 

Ada banyak hal yang membuat kita hidup, berdaya,dan bergairah. Mungkin kesuksesan, atau sanjungan, atau penerimaan orang-orang di sekitar kita. Semoga semua itu akhirnya kita hayati hanya sebagai cara Allah untuk merawat hidup kita. Semoga, setelah kita mengalami didayai oleh pengalaman duniawi itu, kita bertumbuh untuk hanya menyandarkan diri pada Allah yang menjadi sumber hidup kita yang sejati.

 

Konstitusi kita menegaskan bahwa perjalanan hidup kita harus mengarah dan menuju kepada Yesus Kristus. “Yesus mewahyukan kepada kita, citra manusia yang memenuhi kehendak Allah secara sempurna. Oleh karena itu, menjadi manusia yang baik, menjadi manusia yang lebih baik, berarti berkembang ke arah Yesus, semakin menyerupai Yesus; menimba kehidupan dari hidup-Nya; menjadikan Kabar Gembira Kerajaan Allah, pesan bagi kita sendiri. Kita mewujudkan hal ini dalam keterbatasan dan kelemahan kita, tetapi juga dalam kekuatan rahmat Allah yang mengangkat kita melampaui diri kita.” (Konst. FIC Art. 4)

 

Refleksi

Apa yang menjadi sumber hidupku saat ini?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas kasih-Mu kepada kami. Tolonglah kami, agar kami semakin berani mengandalkan Dikau sebagai sumber kekuatan hidup kami. Amin.

 

Pengutusan

Memohon rahmat keberanian berserah kepada Allah.

 

 

 

 

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Hati Kudus, Salatiga:

  1. Br. Redemptus Lastiya
  2. Br. Herman Yoseph Sagiman S. S.
  3. Br. Thomas Didimus Sumaryadi
  4. Br. Petrus Anjar Trihartono
  5. Br. Petrus Suparyanto
  6. Br. Zakarias Puji Lestariyo
  7. Br. Florentius Widyo Rijanto
  8. Br. Fransiskus Saptono
  9. Rm. Robertus B. Asiyanto, SVD

 

17 April, RABU, Yohanes 6:35—40

 

Teladan Kerendahhatian

 

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, melainkan untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku. (Yoh. 6:37—38).

 

Salah satu pesan yang bisa dimeditasikan dari kutipan Injil hari ini adalah ayat 37 dan 38. Yesus menyadari bahwa Ia mendapat kuasa dari Bapa. Yesus meletakkan diri-Nya dalam rancangan pengutusan Bapa. Ia taat pada kehendak Bapa, bukan kehendak-Nya sendiri. Yesus hanya melakukan apa yang dikehendaki Bapa. Dinamika seperti ini adalah prinsip penghayatan prasetia ketaatan. Mungkinkah orang yang mampu menghayati ketaatan itu adalah orang yang rendah hati?

 

Mungkin juga penghayatan ketaatan itu mempunyai aspek melatih kerendahhatian kita. Konstitusi art. 83 (Ketaatan terhadap Pribadi) mengungkapkan, “Dengan suka- rela menempatkan diri dalam ketaatan di bawah kuasa sesama bruder, dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang berat bagi kehidupan kita, yang kadang-kadang menuntut banyak dari kita.”

 

Refleksi

Adakah keutamaan diri yang tumbuh dan berkembang dari pengalaman menghayati triprasetia?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas karunia triprasetia bagi kami. Tolonglah kami, untuk semakin terbuka dan ikhlas menghayati triprasetia itu, sehingga keutamaan hidup kami semakin tumbuh dan berkembang. Amin.

 

Pengutusan

Mohon rahmat kerendahhatian dalam latihan ketaatan.

Berdoa khusus bagi:

Komunitas “Wisma Bernardus”, Don Bosko, Semarang:

  1. Br. Venantius Sartana
  2. Br. Yosaphat Sukosuwito
  3. Br. Berchmans Nyotoharjo
  4. Br. Anton Hadiwardaya
  5. Br. Antonius Paryanta
  6. Br. Yohanes Sugiyono
  7. Br. Fransiskus Asisi Dwiyatno
  8. Br. Simon Andrus Briyanto
  9. Br. Yohanes Triwuryanto
  10. Br. Antonius Iswanto
  11. Br. F.X. Kuswara Widigdo
  12. Br. Thomas Nova Wibisono

 

 

18 April, KAMIS, Yohanes 6:44—51

 

Keselamatan itu Anugerah

 

Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. (Yoh. 6:44)

 

Pernyataan ayat 44, “Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku”, menegaskan prinsip iman akan keselamatan jiwa. Pesannya, manusia mutlak membutuhkan kasih Allah demi keselamatan jiwanya. Dalam iman kita, prinsip ini dirawat dan dijaga dengan setia menerima Ekaristi. Itulah yang ditegaskan Yesus pada ayat 51, “Akulah roti hidup yang telah turun dari surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.”

