Notice: Use of undefined constant ewSessionIndukGet - assumed 'ewSessionIndukGet' in /home/kenz/brfic/html/artikel.php on line 11 MENJADI BRUDER ADALAH ANUGERAH (KONSTITUSI FIC ART. 117) :: Bruder F.I.C Indonesia ::
Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Jumat, 28 Juli 2017  - 2 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


05.06.2017 11:16:52 61x dibaca
MENJADI BRUDER ADALAH ANUGERAH (KONSTITUSI FIC ART. 117)
Oleh Sekretariat FIC

Sudah lama para religius Bruder menantikan terbitnya dokumen resmi dari Gereja tentang panggilan khusus sebagai religius Bruder. Dokumen semacam itu akan sangat bernilai, bukan hanya di kalangan para Bruder sendiri, melainkan juga bagi seluruh Gereja. Dokumen semacam itu juga sekaligus merupakan pengakuan Gereja akan panggilan unik sebagai religius Bruder. Kenyataan menunjukkan bahwa banyak orang tidak mengerti status panggilan ini. Tidak bisa dimungkiri bahwa panggilan religius awam, khususnya untuk kaum pria, memang kurang dimengerti oleh umat pada umumnya, bahkan juga oleh hirarki. Panggilan Bruder dalam banyak kasus sering dianggap sebagai panggilan yang tidak jelas, atau panggilan setengah-setengah, setengah imam dan setengah awam, panggilan yang tidak lengkap, dst. Menyikapi hal itu para Bruder sendiri kadang malah sibuk dengan membela diri dan bukannya mendalami dan memupuk keyakinan akan panggilan khusus itu.

Setelah cukup lama menunggu, pada akhirnya para religius Bruder boleh bergembira karena pada tanggal 4 Oktober 2015 Kongregasi Suci untuk Lembaga Hidup Bakti dan Serikat Karya Kerasulan telah menerbitkan dokumen resmi tentang panggilan religius Bruder, dengan judul “Identitas dan Perutusan Religius Bruder di Dalam Gereja”. Lalu apa sebenarnya isi dari dokumen tersebut.?

Religius Awam

Konsili Vatikan II, dalam dokumen Perfectae Caritatis, menyebutkan bahwa “kaum religius awam, pria maupun wanita, adalah orang-orang yang terpanggil untuk hidup berlandaskan nasihat-nasihat injili. Pada hakikatnya cara hidup ini sudah lengkap dan utuh. Konsili Suci sangat menghargai panggilan hidup ini karena berkat jasa orang-orang inilah tugas pastoral Gereja menjadi sangat efektif dalam hal pendidikan kaum muda, perawatan orang-orang sakit, dan pelayananpelayanan lainnya” (art. 10a). Di samping itu kita juga bisa menemukan dalamLumen Gentium, bahwa “ Status kehidupan ini memiliki tempatnya tersendiri dalam struktur hirarki Gerejawi. Status panggilan hidup ini bukanlah sejenis jalan tengah antara panggilan imam dan kaum awam. Panggilan ini harus dipandang sebagai panggilan hidup yang khusus bagi umat Kristiani, yang memungkinkan mereka bisa menikmati anugerah istimewa di dalam Gereja, dan dengan cara masingmasing memberi sumbangan pada misi penyelamatan dari Gereja” (art. 43).

“Bruder” adalah sebutan yang sejak awal diberikan kepada kaum religius pria di lingkungan Gereja Katolik. Meskipun sebutan ini bukan semata-mata milik kaum religius pria, namun di lingkungan Gereja sebutan ini memang merupakan sebutan khas bagi religius pria yang bukan imam. Sebutan itu juga mengingatkan kita akan kata-kata Yesus kepada para pengikut- Nya: “Janganlah kamu disebut Rabi, karena hanya satu Rabimu; dan kamu semua adalah saudara (Bruder)” (Mt. 23:8). Hal itu dikatakatan oleh Yesus dalam hubungannya dengan orang-orang munafik yang menggunakan agama untuk memperoleh keuntungan pribadi dan penghormatan dari orang lain. Sebutan Bruder menunjuk pada martabat dan kesamaan hakiki bagi semua orang yang beriman. Kita para Bruder adalah anak-anak dari Bapa surgawi yang sama. Kita bersama-sama dipanggil untuk membangun persaudaraan universal dalam Kristus yang merupakan Anak sulung dari semua saudaranya (cf. Rom. 8:29).

