Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Selasa, 21 Oktober 2014  - 4 User Online  




Brother FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Bruder Muda FIC
Blog milik Der Wahyu
Blog milik Der Wahyu


01.06.2003 06:46:00 800x dibaca
KETEKUNAN DAN KESETIAAN
Oleh Br. Theo Riyanto, FIC

“Janganlah kita berhenti untuk berbuat kebaikan; jika kita tekun mengusahakannya, pada saatnya kita akan menuai hasilnya” (Galatia 6:9) Kata-kata Santo Paulus ini menunjukkan kepada kita betapa pentingnya mengikuti Yesus sampai akhir, walaupun menghadapi kesulitan dan kesukaran. Ketekunan adalah suatu kekuatan untuk bertahan dalam waktu yang lama sampai sesuatu tercapai atau terpenuhi. Setiap religius diundang untuk tekun dalam menjalani panggilannya. Bagi para religius ketekunan ini dijalani dengan cara hidup dalam komunitas dengan menghayati kaul kesederhanaan, ketaatan dan keperawanan. Hal ini harus menjadi satu kesatuan dan dihayati sepanjang hidup. Jika tidak, maka akan mengalami adanya sesuatu yang hilang.

Ketekunan, bagi kita berlangsung baik secara perseorangan dan sekaligus sebagai komunitas. Ketekunan masing-masing pribadi untuk memperkokoh keyakinan panggilannya akan memperkuat keyakinan mereka sebagai komunitas sampai mati. Ketekunan komunitas dalam menghayati kharisma dan misi kongregasi akan memperkokoh kesadaran terus menerus setiap pribadi untuk melaksanakan karisma dan misi tersebut. Nampaknya terlalu ideal. Walaupun ketekunan merupakan sesuatu yang sulit, tetapi dapat kita usahakan.


KETEKUNAN

Ketekunan berkaitan erat dengan kesabaran, ketahanan, keajegan, dan harapan. Untuk dapat bertahan lama dalam sesuatu hal sampai sesuatu itu terpenuhi atau selesai, seseorang harus siap menghadapi penderitaan (kesabaran), dalam waktu yang lama (keajegan), dengan harapan untuk mencapai seuatu dalam jangka panjang (harapan). Seorang pelari maraton, menekuni larinya dari meter ke meter sampai kiloan meter untuk mencapai garis akhir. Dia tidak akan sampai pada garis akhir jikalau tidak berlari dari meter ke meter. Sama seperti yang digambarkan oleh Santo Paulus dalam mengikuti jalan Yesus, bagaikan pelari yang harus lari dijalan kebaikan menuju batas akhir. Orang harus lari dan lari, mengatasi halangan dan menerobos rintangan untuk sampai tujuan. Begitu juga dalam menapaki panggilan hidup kita, kita harus berlari, berjuang langkah demi langkah, dengan segala kesulitan dan kesukaran yang ada, mencapai tujuan akhir yaitu kebahagiaan. Kebahagiaan bersama Yesus yang kita ikuti dan teladani.

Hanya dengan kemampuan kita sendiri, tidak ada dari kita yang mampu memperoleh kemajuan dalam mengikuti jalan kemuridan. Mengikuti Yesus berarti mengikutiNya dalam hidup berkomunitas, mendengarkan sabdaNya, dan membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus. Walaupun kita merupakan bagian yang penting dalam proses namun ada banyak hal lain yang juga mempengaruhi kemajuan kita. Ketekunan dalam hidup kristiani menuntut kedisiplinan dan latihan dari seluruh diri kita (tubuh, jiwa dan mental) melalui berbagai macam cara seperti menerima sakramen-sakramen, berdoa dan bermeditasi, berpuasa dan bermatiraga, penebusan dosa, dan berderma. Ketekunan juga membutuhkan dukungan dari daya illahi, rahmat Tuhan sendiri. Kita tidak dapat menekuni panggilan kita tanpa pertolongan dari Tuhan. Pertolongan ini dapat secara langsung kita rasakan sebagai gerakan hati nurani dan secara tidak langsung melalui kata-kata dan perbuatan orang lain di sekitar kita.


KETEKUNAN DALAM KEHIDUPAN RELIGIUS
Kemartiran selalu berkaitan dengan sikap ketabahan dan keuletan. Untuk jaman sekarang ini kemartiran kita nampak dalam keuletan dan ketekunan kita menjalani kehidupan panggilan. Ditengah-tengah kehidupan dan permasalahan yang semakin kompleks, kita dituntut tetap menekuni jalan panggilan. Komitmen kita untuk mengikuti Yesus sebagai religius adalah komitmen dalam waktu yang panjang, sepanjang hidup kita. Kita mencoba menapaki jalan hidup Yesus seperti kehidupannya di dunia ini. Dengan hidup berkomunitas dan mengikuti jejak hidupNya, dengan kesederhanaan, ketaatan dan keperawanan Kristus, kita memberikankesaksian hidup dengan melawan hal-hal yang tidak sesuai dengan semangat Kerajaan Allah. Ketekunan adalah sikap yang sangat penting dan mendasar dalam hidup berkomunitas dan dalam menghayati panggilan hidup.