 

Konstitusi artikel 70 (Ekaristi) menawarkan perspektif lain dari prinsip iman akan keselamatan jiwa, “Ekaristi merupakan perayaan tertinggi persatuan kita dengan Yesus Kristus, perayaan tertinggi cinta kasih. Ekaristi juga merupakan perayaan persatuan kita seorang dengan yang lain dan dengan semua orang dalam Dia.”

 

Refleksi

Bagaimanakah pertumbuhan penghayatan Ekaristiku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas anugerah Sakramen Ekaristi bagi kami. Kami mohon pertolongan-Mu, agar kami senantiasa memiliki kerinduan untuk menyambut Engkau dalam merayakan Ekaristi. Amin.

 

Pengutusan

Mohon anugerah kerinduan yang men-dalam, untuk mengalami kehadiran Allah saat merayakan Ekaristi.

 

 

 

 

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Josef Pekerja, Don Bosko, Semarang:

  1. Br. Martinus T. Handoko
  2. Br. Yohanes Sudaryono
  3. Br. Heribertus Irianto Mulyono
  4. Br. Yohanes Hartoko Susilo
  5. Br. Michael Sidharta Susila
  6. Rm. Mateus Sudiantoro, SDB

 

 

 

19 April, JUMAT,  Yohanes 6:52—59

 

Jalan Menyatu dengan Allah

 

Siapa yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga siapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. (Yoh. 6:5657).

 

Dalam terang inspirasi Injil menurut Yohanes, dinamika hidup kita harus bergerak semakin menyatu dengan Allah. Jalan yang ditempuh adalah menerima Yesus. Tindakan yang dilakukan untuk menerima Yesus adalah menerima Ekaristi. Sebab, dalam Ekaristi, kita menerima tubuh dan darah Yesus secara materi dan imani. Inilah perwujudan ayat 56. Selanjutnya, dengan merayakan Ekaristi, kita mendapat daya hidup sejati dari Allah Bapa, sebab tubuh dan darah Yesus Kristus yang kita terima itu dipenuhi dengan sempurna oleh daya Allah Bapa. Ini yang digambarkan ayat 57.

 

Jalan penyatuan diri kita dengan Allah ini khas dalam iman Kristiani, yaitu pada iman inkarnasi Allah. Iman itu dilukiskan dengan amat baik pada Konstitusi art. 3 (Allah: Manusia Bersama Kita), “Kita ini terbatas. Oleh karena itu, jika Allah tidak mewahyukan diri-Nya, la tetap tak dapat kita bayangkan. Kita percaya bahwa la telah mewahyukan diri-Nya. Dalam Yesus dari Nazaret, kita melihat citra Allah yang hidup. Dalam Yesus dari Nazaret, Allah adalah manusia bersama kita.”

 

Refleksi

Sempatkah aku bersyukur atas tradisi dan kekhasan imanku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, terima kasih atas iman kami. Terima kasih karena Engkau berkenan merendahkan diri berinkarnasi, Engkau hadir dalam keterbatasan kami, sehingga kami dimungkinkan menyatu dengan Dikau secara sempurna. Amin.

 

 

 

Pengutusan

Menghayati lagi dalam rasa syukur, saat menerima hosti suci, sebagai saat disatukan dengan Allah.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Maria Ratu Kenya, Danan, Giriwaya:

  1. Br. Petrus Paijan
  2. Br. Heribertus Triyanto
  3. Br. F.A. Teisianus Leonardo

 

 

 

 

20 April, SABTU, Yohanes 6:60—69

 

Membutuhkan Allah

 

Yesus berkata, "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." (Yoh. 6:65).

 

Pernyataan Yoh. 6:65 menegaskan lagi prinsip bahwa kita membutuhkan Allah – Yesus berkata, "Sebab itu telah Kukatakan kepadamu: Tidak ada seorang pun dapat datang kepada-Ku, kalau Bapa tidak mengaruniakannya kepadanya." – Hidup manusia dan semua yang terjadi padanya melulu anugerah kasih Allah. Dengan demikian, menjadi Kristen itu anugerah; menjadi religius bruder itu anugerah; dapat bertekun dan setia menjalani hidup sebagai bruder FIC sesuai dengan Konstitusi itu juga anugerah. Yang perlu kita tumbuh kembangkan adalah sikap batin membutuhkan Allah, sebab tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Yesus Kristus Sang Juruselamat, bila Allah Bapa tidak melimpahkan kasih karunia-Nya.

