Notice: Use of undefined constant ewSessionIndukGet - assumed 'ewSessionIndukGet' in /home/kenz/brfic/html/artikel.php on line 11 BELAJAR MENGAMPUNI  :: Bruder F.I.C Indonesia ::
Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Jumat, 28 Juli 2017  - 2 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


27.05.2017 07:56:59 88x dibaca
BELAJAR MENGAMPUNI
Oleh Sekretariat FIC

Bagi umat Katolik di seantero dunia, bulan Mei adalah waktu khusus untuk berdevosi kepada Ibu Maria. Sebagai komunitas FIC yang berlindung kepada Ibu Maria, pun disemangati untuk mengungkapkan devosi kepada Ibu Maria secara lebih mesra. Frase “secara lebih mesra” kiranya layak mendapat perhatian khusus. Bagi orang yang lebih dominan bertindak dengan rasio atau nalar, kata ‘mesra” mungkin terasa aneh. Memang, kemesraan tidak tumbuh karena dipikirkan. Nalar kadang-kadang tidak cukup untuk memahaminya. Kemesraan bertumbuh di dalam hati yang hangat oleh kasih. Dan itulah makna devosi yang sesungguhnya.

Devosi yang berasal dari kata Bahasa Latin devotio memang lebih menunjuk kepada sikap hati dan perwujudannya, di mana seseorang mengarahkan hatinya kepada figur yang dikasihi dan dihormati. Dengan kata lain, suatu tindakan berupa doa, ibadat, atau kebaktian akan bernilai “devosi” apabila pertama-tama melibatkan hati atau afeksi rohani (bdk. Yoh 4:23). Dengan demikian, jika kita berdevosi, doa kita menjadi lebih dari sekedar “membaca doa”, ibadat kita lebih daripada sekedar “memenuhi kewajiban”. Dengan devosi, doa dan ibadat kita merupakan ungkapan hati yang mengasihi. Makna devosi yang seperti itu juga ditangkap dengan sangat baik dalam Konstitusi FIC. Artikel 75 Konstitusi FIC menyebutkan antara lain: “Hari-hari pestanya, terutama pesta sebagai yang Terkandung Tak Bernoda hendaknya dirayakan secara mesra oleh persekutuan kita.”

Salah satu tokoh yang memiliki devosi kepada Ibu Maria dalam arti sepenuh-penuhnya adalah Santo Yohanes Paulus II. Paus yang melayani umat Allah sedunia selama 27 tahun (1978-2005) itu memiliki sikap hati yang sangat mesra kepada Ibu Maria. Perwujudan devosinya pun tampak nyata selama masa pelayanannya. Kemesraan relasi antara Paus Yohanes Paulus II dengan Ibu Maria terpancar juga dari lencana kepausannya yang hanya terdiri dari dua gambar, yakni salib dan huruf M. Salib adalah tanda yang menghadirkan Kristus dan M merupakan singkatan nama Maria. Di bawah lencana kepausannya, kita menemukan motto “Totus tuus”, yang berarti “Sepenuhnya milikmu”.

“Sepenuhnya milikmu” adalah motto yang lahir dari kedalaman hati Paus Yohanes Paulus II. Meski Ibunya meninggal saat ia berusia 8 tahun, hati Karol Josef Wojtyla (itulah nama asli Paus Yohanes Paulus II) tak pernah sungguh-sungguh hampa dari kasih sayang seorang ibu. Kasih Ibu Maria segera mengisi hatinya. Hal itu terjadi karena sang ayah sering mengajaknya berdevosi kepada Ibu Maria, yang lukisannya dipajang di sebuah Gereja di dekat Warsawa, Polandia. Hati Karol Josef Wojtyla selalu dipenuhi oleh kasih keibuan Maria, juga ketika ayahnya meninggal. Saat itu, ia berumur 20 tahun. Tanpa ibu dan ayah, Karol Josef Wojtyla memutuskan untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada Ibu Maria: totus tuus ego sum, “diriku, milikmu seutuhnya”.

