Provinsialat FIC Jl Sultan Agung 133 Semarang 50234 Indonesia Tlp (024) 8312547 Fax(024)8504130 e-mail:ficindo@indosat.net.id
Sabtu, 01 November 2014  - 6 User Online  




Brother FIC
Yayasan Pangudi Luhur Pusat
YPL Jakarta
Promosi Panggilan FIC
Majalah Komunikasi FIC
Bruder Muda FIC
Blog milik Der Wahyu
Blog milik Der Wahyu


13.09.2007 08:32:51 17043x dibaca
SEKOLAH KATOLIK SEKOLAHNYA ORANG KAYA?
Oleh Oleh : Rina Hastari, SE, MSi

Musim tahun ajaran baru telah tiba. Perbincangan mengenai biaya pendidikan biasanya akan sangat menarik pada musim tahun ajaran baru seperti ini. Dan sekolah katolik kembali mendapat sorotan mengenai biaya pendidikan yang kian mahal dan tidak mampu dijangkau semua lapisan masyarakat. Padahal, disadari dewasa ini, sekolah katolik merupakan salah satu elemen penting ujung tombak pewartaan dalam Gereja Katolik.
Disamping tempatnya yang amat strategis karena lebih mudah menjangkau semua komponen dari beragam strata sosial, etnis, budaya, politik dan ekonomi masyarakat juga menjadi medan pewartaan yang layak diperhitungkan. Pertumbuhan jumlah baptisan baru jauh lebih memberi warna signifikan dalam dinamika kegerejaan ketimbang pewartaan konvensional yang selama ini sudah berjalan.
G. Budi Subanar, SJ (2003) sejak zaman Soegijapranata tahun 1937 diakui peran sentral sekolah katolik dalam pertumbuhan jumlah umat. Jumlah baptisan baru yang berasal dari sekolah-sekolah katolik menduduki pertama jumlah umat yang menjadi katolik. Masalah baru muncul ketika anak-anak yang dididik dalam pendidikan asrama lulus dan berbaur dengan kehidupan di masyarakat yang mayoritas non katolik.
Begitu pentingnya posisi sekolah katolik sudah sewajarnya sekolah katolik mendapat perhatian yang utama dalam pewartaan gereja. Sekolah katolik pada masa lalu cukup memberi kontribusi besar pada perubahan sosial masyarakat. Pada waktu eranya SGA, SGB dan kemudian SPG terbukti sekolah-sekolah itu mampu menghasilkan guru-guru yang bermutu dan diperhitungkan berbagai kalangan.
Juga dari kalangan didikan guru-guru berasrama didikan Suster-suster Fransiskanes Heythuisen di Mendut cukup memberi kontribusi pada pewartaan iman. Demikian juga IKIP Sanata Dharma mampu memberikan pencerahan dalam bidang pendidikan secara amat meluas.
Namun di era kapitalisasi belakangan ini, sekolah katolik ikut terseret dalam pusaran arus kapitalisasi pendidikan. Sekolah berubah menjadi industri yang diharapkan produknya mampu menyumbang dinamika globalisasi. Salah satu dampak kapitalisasi dan industrialisasi pendidikan adalah sekolah mahal!. Sekolah tidak lagi mampu diakses oleh mereka yang kurang mampu. Kritik bertubi-tubi terhadap mahalnya sekolah katolik bahkan makin diperburuk dengan sikap tidak ramah terhadap mereka yang termarginalkan dalam hidup bermasyarakat.
Pada umumnya ada beberapa sebab mengapa sekolah katolik secara pragmatis mengambil pilihan demikian, Pertama, semakin berkurangnya jumlah guru-guru negeri yang diperbantukan (DPK) ke sekolah-sekolah katolik. Dari pihak pemerintah semakin meningkatnya kemandirian yayasan pengelola mendorong pemerintah mengurangi pendropan guru-guru negeri ke sekolah-sekolah katolik.
Sementara dari pihak yayasan/sekolah penolakan guru DPK bukan tanpa alasan. Banyak yayasan/sekolah mengeluhkan dedikasi guru-guru yang diperbantukan oleh pemerintah. Meski mereka digaji dari anggaran pemerintah, namun karena merasa bukan digaji oleh yayasan/sekolah banyak guru DPK bekerja semaunya sendiri. Akibatnya loyalitas kepada sekolah kendor.
Berkurangnya guru negeri yang diperbantukan dan meningkatnya guru yayasan yang dipekerjakan jelas membawa konsekuensi keuangan yang tidak kecil bagi yayasan. Maka yayasan/sekolah yayasan perlu menggali pendanaan untuk mendukung kelancaran operasional sekolah.
Dan ini tidak murah!. Berbeda dengan sekolah negeri yang semua dananya disubsidi pemerintah, sekolah swasta termasuk sekolah-sekolah katolik menggantungkan pendanaan dari orang tua murid. Tak heran semenjak mendaftarkan diri ke sekolah, pihak yayasan/yayasan sudah menjelaskan konsekuensi memasuki sekolah tersebut.
Kedua, motif subsidi silang. Sekolah katolik menjadi mahal karena beberapa sekolah katolik elit di perkotaan merupakan sumber pendanaan utama dari yayasan. Kecuali yayasan yang memiliki sumber-sumber pendanaan dari luar negeri, banyak yayasan katolik tidak memiliki sumber pendanaan mandiri.
Selain mengelola sekolah katolik elit perkotaan banyak yayasan katolik juga mengelola sekolah-sekolah lain (biasanya miskin dan terpencil) di pelosok Sumatra, Kalimantan, Papua, bahkan pelosok seperti Klepu, Boro atau Wonogiri, Klaten masih mengandalkan dari dukungan dari subsidi silang sekolah elit perkotaan. Dan ironisnya sekolah-sekolah pelosok itu tidak hanya membutuhkan dukungan untuk menggaji guru tetapi juga bangunan sekolah dan dukungan operasional lain.
Pada satu sisi motif subsidi silang sangat membantu sekolah-sekolah miskin pedesaan yang juga membutuhkan pemerataan pendidikan. Namun pada saat yang sama akan mengesankan masyarakat bahwa sekolah katolik (terutama yang di perkotaan) adalah sekolah mahal dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang kaya. Masyarakat tidak pernah mau mengerti bahwa disamping mengelola sekolah-sekolah elit juga mengelola sekolah miskin di pedesaan karena memang tidak pernah ada penjelasan.
Ketiga, industrialisasi dan kapitalisasi pendidikan membawa konsekuensi pendidikan mahal. Sekolah harus berubah tidak hanya melayani kebutuhan lokal namun harus mampu menjawab tuntutan global. Tidak hanya dalam segi bahasa, namun dalam penguasaan teknologi sejajar dengan sekolah-sekolah modern di negara-negara maju. Merupakan kecenderungan umum terhadap sekolah terdapat tuntutan yang berbeda sama sekali dengan dua tiga dekade lalu.
Sekolah tidak hanya membuat anak pintar, dan berbudi pekerti namun harus menjadi manusia global yang mampu berkiprah secara internasional. Kebijakan ujian nasional (UN) misalnya merupakan parameter global yang dipakai mengukur kualitas pendidikan. Model itu juga dipakai di negara-negara lain untuk memetakan kualitas pendidikan sebuah negara.
Untuk meladeni industrialisasi pendidikan pasti mahal. Membutuhkan biaya yang tidak kecil guna menyediakan guru-guru berkualitas yang minimal berpendidikan sarjana dan sarana-sarana pendukung yang lain. Kini guru-guru di sekolah katolik mulai dari jenjang SD SMP, SLTA mulai mengambil gelar S-2 dengan maksud mengejar ketertinggalan.
Untuk itu, dalam hemat penulis kembali ke topik awal pentingnya sekolah katolik dalam dinamika hidup menggereja, meski sudah menjadi keharusan global sekolah katolik menyesuaikan diri dengan sekolah-sekolah modern di luar negeri, namun keberpihakan gereja juga harus menjadi sikap dasar sekolah katolik. Jika gereja memposisikan diri dengan semangat option with the poor, sekolah katolik juga harus bersikap demikian.
Penulis termasuk mencemaskan kritik terhadap mahalnya sekolah katolik (bahkan pada saat yang sama rumah sakit katolik) akan mengundang resistensi yang dalam jangka panjang justru mempersulit peran gereja di tengah-tengah masyarakat. Seyogyanya, mengiringi kian majunya sekolah katolik perlu ada penyeimbang gerakan-gerakan sosial kemasyarakatan untuk berpihak secara nyata dengan mereka yang miskin. Ketidakberpihakan bisa menyebabkan semakin lemahnya dukungan masyarakat terhadap sekolah katolik. Bahkan di tengah isu akan adanya nasionalisasi sekolah-sekolah katolik belakangan ini, gereja perlu memikirkan bentuk kerasulan alternatif yang mampu menjawab perubahan zaman.