 

Terhadap keutamaan iman ini, Konstitusi art. 2 (Dalam Allah) memberikan  kesaksian, “Kita percaya bahwa seluruh hidup kita ditopang oleh Allah yang berpribadi, Allah yang merangkul kita dan semua orang serta segala yang ada, Allah yang adalah kasih.”

 

Refleksi

Seberapa besar kesadaranku bahwa hidupku melulu anugerah dari Allah?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau menciptakan kami indah. Semoga kami mengalami keindahan itu, ketika menyadari hidup kami melulu dipenuhi oleh anugerah-anugerah dari pada-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Mohon rahmat kerendahhatian dan rasa membutuhkan Allah.

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Br. August, Sedayu:

  1. Br. Antonius Kurniawan Romy S.
  2. Br. Yustinus Wahyu Bintarto
  3. Br. Krisologus Pusrayan Dono

 

 

21 April, MINGGU, Yohanes 10:11—18

 

Domba Mengenal Gembala

 

Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku, sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.(Yoh. 10:1415).

 

Tuhan Yesus adalah gembala yang baik. Ia mengenal domba-domba-Nya. Kita sebagai domba-domba tidak bisa menyembunyikan diri. Seluruh pribadi kita dikenal-Nya.  Apa apun yang tersembunyi bagi manusia, bagi Sang Gembala terang-benderang. Ia yang memanggil kita. Ia yang menuntun kita ke rumput yang hijau, tempat kita mengalami kebahagiaan yang sejati.

 

Semoga kita menjadi domba-domba yang baik, mengenal Sang Gembala. Semoga kita peka, mampu mengenal perilaku-Nya, sehingga kita tidak keliru mengikuti-Nya. Agar mampu menangkap suara-Nya, dan mengerti nada panggilan-Nya, kita membutuhkan keheningan. Domba yang baik senantiasa siap untuk berkumpul dengan yang lain. Dia terus-menerus mengumpulkan kita, menjadikan saudara bagi yang lain. Ia memberikan nyawa-Nya bagi kita, domba-domba-Nya.

 

Untuk menjadi domba yang baik, kita belajar dalam keheningan membangun persaudaraan, yang saling memberikan diri, seperti yang dinyatakan dalam  konstitusi, “Kita bersedia mendengarkan orang lain dan menerima pertolongan mereka; kita hendaknya menghargai orang lain, meskipun dalam kenyataan mereka berbeda dengan kita; kita mampu memberikan diri kita bagi orang lain, namun tetap menjadi diri kita sendiri.” (Konst. FIC art. 39).

 

Refleksi

Bagaimana aku mendengarkan dan mengenal Sang Gembala dalam hidupku sehari-hari?

 

Doa (Bersama)

Ya Bapa, ajarilah kami menjadi domba-domba-Mu yang selalu setia mendengarkan suara-Mu, dan melakukan tuntunan-Mu. Semoga kami dapat mewujudkannya dalam hidup bersama, yang saling mendengarkan, saling belajar, dan saling menguatkan dalam melakukan kehendak Sang Gembala. Amin.

 

Pengutusan

Menjadi domba yang baik dengan menciptakan keheningan dan mendengarkan suara Sang Gembala.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Aloysius, Sukaraja:

  1. Br. F.X. Teguh Supono
  2. Br. Romanus Paryanto
  3. Br. Ignatius Andri Pratomo

 

 

22 April, SENIN, Yohanes 10:1—10

 

Yesus Pintu Keselamatan

 

Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput.(Yoh. 10:9).

 

Hari ini, Yesus menjelaskan bahwa Ia adalah pintu yang memasukkan domba-domba ke dalam keselamatan. Domba-domba tidak akan bisa masuk jika tidak melewati diri-Nya. Ia datang supaya domba-domba mempunyai hidup dan mempunyainya dalam kelimpahan.

 

Dalam perumpamaan ini, Yesus sebagai pintu kandang domba. Pintu kandang domba adalah jalan sempit untuk keluar dan masuk domba. Dengan lewat pintu itu domba akan dikenal, ditunjukkan, diarahkan, dan dituntun untuk menemukan rumput yang hijau, air yang segar. Dengan lewat pintu yang benar, domba-domba akan terjamin hidupnya.