Sebagai paus, tindakan Yohanes Paulus II sangat dipengaruhi oleh devosinya kepada Ibu Maria. Salah satu peristiwa ikonik yang sulit dilupakan orang adalah ketika Paus Yohanes Paulus II memilih untuk mendoakan dan mengampuni Mehmet Ali Agca. Siapakah Mehmet Ali Agca? Dia adalah pemuda yang menembak Paus Yohanes Paulus II, ketika Paus sedang menyapa umat di lapangan St. Petrus. Peristiwa penembakan yang nyaris merenggut nyawa paus itu terjadi pada 13 Mei 1981. Tanggal 13 Mei merupakan hari peringatan penampakan Ibu Maria kepada 3 anak kecil: Lucia Abobora, Francisco dan Jacinta Marto, di desa Fatima, Portugal. Penampakan Ibu Maria di Fatima terjadi pada tahun 1917, mulai dari bulan Mei sampai dengan Oktober. Semua penampakan terjadi setiap tanggal 13. Salah satu pesan penting dalam penampakan Ibu Maria di Fatima adalah tentang pertobatan dan pengampunan. Pada penampakan yang pertama, kepada ketiga anak itu diberikan sebuah doa yang dengan jelas menggemakan pesan pengampunan. Doa itu berbunyi “O Yesusku, ampunilah dosa-dosa kami, selamatkanlah kami dari api neraka, dan hantarlah jiwa-jiwa ke dalam surga, terutama mereka yang sangat membutuhkan kerahimanmu.” Doa yang saat ini seringkali ditambahkan ketika orang berdoa rosario itu, dengan jelas mengajar kita untuk memohon pengampunan, tidak hanya bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Dan untuk memohon pengampunan bagi diri sendiri, Tuhan Yesus meminta kita untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita (lih. Matius 6:12, 14), “ampunilah, dan kamu akan diampuni” (Luk 6:37).

Terdorong oleh pesan Ibu Maria itu, Paus Yohanes Paulus II memutuskan untuk mengunjungi Mehmet Ali Agca di dalam penjara, tempat ia menjalani hukuman untuk seumur hidup. Dalam kunjungan yang terjadi pada 27 Desember 1983 itu, mereka terlibat dalam dialog yang sangat dekat. Sebagai pembunuh profesional, Mehmet Ali Agca merasakan kebingungan karena “korbannya” ternyata masih hidup. Padahal, ia yakin, peluru dari pistolnya tepat mengenai sasaran. Menanggapi hal itu, Paus Yohanes Paulus II berkata: “Satu tangan menembakkan peluru itu, tetapi tangan lain mengarahkannya.” Ia pun menambahkan: “Tangan seorang Ibulah yang mengarahkan laju peluru itu. Ibuku selamanya dan terutama pada tanggal 13 Mei 1981, aku sungguh merasakan kehadirannya di sisiku.” Karena yakin bahwa peristiwa penembakannya terkait erat dengan pesan Ibu Maria di Fatima, Paus Yohanes Paulus II memutuskan untuk mengirimkan peluru yang digunakan untuk menembaknya kepada uskup Fatima agar diletakkan di mahkota arca Ibu Maria Fatima. Melalui semua itu, Paus Yohanes Paulus II juga menampakkan kebenaran adagium “per Mariam ad Jesum” yang berarti “melalui Maria sampai kepada Yesus”. Pesan Ibu Maria telah mendorong Paus Yohanes Paulus II untuk bertindak seperti Tuhan Yesus. Tidak hanya mengunjungi orang yang berada di dalam penjara (lih. Mat 25:36), Paus Yohanes Paulus II berani mengampuni orang yang bermaksud menghilangkan nyawanya. Setelah dialog dengan Mehmet Ali Agca, kepada para wartawan, ia berkata: “Ketika berbicara dengannya, saya menganggapnya sebagai seorang saudara yang sudah saya ampuni dan saya percayai sepenuhnya." Tindakan itu sama seperti Tuhan Yesus, yang dalam penderitaan-Nya di kayu salib, berdoa bagi mereka yang telah menyalibkan-Nya: “Ya, Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:24).