62 KOMENTAR
14.09.2007 19:02:00
Sekolah katolik sekarang tidak lagi di menara gading. Perkembangan sekolah agama lain juga kian pesat bahkan dalam beberapa segi lebih baik. Jika sekolah katolik tetap bertahan dengan pola sekarang bahkan tidak ada perubahan bisa hancur. Sekolah katolik dan yayasan katolik lebih lambat dalam menangkap perubahan sehingga dikesankan terlambat. Padahal mestinya sekolah katolik bisa lebih baik dan bisa menangkap perubahan. Kemandegan perkembangan sekolah katolik inilah yang kini ditangkap oleh sekolah lain, termasuk pemerintah. Kadang-kadang ada perasaan "hebat" dalam diri pengelola sekolah katolik bahwa sekolahnyalah yang paling hebat. Sekolah negeri sekarang lebih hebat-hebat. Sekolah yang dikelola agama lain juga hebat. Dan yang perlu diwaspadai adalah gerakan politisasi keagamaan yang imbasnya memang berdampak pada sekolah-sekolah katolik. Waspada siapa tahu kelak ada pendapat orang yang berbeda agama sekolah di sekolah katolik adalah haram.
LINTANG  
14.09.2007 21:09:17
Menanggapi artikel Sdri. Rina, saya terkesan dengan analisis anda yang cukup tajam. Meski bukan wacana yang sama sekali baru, namun ketiga argumen yang dikemukakan memang berkaitan dan ada benarnya juga. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa kemampuan ekonomi masyarakat makin meningkat. Hal ini dibuktikan dengan adanya kemampuan masyarakat untuk ‘membeli’ jasa pendidikan di sekolah-sekolah tersebut. Tanpa adanya daya beli yang seimbang dengan ‘produk’ yang dihasilkan, maka pastilah sekolah-sekolah itu segera gulung tikar. Mahal tidaknya biaya, tidak dapat diukur dengan fasilitas yang dimiliki oleh sekolah ataupun kualitas guru yang memberikan layanan pendidikan atau seberapa besar perhatian sekolah kepada tiap siswanya– meskipun tidak dipungkiri bahwa semua hal itu sama pentingnya dengan aspek yang lain. Melainkan proses belajar yang terjadi selama masa pendidikan itulah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mendewasakan dirinya, yang tidak dapat dinilai dengan apapun juga. Pengalaman belajar yang diperoleh tidak hanya berupa aspek kognitif saja, tetapi juga aspek perilaku, aspek afeksi/emosi, aspek mental/spiritual dan aspek-aspek yang lain. Maka, soal mahal atau tidaknya sekolah menurut pandangan masyarakat, dalam opini saya hanya mengenai satu aspek saja yaitu aspek finansial. Jika saja masyarakat menyadari dan melihat secara lebih luas, maka biaya pendidikan itu tak dapat dinilai berapapun rupiahnya. Bahwa pendidikan itu mahal, memang betul, tetapi bagaimana setiap anak memperoleh pendidikan yang memadai dan mendewasakan dirinya, itu jauh lebih penting.
PAULUS YANU  
10.10.2007 08:32:07
Memang sekolah Katolik dari tahun ke tahun makin mahal terutama SPPnya.bahkan aku belum lunas bayar.uang masuk sekolah.saking mahalnya getoo.sungguh akan sangat mengecewakan sekali bila pelayanan yang diberikan tidak sepadan dengan SPP setiap bulan.maka dari itu semua yayasan katolik harus belajar untuk meningkatkan mutu pelayananya.Lagipula sekolah katolik bukan hanya sebagai "sekolah formal"tetapi juga sebagai seminari kecil di mana setiap siswa2 yang belajar mengetahui iman kristiani yang mengajarkan tentang kasih ,terutama bagi kaum yang kurang mampu(lebih2 dalam hal pendidikan)
OBEX  
26.10.2007 03:12:45
Konsekuensi yang wajar tatkala sekolah2 katholik ikut terkena imbas industrialisasi pendidikan, karena memang kapitalis yang sedang berjalan di negeri ini. hanya saja apakah imbas2 tadi dapat memiliki signifikasi yang positif atau justru akan meminggirkan awam untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dengan harga yang terjangkau di masyarakat.terus masih ditambah dengan standarisasi basis teknologi informasi yang pasti akan memakan ongkos adaptasi yang besar. jadi, sebenarnya tidak ada yang disalahkan. asal semuanya bertujuan untuk pencerahan. cuma yang bingung, benar menurut siapa? Kontrol tanggung jawabnya oleh siapa? trus bagaimana peran gereja dalam hal ini. Terus yang kukhawatirkan jika model sekolah adalah industrialisasi pendidikan, jangan2 nanti orang yang hendak bekerja di situ memakai parameter hubungan industri. Gaji guru dihitung dengan kebutuhan fisik minimum? pakai dasar umr? pakai sistem outsourching? oh tiddaaakkkkk ........
AGUS SUM  
16.04.2008 23:24:36
Saya dari Semarang,
Tulisan mbak Rina Hapsari di atas banyak benarnya. Tambahan untuk diperhatikan penyelenggara Sekolah-sekolah Katolik, terutama Bruder FIC dari Pangudiluhur ........ (anak saya juga dekolah di Yayasan ini, di PL. Don Bosco, Smg) Bahwa misalkan untuk masuk ke SMP PL yang di Kali Wiru, calon siswa harus memiliki nilai minimal tertentu (misalnya untuk Matematika, IPA dan Bahasa). Yang kurang dari standart tersebut nggak bisa diterima. Perlu diperhatikan bahwa bakat dan minat anak / peserta didik tidak semua pada bidang yang dipersyaratkan. Bakat music, bakat sastra, dan bakat yang lain yang memiliki nilai rendah pada persyaratan masuk di sekolah Katolik unggulan di kota Semarang itu, tentu tidak bisa masuk. Akibatnya, anak saya yang katolik saya sekolahkan di Negri. Sesungguhnya besar harapan kita para orang tua mengantarkan anak untuk memperoleh pendidikan dari sekolah katolik, namun apa boleh buat ..... sekolah itu tidak menerima. Perlu saya sampaikan pula bahwa lembaga pendidikan yang BERHASIL adalah yang dapat mengangkat derajad siswa yang kurang pandai pada bidang (yang dipersyaratkan Mat, IPA, dll) menjadi mampu dan pandai. Sebuah sekolah diukur UNGGUL berdasarkan apa ? Prestasi ?? Bagi saya sangatlah mudah meraih prestasi, jika semua masukan siswa (input) pada sekolah yang kita bina semuanya pandai-pandai alias berprestasi !!! Dasarnya sudah pandai dan berprestasi, ya nggak heran kalau sekolah itu akan berprestasi ! Coba terapkan input yang berfariasi dan tidak membatasi yang \\\"pandai\\\" dalam bidang tertentu saja dengan alat ukur tidak hanya pelajaran tertentu ! Saya lebih kagum dengan sekolah yang dulunya tidak diunggulkan tapi berhasil menjadi unggul. Dengan input siswa yang heterogen tapi out put nya Lulus semua dengan nilai baik, bahkan berprestasi tertiinggi di jawa Tengah misalnya ! Itu baru sekolah unggul !!!