Kita sendiri tidak mampu menjamin keselamatan, kesejahteraan dalam hidup kita. Sehebat perencanaan, srategi, dan sebijaksana apa pun, kita tidak dapat menjamin keselamatan jiwa kita. Harta kekayaan duniawi, yang kita dapatkan, tidak bisa menjamin kehidupan kita. Harta duniawi dapat sirna dalam sekejap, ketika bencana alam tiba. Kita hanyalah orang-orang  yang lemah. Hanya Yesuslah yang dapat menjamin keselamatan sejati dalam hidup dan mati kita. Kita hendaknya menaruh kepercayaan penuh, kepada Pintu Keselamatan. Kita perlu bertekun dan setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak Sang Pintu Keselamatan.

 

Dalam doa, kita mencari kasih dan rahmat Allah. Dalam doa, kita berharap semakin membuka diri terhadap kehendak-Nya, dan semakin mampu membedakan gerakan-gerakan Roh. Dalam doa, kita berusaha mengarahkan diri kepada kehendak-Nya bagi kita masing-masing dan bagi persekutuan kita. (Konst. FIC art. 60)

 

 

 

Refleksi

Yesus Kristus adalah jaminan keselamatan kita. Yakinkah aku bahwa Yesus Kristus sebagai pintu keselamatanku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus, Engkaulah jaminan keselamatan bagi kami. Kami bersyukur memiliki Gembala yang baik, yang menjadi pintu keselamatan bagi kami. Amin.

 

Pengutusan

Bertekun dan setia dalam doa dan medengarkan Sabda Tuhan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Vincensius a Paulo, Randusari, Semarang:

  1. Br. Yohanes Wiryasumarta
  2. Br. Antonius Parjana
  3. Br. Albertus Suwarto
  4. Br. Gregorius Suhadi
  5. Br. Martinus Hans Gendut Suwardi
  6. Br. Andrias Eko Susanto
  7. Br. Agustinus Marsanto
  8. Fr. Charles Thomana, Pr

23 April, SELASA, Yohanes 10:2230

 

Percaya Yesus Mesias

 

Yesus menjawab mereka, "Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. (Yoh. 10:25—26).

 

Orang-orang Yahudi melihat Yesus merasa bimbang dan ragu. Yesus itu sebenarnya Mesias atau bukan Mesias. Mereka minta penjelasan kepada Yesus untuk menerangkan siapa Diri-Nya yang sebenarnya. Namun, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa Ia telah bersaksi tentang diri-Nya sebagai Mesias, tetapi mereka tidak mau percaya. Mereka bukan domba-domba-Nya. Mereka tidak mau mendengarkan suara-Nya. Mereka pun tidak mau mengikuti-Nya.

 

Menjadi domba berarti menaruh kepercayaan dan melakukan kehendak Yesus yang bersabda dan berkeliling berbuat baik. Yesus sebagai Mesias, sang penyelamat, pemberi hidup kekal bagi kita yang percaya dan melaksanakan kehendak-Nya. 

 

Percaya akan Allah berarti – dalam arti yang sedalam-dalamnya – kita berani menyerah tanpa syarat kepada-Nya. Penyerahan ini berdasarkan kepercayaan yang tak terbatas serta didorong oleh kasih, karena la telah lebih dahulu mengasihi kita. “Allah adalah kasih.“. (Konst. FIC art. 54).

 

Refleksi

Masih percayakah aku bahwa Yesus Mesias, Juru selamatku?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus, Juruselamat kami, bimbinglah kami, agar  kami tidak mudah percaya kepada hal-hal yang tampaknya dapat menjamin kehidupan kami. Kuatkanlah iman kami, agar senantiasa mengandalkan diri-Mu saja. Amin.

 

 

 

Pengutusan

Mengimani Yesus sebagai andalanku dalam segala tantangan hidup.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Yosef, Surakarta:

  1. Br. Ignatius Dalimin
  2. Br. F.X. Djija Atmadja
  3. Br. Paulus Sumarno
  4. Br. Stephanus Ngadenan
  5. Br. Andrias Purwanto

 

24 April, RABU, Yohanes 12:44—50

 

 Yesus Terang Dalam Kegelapan

 

Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan.(Yoh. 12:46).