Kemurnian: Ketekunan dalam kemurnian/keperawanan, kita membutuhkan sikap kepekaan akan perasaan seksual kita, sehingga kita dapat mengelolanya dalam cara yang tepat dan membangun secara positif. Kita perlu mengenali kecenderungan seksual kita, ketertarikan-ketertarikan kita, kesulitan-kesulitan kita, dan kita membutuhkan persahabatan yang sehat dengan laki-laki maupun wanita. Kemurnian biasanya dikaitkan dengan issu kedekatan atau keintiman. Kita harus membangun persahabatan yang mendalam, tetapi juga sekaligus berani menarik batas-batas untuk mencegah agar tidak melanggar janjinya kepada Tuhan tetapi sekaligus dapat memelihara persabatan dengan cara yang aman dan tepat. Kadang-kadang diperlukan juga suatu konsultasi yang mendalam tentang kehidupan seksualitas kita, jikalau kita mengalami permasalahan yang berkaitan dengan kemurnian kita.

Kesederhanaan: Dalam mengikuti Kristus, kita sendiri perlu menguji secara nyata kemampuan kemiskinan kita baik secara lahiriah maupun batin. Apakah kita mampu untuk tidak lekat terhadap barang, waktu, tempat, orang-orang, kedudukan, kesenangan? Kita dipanggil untuk “bersemangat miskin” (Mat. 5:3) Melalui hati yang rendah hati dan sederhana, kita mencoba untuk memberikan kesaksian tentang semangat kemiskinan. Untuk berktekun dalam kaul kesederhanaan, kita perlu menyadari bagaimana gaya hidup kita dalam memberikan kesaksian hidup. Ketekunan dalam kesederhanaan berkaitan erat dengan keputusan perseorangan dan komunitas dalam menentukan tentang makanan, pakaian, perlengkapan pribadi dan komunitas, dan lebih dari semua itu dalam kecenderungan penggunaan uang. Religius memang tidak dipanggil untuk hidup kemelaratan, tetapi gaya hidupnya hendaknya sederhana, rapi dan tidak berlebihan. Semangat kemiskinan berarti semangat bahwa kekurangan dan menantang untuk tidak menjadi kaya dan sekaligus tidak melarat.

Ketaatan: Untuk tekun dalam ketaatan, kita perlu terus menerus mencontoh ketaatan Yesus kepada BapaNya. Ketaatan itu lahir dari kedalaman diri, karena kedekatan dan kemesraan hubungan mereka, karena adanya cinta, penghargaan dan dialog. Ketekunan dalam ketaatan berarti kesiapsediaan untuk mengikuti walupun tidak memahami maksudnya. Dalam kehidupan komunitas, para anggota dan khususnya para pimpinan perlu mendapatkan pendidikan dan pelatihan seni berdialog, seni bernegosiasi dan dalam pemahaman yang dapat dipertanggungjawabkan, sikap empati, dan tantangan-tantangan yang menyertainya. Kita harus menghindari ekstrim terlalu lemah dan terlalu kuat, jadi harus sedang-sedang saja. Kalau terlalu lemah, maka anggota akan berjalan sendiri-sendiri, kalau terlalu kuat, anggota akan menuruti tetapi tanpa motivasi dari dalam diri, atau bahkan akan menolaknya dan menjadikan konflik.

Komunitas: Untuk bertekun dalam kehidupan komunitas, kita hendaknya belajar menyeimbangkan antara kebutuhan diri dan tanggungjawabnya terhadap komunitas. Kita hendaknya memberikan perhatian misalnya saja akan kehadiran kita dalam komunitas, dalam pengambilan keputusan, dalam doa komunitas, dan sharing atau pertemuan-pertemuan. Dinamika komunitas sangat tergantung dari masing-masing anggota. Tidak ada dua komunitas yang sama persis, walaupun komunitas itu dari suatu kongregasi yang sama. Masing-masing komunitas dibangun berdasarkan penyesuaian kharisma dan misi kongregasi dengan situasi lokal. Dalam ketekunan kita dapat mengatasi kesulitan dan kesukaran harian kita dan setia dalam panggilan sampai mati.