A. ARDY WIDYARSO  http://awidyarso.wordpress.com
17.04.2008 03:37:56
Sekolah Katolik telah kehilangan \'jiwanya\' sebagai institusi pendidikan yang berpihak terhadap kaum kecil. Memang kita harus angkat top[ terhadap kualitas pendidikan katolik yang telah teruji, tetapi biayanya khan selangit juga. Jadi tidak ada istimewanya. Semua sekolah juga bisa berkualitas kalau tarifnya mahal(Bisnis pendidikan). Yang perlu diusahakan oleh sekolah katolik adalh menyediaknan pendidikan yang berkualitas tetapi terjangkau oleh puhak kecil, misalnya dengan subsidi silang. saya benar2 kecewa melihat sekolah2 katolik yang sudah tidak ada bedanya dengan industrialisasi pendidikan, pengelolanya rohaniwan lagi, di mana HATI NURANI KITA, Di mana KEBERPIHAKAN KITA TERHADAP KAUM KECIL!! Lebih baik tidak usah bawa2 nama Katolik kalau itu untuk BISNIS dan semacamnya, dari pada semakin mengotori identitas KATOLIK sebagai PELAYAN, SAHABAT KAUM PAPA dll. Terima kasih
VICTOR  
22.07.2008 09:01:16
saya kurang setuju...
saya berpengalaman bersekolah di sekolah Katolik. untuk biaya tidak terlalu memberatkan,justru bagi siswa yang tidak mampu memperoleh dana bantuan. dan pada umumnya sekolah Katolik termasuk sekolah favorite di daerah saya. Terima Kasih

CHRISTINE  
10.08.2008 18:40:41
Saya setuju bahwa para pengelola Sayasan & Sekolah Katolik perlu mengubah sudut pandangnya dalam mengelolanya, sebab terkesan bahwa apa yang dilaksanakan saat ini adalah terbaik tanpa mau tahu bahwa banyak muncul sekolah swasta lainnya yang systim dan pengelolaannya mengikuti perkembangan zaman. Sebagai contoh anak saya kuliah di Perguruan Tinggi Katolik di Yogyakarta, hanya untuk meminta pengesahan IPK & Surat Keterangan bahwa si anak masih aktif sebadagai mahasiswa agar bisa mendapatkan bea siswa dari kantor tempat suami saya bekerja saja terlalu banyak permintaan yang memakan waktu sedangkan pemasukan permohonan pengajuan bea siswa itu ada batas waktunya. Hal ini dikemukan bukan untuk menyudutkan Sekolah Katolik tapi diharapkan agar Sekolah Katolik tetap bisa exist dan berkembang setaraf dengan Sekolah-Sekolah yang berkwalitas yang banyak muncul saat ini
CAECELIA MARIA ENDANG W  
24.08.2008 22:54:26
Saya dibesarkan di sekolah katolik. Benar dulu sekolah katolik merupakan sekolah yang baik, dan masuk yang terbaik. Mungkin ini juga yang membuat sekolah katolik menjadi sombong. Pada saat ini saya melihat degradasi dalam hal mutu.
Misalnya saja Sekolah Santa Maria Juanda Jakarta. Biaya pendidikan disana sangat mahal. Biaya pembelian buku, seragam sangat mahal. Belum tambahan ini itu, yang semuanya uang.
Mengenai mutu, saya sangat meragukan, karena guru mengharapkan orang-tua mengajar anak2 di rumah.
Saya juga setuju bahwa sekolah katolik tidak mengikuti perkembangan jaman. Tapi saya juga tidak sangat setuju mengenai mengikuti perkembangan jaman. Tidak semua yang mengikuti perkembangan jaman itu baik. Terutama jika menyangkut kurikulum sekolah sekarang yang bukan bertambah baik.

JOHANNES FILANDOW  
17.11.2008 20:32:24
Bagi saya sekolah katolik hanya satu dari banyak pilihan. Keunggulannya kini sudah terlampaui oleh banyak sekolah yang lain.
Ardy

A. ARDY WIDYARSO  http://awidyarso.co.cc
27.11.2008 21:48:02
Saya kurang setuju dengan tanggapan bahwa sekolah katolik yang hanya untuk orang kaya saja.Saya sejak sd-sma sekolah di sekolah katolik malahan saya merasa bahwa sekolah katolik sangat membantu saya. fasilitas sekolah katolik sangat bagus malahan prestasinyapun tetap unggul.kalau mengenai banyak orang kaya yang sekolah disana itu merupakan bonus. kalaupun mahal tapi fasilitasnya memadai kenapa tidak....? orang kalau mau maju harus berusaha kan hanya orang malas saja yang maunya murah. lagian ilmu itu harus dicari dengan kerja keras. coba kita lihat prestasi2 yang ada di indonesia kebanyakan dari sekolah katolik atau swasta. oleh sebabg itu sekolah2 katolik yang ada di indonesia harus dijadikan contoh untuk sekolah2 yang lain okay. GBU.......
NOBE  
27.11.2008 21:49:30
Saya adalah pendidik di SMP Katolik Santo Paulus Kraksaan Probolinggo. Secara umum, baik di desa maupun di kota, sekolah Katolik menjadi semakin mahal walaupun tidak disertai kualitas yang sepadan dengan biaya pendidikan. Ini terjadi karena beberapa faktor, baik dari faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah yang paling penting. Faktor2 itu antara lain kaderisasi pendidik yang tidak berjalan dengan baik. Banyak di sekolah Katolik terdapat guru yang sudah manula dan pelupa. Faktor lainnya adalah otonomi sekolah yang menyebabkan tiap sekolah bersaing walaupun sama-sama sekolah Katolik. Dalam hal ini, keuskupan di tiap wilayah tidak terlalu campur tangan. Keadaan ini menjadikan sekolah Katolik di desa maupun di kota tidak terkendali, baik dari sistem maupun manajemennya.
Sebenarnya masih banyak faktor internal dari penyebab sekolah Katolik menjadi sangat mahal namun kualitasnya semakin berkurang. Kita mesti bekerja sama, setidaknya saling mendukung dan mengingatkan. Percuma saja banyak buletin, majalah, atau berita forum yang mengatasnamakan komisi peduli pendidikan Katolik, tetapi hanya di atas kertas dan tidak mengena pada semua lapisan lembaga pendidikan.
Terima kasih.