 

Orang tidak suka pada kegelapan. Orang selalu mencari terang. Suasana kegelapan membuat orang berhenti berkegiatan. Suasana gelap hati lebih tidak membahagiakan. Terasa sedih, sendiri, sepi, seakan-akan tidak ada jalan untuk melangkah. Suasana gelap cenderung menuju ke kematian. Tidak ada kehidupan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan bahwa Ia datang ke dunia, diutus oleh Bapa untuk menjadi terang, agar setiap orang yang percaya kepada-Nya, tidak tinggal dalam kegelapan. Setiap orang yang memandang Yesus, akan melihat terang. Dialah terang sejati. Kita sebagai orang yang mengimani Yesus, saat ini telah berada di dalam terang. Melalui kebangkitan-Nya, Dia mengalahkan kegelapan kematian dan membawa terang kehidupan bagi kita.

 

Kegelapan senantiasa mendekati kita, namun bila kita percaya kepada Yesus, terang akan mengalahkannya.  Yesus menerangi kita melalui pengajaran, penyembuhan, pengampunan dosa, dan perbuatan-perbuatan baik lainnya. Kita percaya, terang menjadi nyata, ketika kita melakukan perbuatan-perbuatan yang menghidupkan, menyegarkan, saling mengasihi.     

 

Percaya akan Allah berarti kita akan sering mengalami kegelapan, namun kasih-Nya selalu menyertai kita.(Konst. FIC art. 55).

 

Refleksi

Ketika mengalami kegelapan hati, sungguhkah Yesus menjadi penerangku, atau aku mencari penerang yang lain?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkaulah penerang hidup kami, berilah kami semangat untuk selalu memiliki iman dan pengharapan yang kuat. Gelap tidak selamanya mewarnai hidup, terang pasti akan terbit. Kegelapan malam segera sirna, terang matahari segera terbit di pagi hari. Amin.

 

Pengutusan

Membangkitkan iman kepercayaan dan pengharapan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St.Petrus Canisius, Muntilan: 

  1. Br. Yohanes Guido Sukarman 
  2. Br. Johanes Warisa
  3. Br. Petrus Ponidi
  4. Br. Edmundus Sukapdi
  5. Br. Robertus Ari Yunanto
  6. Br. Thomas Aquinas Prastianto

 

Komunitas SMA van Lith, Muntilan:

  1. Br. Agustinus Giwal Santoso 
  2. Br. Yohanes Albert Pratama
  3. Br. Hendrikus Ari Handoko
  4. Br. Hieronymus Wisnumurti Rahadyan

 

 

25 April, KAMIS, Markus 16:15—20

 

Pergi Bersaksi Bermurah Hati

 

Lalu Ia berkata kepada mereka, "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. (Mrk. 16:15—16).

 

Sebelum naik ke surga, Tuhan Yesus mengutus para murid untuk pergi mewartakan Injil kepada segala makhluk. Perintah ini juga bagi kita semua. Lewat kebangkitan-Nya, Allah telah menghalau kegelapan dalam diri kita dan kita sudah menerima terang-Nya. Kita bersedia menjadi terang bagi yang lain, menjadi pewarta kabar keselamatan.

 

Mewartakan Injil, kabar gembira adalah bermurah hati, menebar kedamaian, bukan iri hati dan konflik. Hidup  saling mengampuni, bukan balas dendam. Bertobat dan melakukan kehendak Tuhan, bukan mengikuti keinginan pribadi. Berlaku jujur dan adil bukan manipulasi, berbohong, atau pun menindas.

 

Dengan adanya perdamaian, kita semua bisa beraktivitas dengan nyaman. Dengan menghargai satu terhadap yang lain, serta menghormati harkat dan martabat sesama, hidup ini akan menjadi indah dan menjadi berkat bagi banyak orang. Semoga dengan kesaksian hidup kita sebagai orang Katolik yang baik, ramah, murah hati, orang tertarik dan percaya kepada Tuhan Yesus, yang kita imani sebagai penyelamat jiwa.

 

Sebagai bruder, kita menyadari bahwa kita dipanggil dan diutus bersama untuk ikut serta dalam karya Yesus. Ia berkeliling sambil berbuat baik. Ia memberikan kesaksian mengenai kebenaran. Ia datang untuk melayani. Ia datang untuk menyelamatkan, dan la membawa amanat yang membebaskan, yaitu amanat kerajaan Allah, amanat cinta kasih. Ia mengundang kita untuk menyerahkan diri bagi pelayanan Kerajaan Allah. (Konst. FIC art. 15).

 

Refleksi

Bagaimana aku bersaksi sebagai orang Katolik bagi orang-orang yang kujumpai?