Dengan mendoakan, mengunjungi, dan mengampuni Mehmet Ali Agca, Paus Yohanes Paulus II membawakan dirinya sebagai pembawa damai seperti Yesus, Sang juru damai (bdk. Yoh 14:27). Untuk mewujudkan damai itulah, Tuhan Yesus diutus Allah Bapa. Ia datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan (lih. Yoh 3:17), bukan untuk membinasakan, tetapi agar umat-Nya memiliki hidup (lih. Yoh 10:10), bukan untuk menghukum tetapi mengampuni (bdk. Luk 1:77). “Dalam nama-Nya, berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa...” (Luk 24:47)

Penyebaran warta tentang pengampunan dilakukan pertama-tama melalui tindakan. Pada saat tertentu, Tuhan Yesus menghubungkan mujizat penyembuhan penyakit fisik dengan pengampunan. Pada saat menyembuhkan orang yang lumpuh badannya, Tuhan Yesus bersabda: “Hai, saudara, dosamu sudah diampuni.” (Luk 5:20). Dengan bertindak demikian, Tuhan Yesus mengajar kita bahwa pengampunan tidak hanya membawa kelegaan jiwa. Pengampunan juga bermanfaat untuk kesehatan badan, baik bagi orang yang meminta ampun maupun orang yang memberikan pengampunan.

Tuhan Yesus juga mengampuni siapa pun yang melawan Dia. Ia bersabda: “Setiap orang yang mengatakan sesuatu yang melawan Anak Manusia, ia akan diampuni...” (Luk. 12:10). Tuhan Yesus tidak menyimpan sedikitpun kesalahan orang lain karena tindakan itu berpotensi merusak kedamaian jiwa-Nya dan mungkin akan mengganggu kesehatan badan-Nya. Tuhan Yesus juga mewartakan berita tentang pentingnya pertobatan dan pengampunan melalui berbagai pengajaran. Ia menyampaikan perumpamaan tentang pengampunan (Mat 18:23-35) untuk menjawab pertanyaan Petrus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku?” (Mat 18:21).

Dalam perumpamaan tersebut digambarkan bahwa suatu dosa atau kesalahan yang diperbuat orang lain kepada kita ibarat utang. Di belahan dunia mana pun, yang namanya utang, ya, harus dibayar. Gambaran semacam itu pun dihidupi oleh masyarakat Israel waktu itu. Mereka menggunakan istilah “mata ganti mata, gigi ganti gigi” (lih. Mat 5:38). Menuntut pelunasan utang dan meminta ganti atas sesuatu yang telah hilang adalah tindakan yang masuk akal dan bisa diterima oleh nalar.

Melalui perumpamaan tentang pengampunan, Tuhan Yesus menggambarkan akibat yang timbul apabila orang terus memegang ajaran “mata ganti mata”, “utang harus dibayar”. Ketidakmauan untuk keluar dari jeratan hukum lama itu, akan membuat kita terus saling melukai dan persoalan yang kita hadapi justru berlanjut tanpa ujung. Tuhan Yesus mengundang para murid-Nya untuk sungguh-sungguh hidup dalam pengampunan. Dengan menekankan akibat buruk yang bisa muncul jika hidup tidak diwarnai dengan semangat untuk saling mengampuni, Tuhan Yesus mengajak para murid-Nya untuk mengenakan pola bertindak baru. Ketika berhadapan dengan orang yang telah berbuat salah atau berutang, Tuhan Yesus mengajak kita untuk melampaui hukum lama, mata tidak harus diganti mata, “utang” tidak harus dibayar. Beberapa hal yang dapat kita pelajari dari perumpamaan tentang pengampunan, antara lain:

