Notice: Use of undefined constant ewSessionIndukGet - assumed 'ewSessionIndukGet' in /home/kenz/brfic/html/artikel.php on line 11 BERDOA SEPERTI YESUS :: Bruder F.I.C Indonesia ::
Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Minggu, 24 September 2017  - 4 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


06.07.2017 14:35:35 112x dibaca
BERDOA SEPERTI YESUS
Oleh Sekretariat FIC

Setelah berturut-turut merayakan Paska, hari kebangkitan Tuhan Yesus, dan disambung dengan hari raya Tuhan Yesus diangkat ke surga, pada bulan Juni, merayakan Pentakosta, yakni kehadiran Roh Kudus ke atas semua orang yang percaya (lih. Kis 2:1) dan ke atas para rasul (lih. Kis 2:14). Merayakan Pentakosta bisa berarti mengenangkan kembali peristiwa turunnya Roh Kudus yang pernah terjadi 2000 tahun yang lalu. Merayakan Pentakosta juga bisa kita gunakan untuk mengenangkan kembali karunia Roh Kudus yang juga dicurahkan kepada kita pada saat kita dibaptis dan menerima Sakramen Krisma entah berapa tahun yang lalu. Pada tingkatan itu, perayaan Pentakosta baru sampai pada level “nostalgia”. Sebagai sebuah nostalgia, perayaan Pentakosta berguna untuk mengingatkan kita akan peristiwa yang pernah terjadi ribuan atau puluhan tahun yang lalu.

Ketika ingatan kita disegarkan, kita bisa terbantu untuk menemukan poin-poin pembelajaran yang dapat menumbuhkan rasa syukur atau memotivasi kita untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Selain sebagai sebuah nostalgia, perayaan Pentakosta juga dapat menjadi kesempatan untuk mengalami kembali kehadiran Roh Kudus secara aktual di dalam hidup seseorang. Mereka yang merindukan pencurahan Roh Kudus secara nyata, biasanya mempersiapkan diri secara bersungguh-sungguh, antara lain dengan sepenuh hati bernovena Pentakosta. Bertekun dalam novena Pentakosta merupakan ungkapan iman umat yang merindukan pengurapan Roh Kudus sungguh-sungguh terjadi dalam diri mereka, tidak hanya hadir dalam ingatan. Meskipun pencurahan Roh Kudus pada masa kini tidak akan sama persis dengan yang terjadi 2000 tahun yang lalu, tetapi rahmat yang melimpah melalui pencurahan Roh Kudus tak pernah berubah.

Salah satu rahmat yang diterima manakala Roh Kudus mengurapi seseorang adalah pemulihan dalam hidup rohani, sehingga dari hari ke hari ia semakin berkembang ke arah kesamaan dengan Yesus, yang adalah anak kesayangan Bapa (lih. 2 Kor 3:18; Gal 6:8, Luk 3:22). Pemulihan hidup rohani itu terjadi antara lain karena berkat urapan Roh Kudus, seseorang menjadi lebih bersemangat dan tekun dalam berdoa. Oleh Roh Kudus, orang yang menerima urapan dibimbing untuk dengan sadar dan penuh hormat menanggapi dan menghayati karya keselamatan Allah yang terlaksana dengan perantaraan Yesus Kristus. Dengan kata lain, berdoa sesungguhnya merupakan tanggapan kita terhadap gerakan Roh dalam diri kita sebab “kita sendiri tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa, tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita” (Rom 8:2). Berdoa merupakan sikap aktif kita terhadap karya Roh Kudus, yang sedang menuntun kita untuk masuk dalam relasi komunikasi yang semakin akrab dengan Bapa sebagaimana dilakukan oleh Yesus.

“Yesus adalah suri teladan doa bagi semua orang. Pada umur dua belas tahun, Ia sudah berkata kepada Maria dan Yusuf, bahwa Ia harus berada di dalam rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Hubungan dengan Allah sebagai Bapa-Nya menentukan seluruh hidup-Nya dan terungkap dalam doa-doa-Nya, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, bahwa semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Betapapun sibuk hidup-Nya dengan pewartaan dan pelayanan orang, ia selalu menemukan kesempatan untuk “naik ke atas bukit dan berdoa seorang diri” (Mat 14:23). Setiap saat penting dalam hidup-Nya disertai doa: pembaptisan-Nya (Luk 3:21), panggilan para rasul-Nya (Luk 6:12), pengakuan oleh para murid (Luk 9:18), dan terutama sengsara dan wafat-Nya (Mat 26:36). Seluruh hidup Yesus ditentukan oleh kesatuan-Nya dengan Allah, Bapa-Nya tercinta yang tidak hanya dihayati dalam hati, tetapi juga tampak di luar, seperti pada pemuliaan di atas gunung. Waktu itu, Yesus juga “naik ke atas gunung untuk berdoa” (Luk 9:28).