ERWIN TUNGGARA  http://www.tunggara47.co.cc
27.11.2008 21:56:14
Saya kurang setuju dengan tanggapan bahwa sekolah katolik yang hanya untuk orang kaya saja.Saya sejak sd-sma sekolah di sekolah katolik malahan saya merasa bahwa sekolah katolik sangat membantu saya. fasilitas sekolah katolik sangat bagus malahan prestasinyapun tetap unggul.kalau mengenai banyak orang kaya yang sekolah disana itu merupakan bonus. kalaupun mahal tapi fasilitasnya memadai kenapa tidak....? orang kalau mau maju harus berusaha kan hanya orang malas saja yang maunya murah. lagian ilmu itu harus dicari dengan kerja keras. coba kita lihat prestasi-oprestasi yang ada di indonesia kebanyakan dari sekolah katolik atau swasta. oleh sebab itu sekolah-sekolah katolik yang ada di indonesia harus dijadikan contoh untuk sekolah-sekolah yang lain okay. GBU.......
NOBE  
10.12.2008 07:29:16
saya setuju apa yg di bicarakan oleh penulis,karena saya sendiri mengalami hal tsb.
FERRYTJHIA  
30.05.2009 09:55:05
Sekolah Katolik kehilangan ruh-nya.Sebagai orang Katolik, siapa sih yang tdk menginginkan anaknya bersekolah di sekolah Katolik? Klo hanya mengejar kepanadaian, saat ini rata rata sekolah nasional/ negeri memiliki standar yang hampir sama. Apalagi sekolah swasta non-Katolik, semisal Al Azhar, kualitasnya bahkan sudah melampaui seklah Katolik. Hanya saja, tdk semua orang Katolik memiliki akses masuk ke sana, krn terkendala biaya. Klo sudah begini,siapa yang bertngjwb jika banyak orang muda \"lari\" dari iman Katolik. Sekolah Katolik termasuk pilar ikut bertanggunjwb. Saya nilai saat ini banyak anak muda yng imannya krg militan! Itu bkn hny tngjwb keluarga, tetapi juga sekolah Katolik yang gagal menjaring bibit bibit gereja!!
ALOYSIUS  
14.08.2009 00:30:17
SEKOLAH KATOLIK TERASA ADA PENURUNAN KUALITAS DIAKIBATKAN KAUM BIARAWAN NYA BANYAK YG GA TRANSPARAN
DAN MERASA SUDAH PALING JAGO
SEKOLAH KATOLIK SEKARANG INI TIDAK NAMPAK KEKETOLIKAN NYA.


TOLONG DIPELAJARI APA2 AJA KEKURANGAN NYA AGAR BISA MENGULANGI KEJAYAAN NYA KETIKA JAMAN BELANDA..
BILA PERLU MENGADAKAN STUDY KE BELANDA..
TOLONG...

ARIF  
26.08.2009 18:32:47
Sesungguhnya Sekolah Katolik sudah mengalami kemunduran.Terutama Pendikan \\\\\\\"MORAL\\\\\\\". Kalau pendidikan Akademik masih Oke.Oleh karena itu menjadi sebuah PR yang sangat menakutkan.Orang tua,Guru, dan Dewan Pastoral mari cari solusi yang terbaik bagaimana carannya mendidik Generasi Gereja bukan berbagai teori tap dengan BERTINGKAH LAKU yang BAIK.
KLEMENS  http://www.klemens_kolin@yahoo.co.id
01.11.2009 17:49:20
Sekolah katolik dulu dengan sekarang berbeda jauh sekali. Sekarang hanya mementingkan popularitas semata tanpa melihat segi negatifnya lagi. Di Sukabumi,sekolah katolik berubah menjadi sekolah militer yang mengandalkan tindak kekerasan. Murid tidak bisa menjawab, salah menjawab, tidak membuat PR dsb, selalu diberi pukulan ditangan bahkan ditampar.Bila anak melapor pada ortu, esoknya anak akan diejek habis sambil ditonton para guru lain.Kata-kata yang menyakitkan dan kasar sering kali muncul dari mulut para guru dan suster sebagai pimpinan sekolah. Apakah pendidikan seperti itu yang dapat menhasilkan bibit unggul?
YULI AMALIA  
11.01.2010 23:08:54
Ada yang mengatakan bahwa sekolah-sekolah yang berpredikat katolik sekarang menjadi mahal dengan berbagai alasannya. Ada yang mengatakan bahwa masih bisa dijangkau. Barangkali ada yang mengatakan biasa-biasa saja. Yang perlu disadari bahwa pendidikan itu memang mahal. Jangan pernah berpikir bahwa dengan uang sedikit saya bisa mendapat gelar yang tinggi.Konyol! Belajar itu membutuhkan banyak pengorbanan mulai dari waktu, buku, konsentrasi dll. Dan itu membutuhkan uang. Tidak ada tokoh yang berprestasi, tanpa pernah belajar. Semua melalui proses belajar atau sekolah. Dan semua harus dibayar dengan uang. Itu mahal nilai dan harganya. Dan jangan pernah mengira, sekolah-sekolah yang mendapat sokongan pemerintah tidak memiliki masalah keuangan. Sangat! Dan hampir semua sekolah negeri yang berstatus SSN di Jakarta juga mahal. Misalnya, SDN Menteng 01, 02, 03, Gondangdia 01, Pondok Labu 15, SDN Meksiko dll, juga mahal. Masuknya aja perlu tes.Masalah uang memang selalu menjadi momok yang menakutkan bagi lembaga pendidikan. Ada satu nilai yang tidak bisa diganti dalam sekolah katolik (yang dimiliki oleh biarawan/wati) yaitu disiplin.Jarang saya temukan di sekolah-sekolah lain.
TARSI  
09.02.2010 05:36:39
Artikel ini sangat mencerahkan. Saya mendapakan banyak informasi.
Oh ya, sekedar info sekarang juga sudah ada pendampingan dan pelatihan bisnis ala MINI MBA di www.konsultasibisnis.com . Cocok bagi ”putra mahkota”, calon manager dan direktur yang belum berlatar belakang MBA, termasuk ibu rumah tangga agar pembicaraan-nya dapat ”nyambung” dengan suami. Lebih membumi dan cepat belajarnya...