1. Mengampuni tidak berarti melupakan Kita akrab dengan istilah “mengampuni, tetapi tidak melupakan” (forgive, but not to forget). Jika kita tidak melupakan kesalahan orang lain, bukankah itu justru akan mengganggu hidup kita? Tidak melupakan kesalahan orang terhadap kita akan menjadi gangguan jika istilah “tidak melupakan” dipadankan dengan kata “mengingat-ingat”. Mengingat-ingat biasanya dilakukan berulang-ulang atas dorongan sentimentil, bukan untuk memperoleh suatu pelajaran, tetapi semata-mata demi kepuasan emosional sesaat. Tindakan mengingat-ingat kesalahan semacam itulah yang berpotensi mengganggu hidup kita. Istilah “tidak melupakan” sebaiknya dipadankan dengan kata “mengingat”. Mengingat kesalahan adalah tindakan rasional, yang mengarahkan kita untuk belajar dari tindakan atau peristiwa salah yang pernah terjadi. Mengingat kesalahan adalah tindakan reflektif yang membuat kita tahu apa yang benar dan menolong kita untuk memiliki suatu “peringatan” sehingga hidup kita bertumbuh semakin bijaksana.

Dalam Kitab II Samuel 12:1-25, kita membaca kisah Daud yang diingatkan oleh Nabi Natan akan kesalahan yang telah dibuatnya. Kita tahu bahwa Allah dengan murah hati mengampuni Daud, tetapi kita juga harus ingat, bahwa Daud tetap menerima konsekuensi atas kesalahannya. Bahkan kesalahan Daud tercatat dalam Kitab Suci sampai sekarang, sehingga peristiwa yang dialami Daud dapat menjadi peringatan bagi kita dan kita dapat belajar daripadanya (II Sam 12:1-25). Masih adakah kesalahan sesama yang terus Anda ingat-ingat atau ungkit-ungkit sampai sekarang?

2. Dialog, menumbuhkan pengampunan Mengampuni tidak berarti begitu saja menghapus “utang” atau kesalahan yang pernah terjadi. Yang dilakukan sang raja dalam perumpamaan tentang pengampunan adalah “mengadakan perhitungan” (ay. 23). Tujuannya adalah agar keberadaan utang diakui. Pengakuan dari pihak yang berutang kiranya merupakan bagian penting dari proses membebaskan utang. Oleh karena itu, proses pembebasan utang dibangun melalui suatu dialog agar pihak yang berutang menyadari utang-utangnya. Demikian pula yang perlu dilakukan dalam proses mengampuni. Pengakuan dari pihak yang bersalah sangatlah diperlukan. Pengakuan membuat pemberian ampun lebih bernilai dan signifikan sebab memiliki alasan yang jelas. Untuk itu, dialog harus dibangun agar kesadaran tumbuh dalam hati pihak yang berbuat salah.Dalam Perjanjian Lama, kita membaca kisah Yusuf yang oleh saudara-saudaranya dijual sebagai budak (Kej 37:12-36). Peristiwa itu sangat melukai hati Yusuf, namun ia terbuka untuk mengampuni. Maka, ketika ia berkesempatan untuk berjumpa dengan saudara-saudaranya, ia membuka dialog dengan mereka, tanpa terlebih dahulu menyingkapkan identitasnya. Meski tidak mudah bagi Yusuf untuk mendapatkan pengakuan dari saudara-saudaranya atas perbuatan buruk yang telah mereka lakukan, Yusuf terus mengajak dialog. Dalam Kitab Suci, dialog itu dikisahkan cukup panjang dan berliku, yakni sebanyak 3 bab (Kej 42-45). Puncak dialog mereka adalah ketika Yusuf membuka identitasnya dan menceritakan kembali apa yang telah terjadi padanya. Setelah itu, “Yusuf mencium semua saudaranya itu dengan mesra dan ia menangis sambil memeluk mereka.” (Kej. 45:15). Pengampunan tidak akan pernah terjadi jika suatu kesalahan didiamkan. Jika suatu kesalahan didiamkan, yang terjadi adalah pengabaian, bukan pengampunan. Jika ada sesama yang bersalah kepada Anda, apakah Anda berani mengingatkannya atau mendialogkannya sehingga Anda dapat saling memberikan dan menerima pengampunan? Apakah Anda lebih suka mendiamkan sesama yang melakukan kesalahan?

