Notice: Use of undefined constant ewSessionIndukGet - assumed 'ewSessionIndukGet' in /home/kenz/brfic/html/artikel.php on line 11 MENJADI PEWARTA SABDA TUHAN :: Bruder F.I.C Indonesia ::
Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Rabu, 28 Juni 2017  - 3 User Online  




Brothers FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Rekoleksi Panggilan dan Tes masuk Bruder FIC


26.09.2016 17:07:18 395x dibaca
MENJADI PEWARTA SABDA TUHAN
Oleh Provinsialat FIC Semarang

Bulan September bagi Gereja di Indonesia dijadikan kesempatan untuk mengenal dan mencintai Kitab Suci, atau yang sering dikenal sebagai Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN). Pada tahun 2016 tema BKSN adalah Keluarga yang Bersaksi dan Mewartakan Sabda Allah. Tema ini mengajak semua orang beriman untuk menjadi pewarta Sabda Tuhan dan memberikan kesaksian tentang Sabda Tuhan dalam hidup sehari-hari. Dalam tradisi Gereja, aspek pewartaan sering disebut dengan “kerigma” sedangkan aspek kesaksian disebut “martiria”.

Kata kerigma amat khas dipakai oleh Gereja untuk kegiatan pewartaan. Kata ini berasal dari kata Yunani “kerygma” yang berarti ‘proklamasi’ atau ‘pengumuman’. Sebagai pemakluman, kata kerigma dipahami dalam dua arti yaitu sebagai aktivitas mewartakan dan menyangkut isi pewartaan itu sendiri. Kata kerigma dipakai oleh Gereja dalam hubungannya dengan kehidupan Yesus Kristus. Kerigma dipahami sebagai kegiatan mewartakan hidup, wafat, kebangkitan, dan kenaikan Yesus yang pada akhirnya meminta pertobatan orang yang mendengarkan warta tersebut. Aktivitas ini dijalankan secara nyata oleh para rasul dan kemudian diteruskan oleh Rasul Paulus dalam surat-suratnya.

Kata “saksi” dalam Kitab Suci amat berhubungan dengan pengadilan. Di lembaga pengadilan orang memberikan kesaksian tentang apa yang dilihat dan diketahuinya secara pribadi. Tekanan yang paling utama dari kata “saksi” di sini adalah memberikan informasi yang benar dan apa adanya sebagaimana yang dilihat atau dialaminya sendiri. Dia akan berupaya untuk mempertahankan apa yang benar tersebut. Karena itu, sebenarnya kata ‘saksi’ lebih berorientasi pada bidang hukum. Ketika dipakai dalam Kitab Suci, konteks pengadilan dan hukum tidak bisa dilepaskan begitu saja. Konteks pengadilan nampak cukup jelas dalam perikop-perikop dan aturan yang berbicara tentang kesaksian. Kesaksian misalnya tidak boleh hanya satu orang. Kesaksian mesti diperkuat oleh dua atau tiga saksi lain (Ul. 17:6; 19:15) dan tidak boleh palsu. Perlindungan terhadap kesaksian ini diteguhkan dalam hukum kesembilan dari 10 perintah Tuhan (Kel. 20:16; Ul. 5:20). Jika orang memberikan kesaksian palsu, orang itu akan dihukum sesuai dengan apa yang ingin dilakukannya terhadap orang yang dituduhnya (Ul. 19:16-21).

Para rasul adalah saksi hidup Yesus di dunia ini. Mereka mengetahui Sang Guru secara mendalam, mendengarkan ajaran-ajaran-Nya dan menyaksikan mukjizat-mukjizat yang dikerjakan-Nya. Mereka menjadi saksi dari transfigurasi yang terjadi di Gunung Tabor (Mat. 17:1-2). Mereka juga menjadi saksi kebangkitan-Nya (Luk. 24:48) dan kenaikan-Nya ke surga (Kis. 1:9). Apa yang mereka lihat dan alami inilah yang kemudian mereka wartakan (1Yoh. 1:1-3). Kesaksian yang demikian tidak pernah dapat dibantah. Para murid yang adalah orang-orang yang sederhana dan tidak terpelajar mampu 3 bersaksi secara benar karena bersumber dari pengalaman pribadi bersama Yesus.

Apa yang diwartakan oleh penginjil dan para rasul, kini sampai juga kepada kita. Mereka berfokus pada apa yang dibuat Yesus. Untuk maksud pewartaan yang sama, mereka meninggalkan tulisan-tulisan yang amat berguna bagi orang beriman, dan itu semua dapat kita baca dalam Kitab Suci. Oleh karena itu, sebagai orang yang dipanggil untuk membaktikan diri sesuai teladan hidup Yesus, kita perlu bersumber dari Kitab Suci (bdk. Konstitusi FIC art. 57). Kita sebagai religus bruder diharapkan mampu menjadi saksi atas kasih Allah. Kita memberikan kesaksian tentang Tuhan dengan meneruskan ajaran dan perintah-perintah-Nya. Dengan jalan demikian hidup kita menjadi pewartaan dan kesaksian bagi anggota komunitas, bagi mereka yang kita layani, bagi mereka yang kita jumpai dalam hidup sehari-hari. Pewartaan dan kesaksian yang otentik berasal dari pengalaman kedekatan kita dengan Tuhan. Tuhanlah yang kita wartakan sehingga kesaksian kita mempunyai daya pikat karena kita bersaksi bukan untuk kepentingan kita pribadi, tetapi demi semakin Tuhan dimuliakan. Para bruder dan frater yang terkasih, marilah kita terlibat dengan gerakan Gereja di Indonesia dalam Bulan Kitab Suci Nasional 2016. Di masing-masing keuskupan telah disiapkan teks untuk pendalaman bersama, dengan tema dan panduan yang sesuai dengan Arah Dasar Keuskupan. Semoga melalui Bulan Kitab Suci kita semakin bersumber dari Yesus, sumber kehidupan kita.




KOMENTAR
Belum ada komentar, silakan mengisi komentar melalui form berikut :


NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 1 ms