Doa merupakan penghayatan kesatuan sempurna dengan Bapa. Di kebun zaitun, Yesus berulang kali mencoba menemukan ketenteraman hati dalam kesatuan dengan Bapa, “Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut” (Ibr 5:7). Akhirnya, Ia menemukan kedamaian juga dalam ketaatan total kepada Bapa. “Oleh Roh yang kekal, Ia mempersembahkan diri kepada Allah” (Ibr. 9:14). Roh Allah memampukan Dia agar senantiasa menemukan kesatuan dengan Bapa: “Bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata: Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi” (Luk 10:21, bdk. Yoh 11:41). Memang, “Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa” (Kis 10:38, lih. Mat 4:1; Luk 4:1-14).... Yesus, yang oleh Roh Kudus selalu bersatu dengan Allah, oleh Roh yang sama selalu didorong untuk mencari tempat dan kesempatan berdoa. Doa menduduki tempat sentral dalam hidup Yesus. Dan kepada orang lain, Ia menegaskan bahwa harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” (Luk 18:1)” (Iman Katolik, 2005, hlm. 200-2001)

Refleksi

Selain sebagai suri teladan dalam berdoa, Yesus juga adalah guru mengenai doa. Konstitusi FIC artikel 68 menyebut Yesus sebagai “Putra yang berdoa kepada Bapa dan mengajar kita bagaimana kita harus berdoa” (bdk. art. 72). Kepada para murid, Yesus mengajarkan doa “Bapa kami”. Dengan menyebut Allah sebagai Bapa, Yesus mau menunjukkan adanya hubungan yang amat dekat, akrab, dan khas antara diri-Nya dengan Allah. Sapaan “Bapa” untuk Allah tentu tidak umum pada masa Yesus hidup. Orang yang berani melakukannya pastilah orang yang dikaruniai pengertian sempurna akan Allah (bdk. Mat 11:27) dan sungguh memiliki relasi yang dekat, akrab, sekaligus hormat dengan Allah. Namun kedekatan semacam itu tidak eksklusif milik Yesus. Sesungguhnya, semua orang dapat mengalami relasi istimewa seperti yang dialami oleh Yesus. Maka Yesus mengajarkan doa “Bapa kami”, bukan “Bapaku” agar kita pun yakin bahwa Allah adalah “Bapa” bagi semua orang. Ia selalu membuka Diri seluas-luasnya bagi kita, anak-anak-Nya, baik ketika kita baik atau pun jahat, benar atau pun salah (bdk. Mat 5:45). Oleh karena itu, doa “Bapa Kami” sesungguhnya merupakan undangan bagi para murid untuk membangun komunikasi dan mengalami relasi yang sama, yang ada antara Yesus dengan Bapa-Nya. Dengan mengajarkan doa “Bapa Kami”, Yesus sebenarnya juga sedang membarui makna doa. Secara tradisional, doa seringkali diartikan sebagai “mengangkat hati dan budi kepada Tuhan” (lih. Mzm 25:1; 86:4, 143:8). Dalam kitab Ratapan, dilanda oleh kepedihan akibat kesengsaraan Sion, penulis kitab berseru dalam doa: “Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita dan berpaling kepada Tuhan. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di surga.” (Rat 3:40-41). Doa sebagai aktivitas kita “mengangkat hati dan budi” mengesankan adanya bentangan jarak antara Allah dengan kita, manusia. Hal yang sama tampak dalam ungkapan “memanjatkan doa”, seolah-olah keberadaan Allah sedemikian tinggi dari kita sehingga untuk bisa menjangkaunya, doa harus “dipanjatkan”.