3. Mengampuni adalah gerakan hati Menurut Blaise Pascal, hati memiliki penalarannya sendiri ketika nalar tidak lagi mampu menjelaskan. Maka baik untuk diakui bahwa pertimbangan nalar tidak selalu cukup untuk semua keputusan. Dalam hal mengampuni, pertimbangan hati tampaknya lebih perlu mendapatkan tempat. Dalam perumpamaan tentang pengampunan, hati raja tergerak oleh belas kasihan karena sang hamba sesungguhnya tidak mampu melunasi utangnya (ay. 25, 27). Sang raja tidak berat hati melepaskan utang 10.000 talenta karena ia punya harta lebih banyak dari itu. Ia bisa mengampuni karena ia kaya hati. Sayangnya, tidak semua orang memiliki keluasan hati untuk mengampuni. Hati yang dicabik-cabik oleh luka masa lalu, hati yang pahit karena pengalaman gagal, hati yang kering oleh beratnya beban hidup, dan hati yang hampa karena miskin perhatian dan sentuhan kasih sayang, membuat seseorang sulit mengampuni. Hati yang demikian bagaikan tanah mandul. Seperti hamba yang berutang, ia tidak bisa mengampuni meski hatinya disegarkan oleh pengampunan dari sang raja. Welas asih dari sang raja tidak bermakna karena hatinya tak mampu menyimpan kebaikan sehingga meskipun diberi, ia tidak mampu memberi; meskipun diampuni, ia tidak mau mengampuni. Akibatnya, ketika berjumpa dengan rekannya yang berutang hanya 100 dinar, ia menangkap, mencekik, dan karena temannya belum bisa membayar utangnya, ia memasukkan temannya itu ke dalam penjara (ay. 28-30). Mengampuni adalah gerakan hati. Apakah hati Anda kaya akan pengalaman dikasihi atau sebaliknya? Apakah Anda punya pengalaman diampuni sehingga terbebas dari kesalahan yang “mencekik” hidup Anda? Apa pengaruh pengalaman diampuni itu bagi hidup Anda sekarang?

