BRUDER FIC DI INDONESIA

Jarang sekali ada surat edaran dari pusat yang meluapkan kegembiraan yang begitu besar: Kepada para Bruder, secara sukarela, ingin dikirim sebagai utusan ke Indonesia, diberi kesempatan untuk mendaftarkan diri sejak tanggal 20 Januari sampai dengan sebelum 1 Maret 1920. Sambutan tidak tanggung-tanggung: 123 orang bruder mendaftarkan diri bersedia untuk dikirim ke Indonesia. Lalu, Bruder Pemimpin memilih 5 Bruder yang sekiranya cocok di kirim ke Indonesia.

Pada hari Minggu, 8 Agustus 1920, dilantiklah di kota Maastricht, di kapel induk biara de Beyart, Br. August sebagai pemimpin rumah Santo Fransiskus Xaverius di Yogyakarta. Kemudian pada tanggal 14 Agustus pada tahun yang sama lima bruder utusan pertama itu menuju Batavia (Jakarta). Berlabuh di Tanjung Priok, tanggal 19 September 1920. Pastor van Lith (tokoh pendidik di Muntilan) menyambutnya dengan mengucapkan “Selamat Datang!”
Kelima utusan pertama itu adalah: Br. Constantius, Lebuinus, August, Efratius dan Ivo. Pada tanggal 20 September 1920 mereka tiba dan mulai menempati rumah komunitas pertama Indonesia, di Yogyakarta. Sakarang tempat itu dikenal dengan Bruderan FIC Kidul Logi, Jl. P. Senopati. Tugas mereka adalah berkarya diantara dan untuk penduduk asli Indonesia.

Segera karya para Bruder dikenal masyarakat dan berkembang ke kota-kota lain: seperti Muntilan, Solo, Ambarawa, Semarang, Boro, Klaten, kemudian mekar ke Jakarta, Kalimantan Barat, Sumatra Selatan dan Irian Jaya.

Perkembangan Bruder FIC di Indonesia
Karya bruder FIC di bidang pendidikan ini agaknya cepat mengena di hati beberapa pemuda.
Tahun 1923 dua pemuda mendaftarkan diri menjadi calon Bruder FIC. Mereka itu berasal dari Sala dan dari Salatiga. Mereka mulai masa postulatnya di Negeri Belanda. Tidak lama lagi diikuti oleh pemuda-pemuda yang lain. Mereka ingin seperti para Bruder, mengabdikan diri bagi sesama lewat pendidikan dan pembinaan.

Menjadi Bruder tidak berarti mencari kedudukan, kekuasaan, kehormatan dan kekayaan, melainkan ‘Dalam persekutuan yang erat dengan Yesus Kristus, dengan sesama bruder, dan dengan sesama manusia, kita mengabdikan diri kepada pertumbuhan terus-menerus Kerajaan Allah [Kerajaan Kasih] di dalam diri kita, di dalam persekutuan kita, di dalam Gereja, dan di dalam dunia tempat kita hidup.’

Para Bruder FIC hidup bersama dengan para Bruder yang secita-cita dalam suatu rumah komunitas. Hanya dalam keadaan yang khusus, seorang Bruder FIC hidup di luar rumah komunitas. Berkarya, hidup bersaudara, dan berdoa adalah warna kehidupan sehari-hari Bruder FIC.

Sebagai kongregasi, terutama membaktikan diri kepada karya pendidikan dan pembinaan – kaum muda – yang dilaksanakan di sekolah, dan tetap terbuka bagi kemungkinan-kemungkinan lain, seperti: di asrama, di panti asuhan, dan karya sosial yang lain, baik di kota, pinggiran kota, maupun pedesaan; bahkan dengan keterbukaan hati menjalani perutusan ke negara atau benua lain, membaktikan diri di sana. Dalam semuanya itu, membawa ‘amanat’ tegas Bruder Pertama: Jangan pernah melalaikan orang miskin!