Melalui ungkapan “mengangkat hati dan budi” atau “memanjatkan doa”, kita juga mendapatkan kesan bahwa doa merupakan inisiatif manusiawi. Untuk “mencapai” Allah, manusia harus bersusah payah. Hal yang senada sebenarnya muncul dalam Konstitusi FIC, misalnya artikel 61: berdoa berarti berusaha mencari Allah dalam kasih. Kata “mencari” Allah menunjukkan gagasan tradisional mengenai “Deus Absconditus” atau Allah yang bersembunyi. Padahal, pada bagian awal dalam Konstitusi FIC, yakni pada artikel 3, dengan penuh iman diungkapkan “Kita percaya bahwa Ia (Allah) telah mewahyukan diri-Nya”. Inilah “Deus Revelatus”, Allah yang membuka diri-Nya. Bahkan Konstitusi FIC menyebutkan bahwa “Allah adalah manusia bersama kita.” Lalu mengapa kita masih mencari-Nya seolah-olah Ia menghilang? Doa “Bapa kami” yang diajarkan Yesus sesungguhnya hendak membarui gagasan lama yang mungkin justru membuat kita “berat” dalam berdoa. Melalui doa “Bapa kami”, Yesus tidak hanya menempatkan Allah begitu dekat, tetapi juga akrab. Berkat pewahyuan diri-Nya, Allah mendekatkan diri dengan manusia. Allah hadir untuk kita. Allah ingin menyertai perjalanan kita (Imanuel). Ini merupakan undangan untuk kita “merapat” kepada Allah karena Allah telah lebih dulu “mendekatkan” diri-Nya. Hal ini berarti bahwa inisiatif doa berasal dari Allah. Yang diminta dari kita hanyalah tanggapan berupa memasrahkan diri kita kepada-Nya: jadilah kehendak-MU dan mengesampingkan kehendak-ku. Konstitusi FIC artikel 66 menyatakan: “Kita harus meninggalkan diri kita sendiri agar mencapai persatuan dengan Allah dan dengan sesama kita”.

Hal itu tepat benar dengan doa “Bapa kami”, yang mengajak kita untuk menempatkan Bapa dan Kerajaan-Nya sebagai bagian pertama di dalam doa, dan kemudian barulah segala kepentingan diri sendiri pada bagian kedua. Apakah dalam doa-doa kita, doa pribadi atau pun doa bersama, kita masih mempertahankan ego kita? Apakah kehendak Allah merupakan hal utama yang kucari dalam doa-doa saya? Apakah saya menggunakan doa-doa harian pertama-tama sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan atau kepuasan hati saya, atau dengan kata lain, jika saya tidak butuh dan hati saya tidak terpuaskan dalam doa, maka saya tidak berdoa? Melalui doa Bapa kami, Yesus mengajak kita untuk menempatkan Allah sebagai yang utama dalam hidup kita dan mengakui keterbatasan kita sehingga sepenuhnya kita perlu mengandalkan Dia. Dalam doa, Allah harus semakin besar dan aku semakin kecil (bdk. Yoh 3:30). Dengan begitu, doa merupakan ungkapan kesadaran akan keterbatasan kita sehingga kita perlu membuka diri untuk menyambut tawaran diri Allah. Doa bukan lagi suatu pencarian akan Allah yang tersembunyi. Doa adalah tanggapan aktif kita terhadap Allah yang hadir dan menyapa kita melalui hidup setiap hari. Di dalam doa, Allah dan manusia yang beriman saling berinteraksi dan menyapa satu dengan yang lain. Dalam konteks inilah, kita dapat semakin memahami sabda Yesus: “Jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi” (Mat 6:6). Jadi bukan “Bapa”nya yang tersembunyi melainkan “tempat”nya. Menemukan tempat tersembunyi untuk berinteraksi dengan Allah menjadi bagian penting dari reformasi doa Yesus untuk melawan kecenderungan memamerkan doa seperti orang munafik (bdk. Mat 6:5).

Tantangan bagi penghayatan doa zaman sekarang adalah semakin sulitnya menemukan tempat tersembunyi untuk berdoa. Tempat tersembunyi masih bisa ditemukan di mana-mana, bahkan di dalam komunitas kita, tetapi tidak selalu digunakan untuk berdoa. Di zaman internet seperti sekarang ini, sungguh, sulit menemukan tempat tersembunyi untuk mengalami keakraban dengan Allah, untuk hening dan mengutamakan kehendak-Nya. Di era internet ini, orang cenderung bersembunyi justru supaya semakin leluasa mengekspresikan diri. Padahal Konstitusi FIC artikel 66 menyatakan: “Kita harus meninggalkan diri kita sendiri agar mencapai persatuan dengan Allah dan dengan sesama kita”. Yesus adalah teladan dalam hal ini. Ketika menghadapi sakrat maut di taman Getsemani, Yesus tidak buru-buru bikin status pilu agar diketahui banyak orang. Sebaliknya, Ia mengasingkan diri-Nya dan hanya kepada murid-murid yang terpilih, Ia mensharingkan perasaan-Nya. Ia pun mengambil jarak dengan sebagian besar murid-Nya dan berdoa kepada Bapa: “Ya, Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu. Ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Kukehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki.” (Mrk 14:35-36). Demikianlah, Yesus tidak hanya mengajarkan doa “Bapa kami” agar kita semakin merapat kepada Bapa dan mengutamakan kehendak-Nya. Ia pun menghayati segala yang diajarkan-Nya. Beranikah kita belajar berdoa seperti Yesus? Apakah sebagai bruder, saya bersungguh-sungguh dalam menyediakan waktu untuk “bersembunyi” dari kesibukan duniawi dan manusiawi sehingga saya dapat semakin merapat kepada ALLAH, semakin mengerti rencana-Nya, dan mendapat kekuatan untuk menanggung misi pengutusan-Nya? Apakah saya justru menciptakan “ruang dan waktu sembunyi” demi kepentingan pribadi? Jika komunitas menyediakan waktu untuk “sejenak bersembunyi” dari kesibukan dan berdoa, apakah saya memanfaatkannya dengan sukacita dan penuh kasih?