GEMILANG  
04.03.2010 03:58:40
Istri saya memiliki pengalaman di sekolah katolik Sang Timur - Karang Tengah, dimana istri saya adalah pengajar yang berstatus honor tidak memiliki hak yang sama dengan pengajar yang berstatus tetap. Sedangkan kewajiban yang harus dilakukan sama dan tidak ada perbedaan di antara keduanya. Contohnya : pengajar yang berstatus honor/dari outsource tidak mendapatkan uang insentif dari pemerintah. Hal ini menimbulkan kecemburuan sosial dan menurunkan kredibilitas sekolah katolik .
JONI  
07.06.2010 02:42:17
pangudiluhur.oke bgt!
VICENTIA PRABANINGTYAS  
08.09.2010 23:21:35
Mahal tidaknya pendidikan katolik relatif. Yang harus diperhatikan pendidikan katolik tidak terjebak dalam kapitalisme pendidikan (komersialisasi pendidikan). Pendidikan katolik harus memperhatikan mutu lulusan. bukan hanya punya kemampuan akademik juga punya kemampuan kognitif. Memasukkan pendidikan humaniora dalam kurikulum sehingga itu menjadi ciri pendidikan katolik.
OMK FX KDI  
29.11.2010 12:20:47
Kenyataannya sekarang, sekolah katholik sudah tidak masuk ke taraf sekolah mahal lagi. Krn kalau mau bicara sekolah mahal/sekolah orang kaya, mari kita tengok international school yg semakin naik daun. Sekolah katholik justru benar sedang mengalami kemunduran. Mengapa? Karena semakin lama sekolah katholik hanya memeras otak murid2nya tanpa mengedepankan kemampuan sosial dan emosional. Ini kan namanya eksploitasi otak demi prestasi akademis sekolahan semata. Saya ini lulusan sekolah katolik murni. Dan saya sdh melihat kualitas lulusannya... Ini bukan yg saya cari. Jadi skrg ini sekolah katholik jadi incaran org2 kelas menengah yg tidak punya pilihan lain krn keterbatasan finansial. Jd kalau dibilang sekolah katholik sekolah orang kaya.... saya tidak setuju
IRENE  
09.12.2010 03:58:08
Saya punya anak dua, yang pertama kelas IV SD di sekolah Tarakanita Rawa Mangun Jak-Tim. Dan yang Ragil rencana masuk ke SD tersebut, namun kami terbentur dengan biaya yang ditawarkan oleh tim Finansial SD tersebut.Kami bukan minta gratis dari sekolahan hanya meminta keringanan biaya, khususnya SPP dan itu berdasarkan dari pendapatan bulanan kami. Dengan alasan subsidi silang kebijakan dari sekolah untuk membiayai sekolah Tarki yang di pelosok.
Yang ingin kami pertanyakan adalah :
- Apakah sekolah yayasan Katolik Murni dananya dari kemapuan sekolah tersebut.
- Apakah Sekolah Yayasan Khatolik sudah lupa, bahwa yayasan itu berdiri dari umat dan untuk umat.
- Pernah saya dengar kalau sekolahan itu bebas dari pajak benar-tidak.
- Mendirikan sekolahan merupakan ladang bisnis yang menjajikan, maka yayasan sekolah Katolik lupa dengan Mengimankan Katolik dan Mencerdaskan.
- Sementara saya punya pengalaman sebuah sekolahan Katolik punya masalah dengan masyarakat sekitarnya, namun spontan umat meredamkan masalah dengan damai tanpa tawar menawar, besok anak saya kalau masuk tolong digratiskan ( Itu tidak ada dibenak pikiran Kita/iklas)
- Bukankah umat Khatolik selalu Fleksibel dalam kebaikan ( contoh Sri Paus Paulus II memaafkan orang yang akan membunuhnya )
- Apakah seorang suster ( biarawati) setiap ingin meminta pertimbangan selalu menghindar dan yang diterima kalangan tertentu.
- Alasan kami menyekolahkan anak kami di Yayasan Khatolik supaya iman anak kami lebih kuat dengan tantangan zaman, kemudian kami melihat kalau disekolahan Negri yang kami lihat kami minoritas, tetapi seakan2 diarahkan untuk diikut dalam ajaran tertentu. beda dengan disekolah Khatolik yang penuh dengan toleransi yang besar.

Harapan kami agar dipertimbangkan untuk mengedepan bisnis di atas yayasan Khatolik.
Karena secara langsung atau tidak langsung umat ikut andil dalam hal memajukan Yayasan Khatolik yang ada di tanah air ini.

Mohon dengan kerendahan hati yang dalam maaf bila ada kata yang kurang berkenan, karena kami orang sudah berdosa dan ingin bertobat.

ANTONIUS HARYO SUSENO  
08.01.2011 00:54:05
saya mendaftarkan anak saya ke sd PL tahun ini agar mendapatkan didikan yang layak untuk anak saya tetapi dengan pendapatan perkapita saya, saya merasa terlalu mahal jika kami harus membayar uang pangkal 11 juta + uang apa lagi itu 2,5 juta dan seragam +lain lain 1 jutatotal hampir 15 juta ini paket yang uang pangkal mahal tapi spp murah 470 ribu

kalau ammbil uang pangkal 8 juta spp 670 ribu, kalau dihitung dari rata rata pemasukan untung nya pasti besar saya berharap ada penelitian ulang dengan uang sebesar itu mungkin hanya di target kan untuk orang orang kaya saja sekarang sekolah kristiani dan katholik sudah terlalu komersial tanpa memikirkan ke ekonomian rakyat menengah kebawah .

EDWIN  
02.02.2011 14:24:07
Sementara saya membaca fenomena ini, saya kok jadi pesimis dengan sekolah katolik ya...
Anak saya sih masih 1th dan yg satu lg masih di perut... tp soal pendidikan mau tidak mau mulai terpikir.
Anak kakak saya sekolah di sekolah international, tp bengalnya ampuuuuuun... beda sama sepupunya yg dididik di sekolah kristen...
Mungkin sisi displin dan iman tetep harus ada di sekolah katolik + biaya murah dong...
Soal biaya kayaknya sekolah manapun pasti ada biaya.. cuma, pembentukan pribadi kok ya sepertinya seharusnya sih diemban sekolah katolik ketimbang sekolah lainnya.

Saya sih berharap anak saya besar nanti sekolah di sekolah katolik, dengan suster dan bruder berkualitas sebagai pengajar. Syukur2 dia terpanggil jadi pastor..
Tapi ya itu, biar kata kita orang tua mendoakan, lah kalo di sekolahnya gak ada yg dijadikan panutan gmana ya?!

YONA  
18.02.2011 20:01:39
Dari yang saya ketahui sekolah katolik yang dikatakan mahal karena mmg merupakan sekolah favorit, yang mmg mutu dan kualitasnya teruji. jadi ya saya kira wajar saja kalau biayamya mahal karena sekolah itu juga membantu sekolah yang kekurangan dana (dl satu yayasan). Kalau tdk mahal bagaimana dengan sekolah yang kurang mampu? Masa gurunya nggak naik2 gajinya padahal kebutuhan hidup naik terus. kasihan kan para pahlawan tanpa tanda jasa kita?
Lagian kan mahal itu juga untuk yang mampu. Yang tdk mampu juga tidak dikenakan sama rata dengan yang mampu jadi adil lah. Biarlah yang kaya memberkati mereka yang kurang mampu!