 

Doa (Bersama)

Tuhan, Engkau telah memanggil kami untuk mengikuti Engkau dan kami percaya hanya Engkaulah Penyelamat kami. Utuslah Roh Kudus untuk menyertai kami, agar hidup kami menjadi kesaksian yang hidup, bahwa Engkaulah yang menjadi penyelamat jiwa, sekarang dan yang akan datang. Amin.

 

Pengutusan

Bersaksi sebagai seorang Katolik yang baik, murah hati.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Fransiskus Asisi, Tumbang Titi:

  1. Br. Petrus Sutimin
  2. Br. F.A. Dendi Setiawan
  3. Br. Paulinus

 

 

26 April, JUMAT, Yohanes 14:1—6

 

Mengatasi Hati Gelisah

Yesus berkata kepada para murid-Nya, "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” (Yoh. 14:1).

Dalam Injil Yohanes, bab 14—17 disajikan kepada kita apa yang disebut sebagai "Khotbah Perjamuan Terakhir" Yesus, atau "Khotbah Terakhir". Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang ketakutan yang akan dialami oleh para murid-Nya. Kalimat pertama yang diucapkan Yesus, "Janganlah gelisah hatimu!” Ini adalah suatu perintah, lembut, namun tetap merupakan perintah. Yesus tahu bahwa murid-murid-Nya akan segera melihat Dia ditangkap, difitnah, dihina, dipukuli, dan dibunuh. Dia tahu bahwa mereka akan diliputi oleh rasa takut.

Rasa takut bisa datang dari berbagai sumber. Beberapa rasa takut dapat membantu meningkatkan kesadaran kita akan bahaya, sehingga kita dapat bertindak dengan hati-hati. Tetapi rasa takut yang dibicarakan Yesus di sini adalah jenis ketakutan yang dapat menyebabkan kebingungan, dan bahkan keputusasaan, serta peng-ambilan keputusan yang tidak rasional. Ini adalah jenis ketakutan yang hendak dicegah oleh Yesus.

Banyak orang bergumul dengan kecemasan, kekhawatiran, dan ketakutan, karena berbagai alasan. Maka kita mendengarkan sabda Yesus, dengan pikiran dan hati,  "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”

Kita dapat meneladan iman Bunda Maria. Melalui semua keraguan dan ketidakpastiannya, ia tetap setia terhadap putranya, bahkan sampai di Kalvari. Oleh karena itu, semua bangsa menyebut dia berbahagia. (Kosnt. FIC art. 12).

Refleksi

Apa yang menyebabkan aku cemas, khawatir, dan takut dalam hidupku? Dengarkan Tuhan Yesus memanggilku untuk beriman!

Doa (Bersama)

Gembala kami yang penuh kasih, Engkau mengenal hati kami dan kesulitan-kesulitan kami. Berilah kami keberanian untuk menghadapi setiap godaan ketakutan, dengan keyakinan dan kepercayaan kepada-Mu.  Amin.

 

Pengutusan

Meningkatkan iman dengan membaca Kitab Suci secara teratur dan berkelanjutan.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Tanjung, Kalimantan Barat:

  1. Br. Justinus Juadi
  2. Br. Kristoforus Sangsung
  3. Br. Yohanes Sarwono

 

27 April, SABTU, Yohanes 14:7—14

   

Melakukan Pekerjaan Terbesar

di Bumi

 

Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya siapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa diper-muliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." (Yoh. 14:12—14).

 

Bagaimana mungkin kita dipanggil untuk melakukan pekerjaan yang lebih besar daripada pekerjaan yang dilakukan Yesus sendiri? Ini mungkin, karena Tuhan menjanjikannya. Kita seharusnya dipenuhi dengan rasa syukur, bahwa telah dipakai sebegitu hebat oleh Tuhan.

Di antara karya-karya "yang lebih besar" yang dimaksudkan oleh Yesus, yang pertama dan terutama, adalah menyebarluaskan Injil ke seluruh dunia. Yesus mengutus Roh Kudus ke atas Gereja dan semua orang untuk memberikan kuasa menyampaikan Injil sampai ke ujung bumi. Dengan demikian, pertobatan hati adalah pekerjaan terbesar yang dapat kita lakukan bersama.

 

Yesus juga berkata, "Apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." Meminta dalam nama Yesus berarti meminta penggenapan kehendak-Nya. Meminta dengan rendah hati, agar Tuhan memakai kita untuk membawa anugerah keselamatan-Nya kepada orang lain, dengan cara apa pun yang Dia pilih. Jika Anda meminta kasih karunia ini kepada Tuhan, Dia akan mengabulkannya.“Ia (Yesus), mengundang kita, untuk menyerahkan diri bagi pelayanan Kerajaan Allah” (Konst FIC art.15).