Konstitusi FIC artikel 67 berpesan: “Hendaknya kita berusaha menyediakan waktu yang lebih lama untuk doa dan refleksi dalam hidup kita. Saat-saat doa amat sangat penting bagi pemahaman diri serta bagi hidup kita sebagai religius, bagi peningkatan hubungan pribadi kita dengan Allah, bagi keterbukaan kita terhadap Roh Allah, dan bagi pendalaman kepedulian kerasulan kita”.

Revisi

Berdoa itu mudah dan menyenangkan. Betulkah? Jika memang demikian, mengapa para murid meminta Yesus agar mengajari mereka berdoa (lih. Luk 11:1)? Bukankah sebagai orang Yahudi, para murid juga sudah akrab dengan doa? Beberapa ahli tafsir Kitab Suci berpendapat bahwa cara Yesus berdoalah yang telah menarik para murid sehingga minta diajari berdoa. Mengapa cara doa Yesus menarik? Doa Yesus, meskipun tempatnya tidak selalu di ruang sembahyang, adalah doa yang diwarnai dengan rasa hormat dan sekaligus akrab. Doa Yesus adalah doa yang bahagia karena Bapa-Nya sungguh dekat sehingga dapat diajak berdialog sebagai rekan, meskipun tidak selalu terdengar kata-kata atau ucapan. Doa Yesus, kendati dilakukan dengan teratur, tidaklah jatuh dalam rutinisme. Doa Yesus adalah doa yang selalu “hangat” berkat hadirnya Roh Kudus, sehingga doa-Nya berkuasa. Dengan begitu, berdoa menjadi mudah dan menyenangkan. Pada suatu hari, Santo Bernardus, Abbas, sedang dalam perjalanan menunggang kuda. Ia hendak kembali ke pertapaannya setelah menyelesaikan suatu urusan di Roma. Di tengah perjalanan, ia berjumpa dengan seorang petani yang tengah bersusah payah memanggul hasil panenannya. Melihat seorang pertapa di atas punggung seekor kuda, sang petani mulai menggerutu setengah menyindir: “Lihat! Betapa mudahnya hidupmu. Seandainya aku pun hidup sebagai pertapa yang setiap hari hanya menghabiskan waktu dengan berdoa, mungkin saat ini pun aku sedang menunggang kuda.” Mendengar gerutuan sang petani, Santo Bernardus tersenyum, lalu menjawab sambil bertanya: “Jadi, Anda berpikir: berdoa itu mudah?” Sang petani menjawab dengan sinis: “Adakah pekerjaan yang lebih mudah selain hanya duduk dan merapal doa atau membaca Mazmur?” “Jika demikian”, Sahut Santo Bernardus, “bisakah engkau mendoakan satu kali saja doa Bapa kami untukku? Jika engkau berhasil mendoakannya tanpa terputus, engkau boleh mengambil kuda ini.”

Mendengar tawaran yang menggiurkan itu, sang petani langsung meletakkan barang bawaannya. Dengan penuh semangat, ia segera berlutut di pinggir jalan, menyatukan jari-jemarinya, memejamkan matanya, dan mulai mengucapkan doa yang telah sangat akrab di mulutnya, “Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu, di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami re....” Tiba-tiba ia menghentikan doanya. Dengan mata dibuka lebar, ia menatap Santo Bernardus, lalu bertanya: “Jika aku berhasil men gucapkan doa Bapa kami ini tanpa putus, apakah engkau juga akan memberikan pelana kudamu sekalian dengan kudanya?” Menurut pengajaran dan teladan Yesus, berdoa itu mudah dan menyenangkan. Hal itu ternyata tidak berlaku bagi mereka yang tidak mau meninggalkan dirinya sendiri (bdk.Konstitusi FIC artikel 66).




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 1 ms