Identitas Religius Bruder

Dalam dokumen ditegaskan bahwa asal mula panggilan religius Bruder adalah pengalaman mendalam akan kasih Tuhan. “Kita mengalami kasih Allah, dan karenanya kita percaya” (cf. 1 Joh 4:16). Pernyataan ini pada dasarnya sama dengan pesan Kapitel Umum 2012 para Bruder FIC  yang berjudul: “Pengalaman akan Allah merupakan landasan hidup kita sebagai religius”. Selama Kapitel Umum 2012 para Bruder FIC memperbarui kesadarannya, bahwa sumber utama kebahagiaan  adalah pengalaman akan panggilan kasih Allah yang tak berkesudahan. Inilah landasan hidup  sebagai religius. Oleh karenanya  perlu terus menerus merefleksikan pengalaman akan kasih Allah dalam keseharian hidupnya. Dalam pesan Kapitel Umum 2012 ditekankan bahwa pengalaman akan kasih Allah perlu diperbarui dan diperdalam terus-menerus melalui sikap kontemplatif. Untuk bisa memiliki sikap kontemplatif  perlu menyediakan waktu yang teratur untuk menyendiri dan berdiam diri, agar  bisa bertumbuh dalam kepekaan  akan kehadiran-Nya. Persoalannya sekarang apakah sebagai pribadi dan komunitas bersedia untuk mengatur waktu sedemikian rupa, sehingga  makin peka akan kehadiran Tuhan dalam hidup  sehari-hari. “Doa menuntut keberanian dan kesetiaan; doa menuntut keteraturan” (Konst. Art.63).

Menurut dokumen ini inti identitas dari religius Bruder adalah anugerah persaudaraan yang diungkapkan antara lain dengan hidup bersama dalam komunitas. Kehidupan komunitas yang otentik merupakan kesaksian akan kesatuan umat manusia; bahwa cinta kasih Tuhan yang ditunjukkan dalam diri Yesus menjadi pemersatu. “Supaya mereka semua bersatu, sehingga dunia percaya bahwa Engkaulah yang mengutus aku” (Joh. 17:21). Komunitas bukanlah sekedar tempat tinggal, melainkan tempat untuk mengalami hidup yang saling mengasihi, memberi dan menerima kasih dari sesama. Pengalaman saling mengasihi inilah hendaknya menjadi ukuran pokok kehidupan berkomunitas para Bruder, lebih dari soal keberhasilan dalam karya. Dengan demikian para Bruder sungguh-sungguh mengikuti cara hidup umat Kristiani pertama “yang bertekat hidup sehati sejiwa” (Kis. 4:32). Berangkat dari landasan inilah  kemudian baru mengatur karya kerasulannyaa.

Ciri lain yang nampak jelas dari kehidupan para Bruder adalah pada karya kerasulan. Dalam Vita Consecrata  dapat dibaca bahwa “Religius Bruder melakukan banyak karya pelayanan yang sangat berharga, di dalam maupun di luar komunitas, ambil bagian dalam karya pewartaan Kabar Gembira dan menjadi saksi-saksi Kristus dengan perbuatan nyata. Pelayanan mereka tidak dapat dipisahkan dari karya pelayanan Gereja (art. 60). Dalam dokumen juga sangat ditekankan betapa pentingnya karya para Bruder terutama bagi mereka yang miskin dan paling membutuhkan (cf. Mt. 25:40)

Kesimpulan

Berbicara soal hidup bakti selalu merupakan kisah rahmat. Bersyukur bahwa dipanggil menjadi religius Bruder. Menjadi religius adalah anugerah bagi kita (Konst. Art. 117). Pertanyaannya adalah: apakah para Bruder memang bersyukur dan bangga akan panggilannya sebagai Bruder? Bagaimana  memupuk panggilan dan membuatnya berbuah lebat? Bagi siapakah  ini menjadi Bruder? Bagi  masing-masing, apa artinya menjadi Bruder pada zaman ini? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungkan berkaitan dengan terbitnya dokumen baru ini. Untuk selanjutnya para Bruder masih perlu mendalami dokumen ini, supaya semakin memahami misteri panggilan k sebagai Bruder.




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 1 ms