INTAN  
04.03.2011 10:23:07
Sekolah Katolik di katakan mahal juga tidak terlalu karena biaya2 memang sudah naik, tetapi yg menjadi keprihatinan saya adalah tidak disertai mutu pendidikan yg memadai, jadi kurang sesuai dgn biaya yg kami keluarkan.Pendidikan moralnya sekarang spertinya kurang diperhatikan, guru hanya mengajar materi tetapi tidak disertai dgn moral yg baik juga.

Memang tidak semua guru begitu, tetapi kebanyakan sudah mengikuti trend instant, guru mengajar hanya formalitas krn menganggap semua murid sekarang sudah les pelajaran di luar sekolah.

Jadi untuk yg saat ini mengalami kesulitan keuangan akan sangat merasakan perbedaan itu.

Sikap guru terhadap anak didik, sudah tidak seperti jaman sekolah katolik dulu. Banyak kata2 yg dilontarkan tidak pantas sebagai seorang guru.

Itu yg saya rasakan menyekolahkan anak di sekolah katolik sekarang.

Gejala suap menyuap juga sudah mulai saya rasakan di sekolah Katolik, itu sangat di sayangkan.

Sekolah seolah2 lebih memperhatikan prestasi sekolah saja dibandingkan memperbaiki mutu pengajar2nya.

Menurut perhitungan kasar kami saja, contoh jumlah murid perkelas 30 - 40 anak dgn SPP 500 rb per anak, bisa untuk lebih menyejahterahkan gaji guru yg ada.Sehingga guru dapat bekerja dgn maksimal.

Mohon maaf apabila ada kata2 saya yg kurang berkenan.

LUCY  
08.04.2011 23:56:18
Sekolah katolik tetap yang terbaik, sejauh mana mereka tetap mengutamakan tingkat pendidikan yang tinggi baik dalam hal akademis, keterampilan, moral, sikap, kedisiplinan dan kasih sesuai ajaran Kristus yang sudah mjd icon nya. Karena itu tidak ada salahnya melihat dan menyadari kembali misi dan visi mereka spt jaman Belanda dahulu namun tetap peka dgn perubahan zaman.
MIKAEL KLEMENS  
26.04.2011 22:37:59
kalo menurut aku ch,,, ea trgntng gmna qt nannggapi apa qt mw maju apa ngga\"A ,,, jangan jd skolah tsb yg qt salahin,, ea dmna2 ge skrng ini mna ch pendidikan yg mura.apalagi yg nama\'a sekolah khatolik ea g mgnkn dwnk guru2 yg pd ngjr dstu g da hti nurani bwt orng yg g mmpu smntara ada otak,,, bnr g
RIAN..  
26.04.2011 22:39:50
kalo menurut aku ch,,, ea trgntng gmna qt nannggapi apa qt mw maju apa ngga"A ,,, jangan jd skolah tsb yg qt salahin,, ea dmna2 ge skrng ini mna ch pendidikan yg g
RIAN  
05.08.2011 22:07:46
bener sekolah katolik sudah byk ketinggalan jaman terutama guru guru kunonya yg mata duitan,apalagi masalah nego uang upp dan spp sering salah menilai org bikin dongkol,mending disama ratain aja
OFIE CHANDRA  
22.10.2011 10:57:27
Tujuan mula untuk ke suatu yayasan ataupun tempat dimana anak bisa mandiri,bersosialisasi dan tertib dalam peraturan yang ada dalam pendidikan merupakan solusi bagi orangtua/wali.Baik tidaknya berdasarkan dari SDM bagi para pembimbing,benar dilandasi kasih moral dan hikmat dari padaNya.Landasan tersebut dapat mengunggah suatu loyalitas terhadap peran yang dipikulnya sebagai pembina/anutan yang layak.Kita balikkan lg pada diri sendiri,seumpama kita tinggal di indonesia sebagai warga negara yang baik maka percayakan pada pemimpinnya.siapa dan gimana latar belakangnya bukan masalah.sbab ada seleksi alamnya.Begitu pula jika kita sudah menunjuk yayasan untuk memimpin kita jg bisa bantu brikan masukan demi kemajuan yang terkelola tersebut.Yakin dan percaya Tuhan ikut campur tangan.Dukungan untuk kemajuan yayasan,mdh-mdhn dapat mendidik mengarahkan anak sesuai kehendak Tuhan.
LARASATI  http://www.facebook.co/shoekwang
11.12.2011 17:26:13
Menurut saya, mungkin kita harus sedikit bijaksana dlm menanggapi sekolah katolik.Mari kita bertanya kembali ke kita masing2 apa yg kita harap kan dari sekolah katolik ? Mutu, Disiplin , Iman kekatolikan ? Menurut saya kalo sekarang kita merasa semua serba mahal mungkin itu benar tp di sekolah katolik byk toleransinya kalo tidak sanggup bisa nyicil,kalo tidak mampu tunjukin surat dari lingkungan dan pastor paroki pasti di bantu.Sekolah katolik juga perlu mensejahterakan gurunya dan itu perlu biaya.kalo kita mau jujur banyak ortu yg tidak mengeluh ketika ia bayar mahal utk nasional plus,padahal mutunya belum tentu lebih bagus dr sekolah katolik.Mungkin akan lebih bijaksana kslo kita mau melihat dari sisi lain menanggapi masalah ini.
MEI  
28.12.2011 13:05:51
sekolah katolik tetep the best!!! dibanding sekolah lain, pendidikan katolik labih baik! paling baik malah menurut saya! trimss...
ZZZZZZZZ  
21.01.2012 23:50:04
i remember when my mom told me a story when she met my first principal in my catholic school.. there was a question, \"kenapa ibu mau memasukkan anak ibu ke sekolah ini?\"... and my mom answered, \"saya mau memperkenalkan Tuhan Yesus kepada anak saya.\"... so, it\'s revealed.. catholic school is the very best first place to introduce our children to Jesus..... and when i was in 5th grade, i\'ve found that our school cleaning service\'s child was my classmate.... nothing much can be said, afterall... it was just wonderful to be there together with everyone.. no matter how much money we have..
DENIS  
14.02.2012 17:28:51
Saya setuju dengan pendapat salah satu komentator bahwa sekolah Katolik kini kalah pamor dari sekolah internasional. Saya ingin sekali menyekolahkan anak saya di sekolah Katolik, tapi terus terang saya kaget dengan materi pelajaran yang berjibun dan terlalu memberati siswa.
Apa sebenarnya yang dicari dengan membebani siswa dengan mata pelajaran yang sedemikian beratnya? Apakah cuma ingin mengejar hasil ujian yang tinggi di UAN?
Sungguh saya tidak merasa ada gunanya. Saya lebih senang kalau anak saya belajar materi dalam jumlah yang sedikit tapi mengerti konsep dasarnya. Bukan hanya menghafal tapi tidak mengerti.
Belajar seharusnya merupakan suatu proses yang alami dan menyenangkan bagi anak. Sejak mereka lahir, sebenarnya mereka sudah belajar. Kalau saja sekolah Katolik bisa mengganti cara mengajarnya agar mirip dengan sekolah internasional yang lebih membebaskan pendapat muridnya, namu dalam disiplin dan iman kekatolikan dan biaya yang murah, saya yakin sekali bahwa sekolah Katolik akan kembali menjadi pilihan pertama bagi orang tua.