Beberapa Penunjang Ketekunan:

Menghadapi krisis hidup religius sekarang ini, kita dapat menggiatkan kembali beberapa hal berikut:
1. Refleksi pribadi: Kita tidak cukup hanya berharap saja untuk bertekun, tetapi juga untuk bertumbuh dalam kerohanian kita. Untuk ini usaha pemahaman diri sangatlah penting. Jika kita berharap untuk mengikuti Yesus sampai akhir, kita mesti mempelajari kekuatan dan kelemahan kita. Hanya dengan demikian kita dapat menilai pertumbuhan dan sejauh mana pertumbuhan kita. Refleksi diri setiap hari sangat membantu dalam rangka memperbaiki kehidupan diri. Tentu saja juga dibutuhkan dialog dengan seorang sahabat rohani untuk membicarakan masalah-masalah yang ada.

2. Doa permohonan: Kita tidak dapat bertekun tanpa pertolongan dari Tuhan sendiri. Kita dapat mengharapkan rahmat Tuhan dengan mengajukan permohonan kepadaNYa. Doa permohonan adalah sesuatu yang setiap orang dapat melakukannya. Jika kita memohon dengan rendah hati agar dapat bertekun dalam menjalani panggilan hidup, baik secara perseorangan maupun sebagai komunitas, kita akan memperoleh pertolongan yang kita butuhkan, bahkan lebih dari yang kita butuhkan. Yang pokok adalah dengan penuh kepasrahan dan hati terbuka memohon rahmat Tuhan untuk dapat setia menjalani panggilan sebagai religius.

3. Pemeliharaan rohani: Untuk dapat bertekun dalam panggilan, kita membutuhkan pemeliharaan rohani setiap hari. Dengan pemeliharaan rohani secara praktis dalam hidup harian kita akan ditolong untuk mengasah budi dan nurani sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal-hal itu meliputi misalnya saja, penerimaan sakramen, doa, bacaan kitab suci, bacaan rohani, melakukan pelayanan dan sharing.

4. Persahabatan yang tulus: Untuk bertumbuh dan bertekun dalam panggilan kita, kita membutuhkan persahabatan yang erat dan akrab. Persahabatan ini hendaknya menuju kearah kebaikan dan khususnya untuk dapat hidup berkomunitas. Persahabatan kita hendaknya tidak tertutup, tetapi terbuka untuk siapa saja. Persahabatan kita hendaknya: sebagai suatu tindakan kebajikan, menguntungkan secara timbal balik, dan saling membahagiakan. Mereka saling tolong menolong untuk mengatasi kesulitan dan kesukaran, tetapi juga untuk berbagi kebahagiaan. Tanpa sahabat yang akrab dan erat, kita akan menjadi terasing, terasing dengan diri sendiri, dengan sesama dan bahkan dengan Tuhan.

5. Kegiatan komunitas: Kita tidak akan bertumbuh dan bertekun dalam panggilan sendirian, tetapi melalui dan dalam kehidupan komunitas. Kehidupan komunitas adalah sangat penting dan membutuhkan perwujudan yang nyata. Anggota komunitas membutuhkan refleksi bersama secara periodik tentang kehidupan mereka dan bagaimana meningkatkannya. Kehidupan komunitas mestinya diatur sedemikian rupa, tidak sangat ekstrim kaku sehingga mengundang konflik dan ketegangan, tetapi juga tidak “lunak” sehingga menyebabkan tidak adanya komitmen bersama.

6. Relasi di luar komunitas: Komunitas dan para anggotanya membutuhkan suatu relasi yang sehat dengan orang-orang lain. Komunitas dan anggota-anggotanya hidup tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi untuk kehidupan sesama yang lain juga. Kita hendaknya terbuka akan relasi dengan orang-orang lain secara ramah, juga untuk meningkatkan ketekunan dan kesaksian kita dalam menghayati panggilan hidup.

7. Kharisma dan perutusan: Untuk berkekun dan dapat bertumbuh dalam hidup panggilan, kita hendaknya mengabdikan diri kita sesuai dengan kharisma dan perutusan kongregasi. Melanjutkan perutusan bersandarkan kharisma kongregasi dan dengan kritis melihat tanda-tanda jaman, akan membawa pembaharuan terus menerus tanpa harus kehilangan jati diri baik secara perseorangan maupun sebagai komunitas.

Ketekunan dalam hidup kita adalah suatu kegiatan harian yang hendaknya kita usahakan terus menerus. Kita berharap bahwa kita dapat menekuni panggilan hidup kita, dengan cara mendengarkan hal yang terbaik, tidak ekstrim “lunak” atau “keras” dalam aturan-aturan, struktur, latihan-latihan, gaya hidup dan kecenderungan terhadap dunia. Kita perlu memohon rahmat Tuhan terus menerus setiap hari agar mampu bekerja keras dan “menderita” untuk mengikutiNya. Dan untuk ini kita perlu saling membantu, saling menolong, saling mendukung, saling menguatkan, dan bukannya saling mengadili, menjatuhkan, dan mengoreksi tanpa ketulusan.

(oleh: Br. Theo Riyanto FIC, saduran dari “Preseverance: the Courage to Persist” oleh Dennis J. Billy CSSR)




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 4 ms