4. Rasa marah: tantangan untuk mengampuni Setelah mengetahui perilaku hambanya yang tidak mengenal ampun, sang raja memanggil dia. “Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya” (ay. 34). Apa yang terjadi? Mengapa sang raja yang pada awal perumpamaan digambarkan penuh welas asih, tiba-tiba “kalah” oleh rasa marah? Bahkan, karena amarahnya, sang raja lalu membatalkan penghapusan utang yang telah dibuatnya. Ia menjilat ludahnya sendiri. Ia yang semula mengampuni kini berbalik menjadi pribadi yang tak kenal ampun. Ia membalas kejahatan dengan kejahatan. Apa maksud Tuhan Yesus dengan perumpamaan itu? Jauh sebelum menyampaikan perumpamaan tentang pengampunan, Tuhan Yesus telah bersabda: “Barangsiapa marah terhadap saudaranya, ia harus dihukum” (Mat. 5:22). Mengapa demikian? Marah bisa menjadi awal sebuah kesalahan yang lebih besar atau fatal. Kebanyakan orang yang marah cenderung untuk melakukan atau mengatakan hal yang senada sebagai pembalasan. Mungkin orang itu berkata: “Karena aku tersakiti oleh ucapanmu, kamu pun harus merasakan sakit. Karena aku kecewa oleh tindakanmu yang tidak sesuai harapanku, kamu pun harus kubuat kecewa.” Dengan menuruti kecenderungan itu, orang berharap mendapat kelegaan untuk mengurangi amarahnya. Padahal, rasa marah yang dituruti tidak akan membawa kelegaan sejati. Seseorang yang sedang marah dapat diibaratkan seperti seseorang yang rumahnya sedang dibakar oleh orang lain. Ketika mengetahui rumahnya dijilat-jilat oleh api, hal yang terpenting untuk dilakukan adalah segera memadamkan api yang membakar rumah itu dan bukan mengejar orang yang menjadi dalang kebakaran. Tindakan seperti itu bijaksana, sebab apabila ia memutuskan untuk mengejar si pembakar atau datang ke rumahnya untuk balas membakar, rumahnya keburu menjadi abu. Apakah ada kelegaan di sana? Jika demikian, apakah orang tidak boleh marah? Marah adalah fenomena psikologis dan mental yang wajar. Tidak ada yang salah dengan rasa marah. Namun, yang perlu diusahakan adalah bagaimana cara, agar rasa marah itu tidak bergerak liar atau salah arah. Untuk itu, kita harus bisa berkomunikasi dan berdialog dengan kemarahan kita sendiri. Ada yang mengibaratkan rasa marah di dalam diri kita seperti bayi yang sedang berteriak, menangis, dan meminta perhatian. Pada saat seperti itu, bayi yang biasanya lucu, bisa sangat mengganggu. Namun, bila kita kalut, bayi itu tidak akan menjadi tenang. Hanya jika kita merangkul bayi itu dengan lembut dan penuh kasih, ia akan menjadi tenang. Demikian pula dengan rasa marah. Rasa marah dapat berubah menjadi ekspresi “sumringah” bila kita memeluknya dengan lembut dan penuh kasih. Agar api amarah tidak membuat kita gagal mengampuni, kita juga harus mengkomunikasikan rasa marah kita kepada sang pemicu rasa marah. Pada umumnya, rasa marah membuat kita enggan berkomunikasi atau kalaupun kita mau berkomunikasi, ekspresinya cenderung negatif. Perhatikanlah bahwa komunikasi itu sebaiknya berbentuk dialog, bukan monolog. Pada awal perumpamaan, komunikasi antara sang raja dengan sang hamba tergambarkan dalam bentuk dialog (ay. 24-27). Kesan itu hilang menjelang akhir perumpamaan, karena yang berbicara hanya sang raja (ay. 32-34). Yang terjadi menjelang akhir perumpamaan adalah komunikasi searah.

Pada saat dialog tidak terjadi, sang hamba tidak mendapat kesempatan untuk mengakui kesalahannya. Padahal, pengakuan merupakan pintu masuk untuk pengampunan. Meski kesalahan sang hamba sudah jelas di depan mata, mendengarkan tetap penting dilakukan. Mendengarkan bukan semata-mata untuk mendapatkan pengakuan. Mendengarkan bisa menenangkan jiwa yang gelisah oleh rasa marah. Mendengarkan bisa menjadi jalan untuk mengubah rasa marah menjadi berkah. Tuhan Yesus juga pernah mendialogkan rasa marahnya. Pada saat menyucikan bait Allah, Tuhan Yesus terlibat dalam dialog dengan orang-orang Yahudi (Yoh 2:13-21). Maka, meskipun tindakan itu merupakan gangguan bagi sebagian orang, Ia tetap berhasil menarik pengikut-pengikut baru yang percaya kepada-Nya. “Dan sementara Ia di Yerusalem selama hari raya Paska, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya” (Yoh 2:23) Apakah Anda pernah marah sampai tindakan atau perkataan Anda salah arah? Apakah Anda pernah gagal mengampuni karena rasa marah yang tak terkendali? Apakah Anda yakin akan kekuatan dialog sebagai pintu bagi pengampunan?