 

Refleksi

Adakah dalam diriku keinginan untuk melakukan hal-hal yang besar? Satukan keinginan tersebut dengan kehendak Tuhan!

Doa (Bersama)

Tuhan yang maha pengasih, kehendak-Mu sempurna dan mulia. Tolonglah kami merendahkan diri di hadapan-Mu, setiap hari, agar kami dapat memahami kehendak-Mu dalam hidup kami dan selalu memilih kehendak-Mu. Semoga kami dapat menjadi alat kasih karunia-Mu yang menyelamatkan semua orang yang ingin Kausentuh melalui kami. Amin.

 

Pengutusan

Berdoa dengan kerendahhatian, mohon rahmat menjadi alat untuk melakukan tindakan yang memberikan kemuliaan kekal.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas St. Aloysius, Pemalang:

  1. Br. Christoforus Sukarman
  2. Br. Lorentius Edy Wahyudi

 

 

28 April, MINGGU, Yohanes 15:1—8

 

Ingin Dipangkas

 

"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh. 15:1—3).

 

Yesus menggunakan perumpamaan pemangkasan pokok anggur untuk membantu kita memahami, bahwa iman harus menghasilkan perbuatan baik. Pertama, Yesus mengatakan bahwa Dia adalah "pokok anggur yang benar". Dia adalah satu-satunya sumber makanan yang kita butuhkan untuk kehidupan baru yang penuh kasih karunia. Dia adalah satu-satunya jalan menuju keselamatan. Mengenal Tuhan kita dan melekat pada-Nya dengan teguh adalah iman.

 

Kedua, Tuhan kita berkata bahwa Dia memotong setiap ranting yang tidak menghasilkan buah. Hal ini menunjukkan bahwa iman tanpa buah perbuatan yang baik, adalah mati dan seperti ranting pada pokok anggur yang tidak menghasilkan apa-apa.

 

Ketiga, ketika Yesus menemukan ranting yang menghasilkan buah yang baik, Dia tidak membiarkannya begitu saja. Sebaliknya, Dia memangkasnya dengan penuh kasih, sehingga "ia menghasilkan lebih banyak buah." Percaya akan Allah berarti kita dapat menemukan Dia dalam mencintai sesama ... (Konst FIC art.55). Iman kita bagaikan ranting yang melekat erat pada pokok anggur. Iman kita berbuah nyata berupa tindakan-tindakan amal penuh kasih.

 

Refleksi

Tindakan amal apa yang dapat ku- tunjukkan dalam hidupku? Adakah pengalaman pemangkasan-Nya di sana, yang mungkin menyakitkan, untuk membebaskan amalku dari godaan egoisme?

 

Doa (Bersama)

Yesus, pokok anggur yang mulia,  hanya Engkau sajalah sumber dari segala makanan dalam kehidupan. Tolonglah kami, untuk memiliki iman yang teguh kepada-Mu dan semua yang telah Kaunyatakan, sehingga iman ini akan bertunas dan menghasilkan banyak buah yang baik bagi pembangunan Kerajaan-Mu yang mulia. Amin.

 

Pengutusan

Secara teratur mempelajari Firman Allah seperti yang diwahyukan melalui Kitab Suci dan ajaran katekese Gereja, serta menerima semua ajaran itu dengan segenap hati dan akal budi.

 

Berdoa khusus bagi:

Komunitas Ainaro, Timor Leste:

  1. Br. Yusup Kuncoro Bowo S.
  2. Br. Blasius Supriyantoro
  3. Br. Jose Maria de Araujo Barreiro

 

Komunitas Bedois, Dili, Timor Leste:

  1. Br. Bonaventura  Zeca M.S.
  2. Br. Arcancio Amaral

29 April, SENIN, Yohanes 14:21—26

 

Mengingat Wahyu Allah

 

“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu, tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Yoh. 14:25—26).

 

Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Roh Kudus akan segera turun ke atas mereka, untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan mereka akan semua yang telah Dia katakan kepada mereka.

 

Sama seperti Yesus tahu, bahwa para murid membutuhkan bantuan Roh Kudus untuk mengingat, Dia juga tahu bahwa kita juga membutuhkan bantuan yang sama dari Roh Kudus. Oleh karena itu, kata-kata yang diucapkan kepada para murid di atas, juga diucapkan kepada kita. "Penghibur, yaitu Roh Kudus yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu."