JENNY  
23.04.2012 15:47:25
saya selaku pelajar jejang SMP bkn katolik, kinipun merasa resah ingin lanjut masuk ke SMA katolik tetapi membebani orang tua, sedangkan kalau masuk negri membebani diri sendiri. saya bingung dan butuh pendapat....
maaf jika ada salah kata
trima kasih..

FRANSISCUS FERNANDO DJAWAN  
20.06.2012 08:59:00
kalau smp yohanes gimana ya?????????????
SHELLA  
21.06.2012 10:21:21
ponakan saya bersekolah di SD & SMP khatolik (jaksel), sgt disayangkan dg uang sekolah yg mahal ttp mutu sekolah tidak seimbang dg biaya yg dibebankan ke para murid.tentu saja tidak dirasakan/blm ada komplain krn kenyataannya memang sekolah ini menampung anak2 org kaya.saya sendiri bersekolah SMP & SMA di sekolah khatolik tp saya merasakan mutu dan pengajaran/kualitas sekolah khatolik jaman dahulu dg skr itu berbeda. Era berjaya sekolah2 khaotlik itu 80-90-an..sygnya para pendidik & yayasan sekolahkhatolik tidak mau berbenah dan hanya bangga dg kejayaan masa lalu. Untuk Fransiscus, saya menyarankan coba search sekolah2 terbaik sehingga anda dpt menemukan byk sekolah2 bagus saat ini malah bukan sekolah khatolik.Lebih baik anda masuk negeri krn negeri skr kualitas bagus dan tidka perlu membebani ortu. jgn kekeuh hrs bersekolah di skeolah khatolik krn tidak ada gunannya..sekolah ponakna saya menolak anak seorang satpam utk bersekolah disana..teman2 ponakan say apun terdiri dari anak2 org kaya yg manja.Saya melihat guru2nya pun byk diambil dari daerah jawa sementara lulusan Ikip Jakarta msh byk...disini byk menemukan para guru spt "kalah" dg para murid2 kaya tsb...ponakan2 saya sejak kls 1SD smp SMP skr selalu juara 1. ini sgt aneh bagi saya..krn anak2 itu hrsnya spt grafik...ada masa turun naiknya jika pihak sekolah mau jujur...sementart teman sekolah mrk ada yg dicap guru mrk sbg anak bodoh & nakal bertahun2 disana...bukankah justru anak nakal hrs dibantu diubah bukan di cap slm berthn2? dan yg juara apakah hrs selalu juara 1 terus?libur sekolah plg byk jg di sekolahkhatolik. dg alasan toleransi dg umat lain mrk serign libur padahal liburan dlm rangka hr ultah santo2 pun sudah byk..blm lg byk alasan guru2 mau jalan2 dr yayasan khatolik dll...dimana letak beban moril sbg sekolah berbasis agama jika makin hari semakin buruk mutu sekolah khatolik ini. Anak2 pun disekolah ponakan saya ini tidka diajar budi kpekerti yg baik...hrs bs berbenah..lihat sekolah2 lain yg semakin baik..hrs bs mengikui perkembangan jaman sekarang krn anak2 semakin kritis dan attitude yg plg penting yg hrs ditanamkan .jgn hanya bertahan dg kebesaran dimasa lalu.
TRACY  
21.06.2012 10:32:06
Mutu sekolah khatolik skr sgt rendah...hanya bangga dg kejayaan masa lalu era 80-90-an saja...dan memang byk anak2 org kaya yg manja saja disana...kompetisi sgt tidak ada..
TRACY  
18.07.2012 12:06:10
sekolah katholik sekarang memang mahal belum lagi masih ada biaya dllnya (kalau murah artinya bisa terjangkau bagi kalangan menengah kebawah)padahal mutunya tidak sebaik dulu (bila dibandingkan dengan sekolah sejenis yg level/akreditasinya setara tapi biaya sekolahnya bisa lebih murah)akhirnya hanya ada 1 anak saya yg bersekolah disekolah katholik sementara yg satunya bersekolah disekolah umum swasta yg jauh lebih murah dengan tingkat akreditasi yg sama.mengingat biaya yg harus dikeluarkan setiap bulan dan tahunnya.belum lg kita jg masih harus mengeluarkan biaya berbagai macam les tambahan diluar sekolah untuk menunjang pelajaran sianak.karna banyak guru sekarang tidak setelaten guru dizaman dulu dalam hal mengajar anak disekolah.
IVY  
18.07.2012 12:06:10
sekolah katholik sekarang memang mahal belum lagi masih ada biaya dllnya (kalau murah artinya bisa terjangkau bagi kalangan menengah kebawah)padahal mutunya tidak sebaik dulu (bila dibandingkan dengan sekolah sejenis yg level/akreditasinya setara tapi biaya sekolahnya bisa lebih murah)akhirnya hanya ada 1 anak saya yg bersekolah disekolah katholik sementara yg satunya bersekolah disekolah umum swasta yg jauh lebih murah dengan tingkat akreditasi yg sama.mengingat biaya yg harus dikeluarkan setiap bulan dan tahunnya.belum lg kita jg masih harus mengeluarkan biaya berbagai macam les tambahan diluar sekolah untuk menunjang pelajaran sianak.karna banyak guru sekarang tidak setelaten guru dizaman dulu dalam hal mengajar anak disekolah.
IVY  
07.08.2012 16:06:01
Ada yang menggelikan setiap penerimaan siswa/i baru untuk sekolah katholik. Kualifikasi yang ketat dan nilai tinggi mungkin di atas rata2 penerimaan untuk sekolah lain. Jadi siswa yang masuk sekolah katolik sebenarnya udah punya dasar pintar, otomatis mendidiknya juga tidak terlalu susah. Coba diterima siswa2 yang bodoh2 dan didik pintar, ini baru namanya sekolah bagus. Menurut saya sekolah2 katolik sekarang sangat komerslial dan idealismenya mulai hilang dan cenderung mengalami penurunan. Ayo dong gebrakannya....sehingga tidak tertinggal, minoritas harus punya keunggulan komparatif biar survive ...
MON  
16.11.2012 23:37:31
Ya saya baru saja mempunyai pengalaman, bahwa untuk masuk sekolah katholik favorit di semarang, prestasi akademik tidak diperhitungkan. yang pertama adalah kemampuan finansial. SAYA KECEWA, saya orang katholik yang mempunyai misi mendidik anak saya secara katholik. Tetapi terancam tidak dapat masuk sekolah katholik. MINTA KEADILANNYA Bruder. SANGAT KOMERSIAL
HARI SUSANTO  
25.12.2012 15:39:41
tidak smua ktolik it biaya yg mhal.... ada pun skolah katolik yg mhal tp sklah yg brkwalitas.........
AGUS  
02.02.2013 22:27:28
Anak saya Renata harus menerima kenyataan tidak diterima di sekolah SMA Van lith tahun 2013. Dia sangat kecewa karena ia merasa akan di terima di sekolah tersebut, dari tes akademik, fisik dan wawancara semuanya berjalan lancar. Tapi kenyataan saat menerima informasi sabtu, 2 februari 2013 berkebalikan dari yang ia harapkan, saya harap anak saya dapat menerima dan terus maju untuk belajar baik itu dari akademik juga dari pemikirannya bahwa Tuhan mempunyai rencana lain buat dirinya. Dan saya mohon penjelasan dari pihak sekolah faktor apa yang membuat dirinya tidak diterima agar mudah bagi saya untuk menenangkannya dan tau diri. Terima kasih
YULI ARIYANTO  
22.06.2013 14:06:59
Sekolah katolik bagus secara kualitas tapi biayanya itu loh yg ga nguati... saya lulusan sekolah katolik,walau agama saya muslim, keluarga kami percaya dgn pendidikan katolik. dulu ortu saya PNS jadi masih bisa ngutang2 buat bayar sekolah.. sekarang saya udah berkeluarga, anak saya lulus SD mau saya masukin smp stella duce 1. tapi saya benar2 pusing ketika tahu biaya masuk 2 tahun lalu 6,5jt. berarti sekarang bisa 10 jt. duit dari mana tuh segitu? untuk karyawan swasta seperti saya. dulu di sekolah ada ajaran options for the poor. bisa diterapkan tidak ya. semua demi kemajuan sekolah katolik sendiri
RIKO  
29.06.2013 13:16:04
keunggulan sekolah katolik adalah karena kebanyakan didirikan oleh Belanda. nah untuk mencapai kejayaan kembali perlu belajar ke Belanda, menyesuaikan dengan kondisi pendidikan Belanda saat ini. Didik siswa dengan kedisiplinan yang bertanggung jawab. buat siswa peduli pada sesama.
TRIA  
01.10.2013 15:12:19
Bagi saya pembentukan Karakter dan pola pikir adalah hal yang terpenting dalam memilih sekolah, Mestinya Sekolah Katolik mesti memiliki Standard yg tinggi dan dipertahankan setiap waktu baik dalam proces pengajaran atau kwalitas guru.
Problem utama Sekolah katolik dalam hal biaya adalah tidak transparant, biaya yg dikenakan dianggap oleh orang tua murid terlalu mahal. Orang tua murid tidak pernah tau sebenarnya berapa biaya yg layak yg mesti ditanggung oleh mereka.Mestinya Gereja Katolik mesti ikut memikirkan masalah Biaya dan Standard pendidikan di sekolah katolik