5. Ketidakmampuan mengampuni membawa akibat buruk bagi diri sendiri Akhirnya, sang hamba diserahkan kepada algojo-algojo karena ia gagal mengasihani, seperti ia telah dikasihani (ay. 33-34). Nasib hamba itu sungguh buruk. Apakah nasib sang raja lebih baik? Tidak. Karena kalah oleh rasa marah, sang raja pun terhitung sebagai orang yang gagal mengampuni. Dengan menyerahkan sang hamba ke tangan algojo-algojo, sang raja tidak akan pernah mendapatkan kembali talentanya yang telah dipinjam. Itu artinya, sampai kapan pun, mereka berdua akan terus terjerat dalam perkara utang-piutang. Mereka tidak akan pernah keluar dari masalah. Itulah akibat buruk yang harus dituai karena kegagalan mengampuni. Ketidakmauan untuk mengampuni adalah tanda penolakan untuk terlibat dalam misi Allah melalui Yesus Kristus, yakni misi penyelamatan melalui pengampunan dosa. Akibatnya, mereka akan kehilangan damai Kerajaan Surga. Ya, jika kita pun tidak mau mengampuni, damai Kerajaan Surga tidak akan kita alami. Hanya dengan mengampuni, kita akan diampuni (lih. Luk 6:37). Apakah aku punya pengalaman merasa tidak damai karena kegagalanku mengampuni sesama? Apakah aku memiliki gangguan kesehatan (fisik atau psikologis) yang mungkin berhubungan dengan ketidakmampuanku mengampuni?

6. Mengampuni = mewujudkan gambar Allah yang penuh kasih Karena gagal mengampuni, sang raja dalam perumpamaan itu tidak cocok untuk menggambarkan Allah Bapa. Tuhan Yesus menggambarkan Allah sebagai Bapa yang penuh welas asih. Pada Matius 18:14, Tuhan Yesus bersabda: “Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.” Jika Allah Bapa sudah diperkenalkan berkarakter penuh welas asih, mungkinkah pada pengajaran selanjutnya, Allah Bapa diperkenalkan sebagai pribadi yang berkarakter sebaliknya? Oleh karena itu, sabda penutup perumpamaan tentang pengampunan: “Maka, Bapaku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, jika kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (ay. 35), juga harus dimaknai secara baru. Baik sang raja maupun sang hamba sesungguhnya sama-sama gagal mengampuni. Sang hamba sama sekali tidak tergerak untuk mengampuni, sementara sang raja ternyata tidak mengampuni dengan segenap hati. Lalu perbuatan yang mana yang akan dilakukan Bapa jika kita bertindak seperti sang raja atau sang hamba? Kita kembali kepada tujuan awal kisah ini. Perumpamaan tentang pengampunan dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan Petrus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni? Sampai tujuh kali?” (ay. 21). Tuhan Yesus menjawab: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (ay. 22). Inilah yang akan dilakukan Bapa kepada kita. Ia akan mengampuni kita “tujuh puluh kali tujuh kali”. Kendati kita kerapkali gagal mengampuni, Bapa tidak akan pernah membiarkan kita terhilang karena kegagalan kita. Dengan demikian, perumpamaan tentang pengampunan tidak akan berakhir tragis di tangan algojo. Di tangan Allah Bapa, pengampunan tidak akan ada akhir. Di dalam Kerajaan Surga, amarah ditanggapi dengan kasih, kejahatan dibalas dengan kebaikan (vince in bono malum, bdk. Roma 12:21). Apabila kita mengampuni sesama, kita menghadirkan wajah Allah yang penuh kerahiman. Apakah aku punya pengalaman “manis” karena keberanianku untuk mengampuni kesalahan sesama?