 

Seiring dengan semakin dekatnya kita dengan perayaan agung Pentakosta, ini adalah saat yang tepat untuk berdoa kepada Roh Kudus dan memohon karunia untuk mengingat berbagai cara Allah telah menyatakan diri-Nya kepada kita.

 

“Sebagai kongregasi … kita tetap tebuka terhadap tanda-tanda zaman dan terhadap Roh yang berembus ke arah yang dikehendaki-Nya” (Konst. FIC, Refleksi Dasar, Alinea 3)

 

Refleksi

Percayakah aku akan janji Tuhan yang akan mengutus Roh Kudus kepada murid-murid-Nya dan kepada kita?

 

Doa (Bersama)

Tuhan Yesus yang mahamulia, Engkau telah berjanji kepada para murid dan segenap umat-Mu, bahwa Roh Kudus akan diutus kepada kami untuk mengingatkan kami, akan segala sesuatu yang telah Kau- nyatakan. Roh Kudus, tolonglah kami untuk senantiasa ingat akan banyak pelajaran yang telah diajarkan kepada kami. Amin.

 

Pengutusan

Terus-menerus membuka diri kepada tuntunan Roh Kudus dalam hidup sehari-hari.

 

Berdoa khusus bagi:

  • Bruder Pemimpin Provinsi dan Dewan Provinsi Indonesia
  1. Br. F. A. Dwiyatno – Pemimpin Provinsi
  2. Br. M. Sidharta S.  – Wakil Pemimpin Provinsi
  3. Br. Anton Karyadi  – Anggota Dewan
  4. Br. Y. B. Purwanto – Anggota Dewan
  5. Br. Martinus Hans Gendut S.– Anggota Dewan

 

30 April, SELASA, Yohanes 14:27—31a

 

Damai Sejahtera dari Kristus

 

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” (Yoh 24:27).

 

Apa bedanya antara damai sejahtera yang diberikan oleh Yesus dengan damai sejahtera yang diberikan oleh dunia? Untuk memperoleh damai sejahtera, “dunia memberikan”: uang, narkoba, alkohol, pergaulan bebas, kecurangan, keegoisan, kemarahan, penipuan, dan sejenisnya. Hal-hal tersebut merupakan cara yang ditawarkan oleh “dunia.”

 

Karunia kedamaian batin yang sejati adalah tanda yang jelas bahwa kita berada di jalur hidup dengan pilihan-pilihan yang benar. Memilih kehendak Tuhan setiap hari itu mungkin sulit dan membutuhkan banyak pengurbanan awal. Kasih, kesetiaan pada hukum Allah, bisa sulit dan menantang. Menolak untuk berbuat dosa itu sulit. Tetapi memilih kehendak Allah sepanjang hari, setiap hari, akan menghasilkan di dalam diri kita anugerah damai sejahtera. Kristus yang menghibur, menopang, dan menghasilkan kekuatan, mengantarkan kita kepada integritas dan keutuhan batin, menghasilkan kejernihan pikiran dan kepastian dalam berkeyakinan, membawa kita kepada damai sejahtera yang lebih dalam. Menuntun kita kepada pilihan-pilihan berdasarkan tindakan-tindakan kasih yang matang, dan menuntun kita kepada kehendak Allah pemberi damai sejahtera.  “… kita mengingini kebahagiaan yang terdalam dan paling sempurna.” (Konst FIC art.1)

 

Refleksi

Benarkah aku memiliki damai sejahtera di dalam hatiku? Adakah aku mengenali kehadiran Allah yang tenang, kuat, dan menopang dalam jiwaku? Dapatkah aku merasakan sukacita dan tenang?.

 

Doa (Bersama)

Tuhanku pemberi damai sejahtera sejati, Engkau dan kehendak-Mu yang kudus adalah satu-satunya jalan ke pemenuhan terdalam dari semua keinginan kami. Ketika kami membuat pilihan-pilihan yang buruk, yang menyebabkan kekacauan dan kebingungan, bantulah kami untuk berpaling kepada-Mu dengan segenap hati. Singkapkanlah segala tipu daya yang kami hadapi dan berilah kami kekuatan yang kami perlukan, untuk mencari Engkau dan damai sejahtera-Mu. Amin.

 

Pengutusan

Membuat pilihan perilaku dan tindakan harian yang meningkatkan integritas hati dan kejernihan pikiran.

 

Berdoa khusus bagi:

  • Bruder Pemimpin Umum dan Anggota Dewan Umum
  • Para Bruder yang menderita sakit dan yang mengalami kesulitan dalam hidup mereka.