Digerakkan oleh devosinya yang sangat mesra dengan Ibu Maria, Paus Yohanes Paulus II sampai kepada Tuhan Yesus. Ajaran dan teladan Tuhan Yesus tentang pertobatan dan pengampunan, sebagaimana digemakan oleh Ibu Maria melalui penampakan di Fatima, sungguh-sungguh mewarnai kehidupan Paus Yohanes Paulus II. Untuk mewujudkan ajaran dan mengikuti teladan itu, Paus Yohanes Paulus II harus melalui perjalanan yang tidak mudah. Benarlah apa yang dikatakan oleh teolog Bernard Haring CSsR, bahwa “Orang miskin dan musuh adalah dua ujian terberat bagi kasih sejati. Tidak seorang pun dapat meniru dengan benar dan terlibat dalam kasih Allah bila ia tidak menjadi penbawa damai atau menjadi pengampun, baik dalam relasi antarpribadi maupun dengan sesama”. Paus Yohanes Paulus II berhasil menyemangati diri untuk melewati ujian terberat itu. Ia berhasil “membalas kejahatan dengan kebaikan”. Dengan cara itu, ia membuktikan dirinya sebagai murid Tuhan Yesus yang setia. Konstitusi FIC juga menyemangati untuk “berkali-kali dengan murah hati memberikan pengampunan yang seorang kepada yang lain, dan kepada mereka yang telah melukai kita” (lih. Konstitusi FIC, art. 72). Mengapa harus berkali-kali dan dengan murah hati? Mungkin karena itulah ujian terberat dalam kehidupan persaudaraan kita. Oleh karena itu, mari kita mengambil langkah nyata agar kita semakin murah hati mengampuni seperti Bapa di surga adalah murah hati. Semoga berkat pengampunan yang kita berikan, kita semakin sehat jiwa dan raga, jasmani dan rohani. Semoga dengan saling mengampuni, kita boleh mencicipi damai sejahtera Kerajaan Allah dalam hidup pribadi sehari-hari, dalam komunitas, karya, dan keluarga kita. “Alangkah indahnya hidup kita kalau kita saling mengampuni satu dengan yang lain” (Berita Provinsi FIC, No. 04/SE-DP/IV/17).

Leonardo da Vinci (1452-1519) adalah seorang pelukis terkenal yang berkarya di Italia dan sekitarnya pada puncak kejayaan masa renaissance. Salah satu mahakaryanya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir”. Ia membuat lukisan itu di salah satu sisi dinding ruang makan biara Santa Maria delle Grazie di Milan. Alkisah, ketika Leonardo da Vinci hendak mulai melukis “Perjamuan Terakhir” itu, ia terlibat pertengkaran hebat dengan seorang temannya sesama pelukis. Sedemikian hebatnya pertengkaran itu, sampai-sampai Leonardo terus dilanda rasa marah dan sakit hati beberapa hari lamanya. Dikuasai kemarahan, Leonardo memutuskan untuk “menghukum” teman bertengkarnya. Ia hendak menggunakan wajah “musuh” nya itu sebagai model tokoh Yudas Iskariot. Dengan begitu, ia akan merasa puas. Kejadian aneh terjadi ketika Leonardo hendak mulai melukis wajah Yesus. Idenya tiba-tiba macet. Ia mengalami kesulitan untuk menggambarkan wajah Yesus. Tangannya berat untuk digerakkan. Akibatnya, proses pengerjaan lukisan tersendat. Dalam pergulatannya, Leonardo sadar akan api amarah yang menyala di dalam hatinya dan akan rencana buruk yang dibuatnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membatalkan niatnya. Ia tidak jadi melukiskan wajah “musuh” nya sebagai wajah Yudas Iskariot. Ia mengampuni temannya itu. Setelah itu, keajaiban terjadi. Proses melukis wajah Yesus dan para rasul menjadi lancar. Hasilnya adalah lukisan “Perjamuan Terakhir” yang dikagumi oleh banyak orang, sampai sekarang.

Merefleksikan kisah itu, C.E. MacCartney mengatakan: “Anda akan selalu gagal melukiskan wajah Yesus yang penuh welas asih, jika hati Anda dipenuhi dengan rasa marah dan kebencian.”




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 1 ms