ROBBY  
31.10.2013 00:13:56
JIKA VISI/MISI SEKOLAH SUDAH MELENCENG DARI\\\"MENCERDASKAN BANGSA\\\" MENJADI ORIENTASI UANG,NISCAYA KEMUNDURAN DARI SEKOLAH TSB AKAN TERJADI,saya melihat makin banyaknya sekolah sekarang yg bertujuan bisnis! ingat banyak anak bangsa kita dari keluarga menengah ke bawah dg kemampuan otak yg sedang2 saja,jadi jika sekolah2 terutama sekolah KHATOLIK menstandartkan syarat yg tinggi untuk nilai & uang masuk sekolah,berati sekolah tersebut misi/visi nya sudah masuk ke orientasi uang or bisnis...cukup prihatin...
IDA  
20.11.2013 14:19:07
Semoga sekolah katolik tidak berorientasi pada uang, tapi lebih berorientasi pada pemupukan dan perkembangan iman anak didiknya. Jangan adalagi kesulitan bagi orang katolik untuk bisa sekolah di sekolah katolik
WILLY  
04.12.2013 14:32:16
mohon post solusi dari permasalahan yang telah dijabarkan pertama : mengatasi mahalnya biaya sekolah di sekolah katolik, sehingga bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Terimakasih
UUT  
10.12.2013 19:39:11
Dari segala kesimpulan" di atas, yang pasti, sampai saat ini saya tidak mampu mensekolahkan kedua anak saya di sekolah Khatolik. Saya pernah mencoba meminta keringanan biaya masuk ke sekolah Khatolik (krn memang kami keluarga Khatolik), tetapi jawaban dari pihak sekolah adalah yg kebetulan seorang suster: Kalau mau anaknya sekolah disini, ya harus menabung dari dulu...
Astaga... betapa sedihnya saya mendengar jawaban tersebut. Disaat pemerintah menggaung-gaungkan sekolah gratis, sekolah Khatolik malah bersikap seperti itu kepada sesama anggota gerejanya. Terdengar sombong sekali.
Kita seharusnya mulai membuka mata, mawas diri. Masa sekarang ini sekolah Khatolik bukanlah lagi menjadi sekolah nomor 1, banyak sekali sekolah negeri bahkan sekolah Islam yang prestasinya jauh lebih baik daripada sekolah Khatolik.
Saya sangat prihatin dengan kondisi ini...

ARMAND  
10.12.2013 19:51:16
Seharusnya sekolah-sekolah Katholik di Indonesia harus segera membuka mata & instropeksi diri. Janganlah bersikap seperti orang sombong yang merasa dirinya paling baik. Perlu dilihat bahwa saat sekarang ini banyak sekali sekolah negeri dan sekolah Islam yang prestasinya jauh lebih menonjol daripada sekolah Khatolik. Bahkan banyak atau tepatnya jauh lebih banyak sekolah-sekolah Kristen lain yang “bertarif” jauh lebih murah bahkan GRATIS! Bagi orang yg tidak mampu.
Sangat bertolak belakang dengan jawaban seorang pimpinan sekolah Khatolik saat menjawab pernyataan permintaan keringanan yang saya ajukan saat ingin memasukkan anak saya di sekolah Khatolik. “Kalau mau anaknya sekolah di sini, ya harus menabung dari dulu. Kan tahu sekolah disini mahal, kalau tidak mampu ya cari sekolah lain saja.” PLAAAKKK! Bagai ditampar wajah saya ini mendengar jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang Khatolik, seorang biarawati!!
Prihatin sekali..

ARMAN  
10.12.2013 19:55:10
Seharusnya sekolah-sekolah Katholik di Indonesia harus segera membuka mata & instropeksi diri. Janganlah bersikap seperti orang sombong yang merasa dirinya paling baik. Perlu dilihat bahwa saat sekarang ini banyak sekali sekolah negeri dan sekolah Islam yang prestasinya jauh lebih menonjol daripada sekolah Khatolik. Bahkan banyak atau tepatnya jauh lebih banyak sekolah-sekolah Kristen lain yang “bertarif” jauh lebih murah bahkan GRATIS! Bagi orang yg tidak mampu.
Sangat bertolak belakang dengan jawaban seorang pimpinan sekolah Khatolik saat menjawab pernyataan permintaan keringanan yang saya ajukan saat ingin memasukkan anak saya di sekolah Khatolik. “Kalau mau anaknya sekolah di sini, ya harus menabung dari dulu. Kan tahu sekolah disini mahal, kalau tidak mampu ya cari sekolah lain saja.” PLAAAKKK! Bagai ditampar wajah saya ini mendengar jawaban seperti itu keluar dari mulut seorang Khatolik, seorang biarawati!!
Prihatin sekali..

ARMAND  
11.12.2013 00:56:45
Adduuuh saya jadi bingung nih, rencana mau masukin anak ke sd tarakkanita katolik...tapi pas baca2 koq jadi mikir lagi nih. Pdhal cuma itu yg deket dr rmh...mohon pencerahannya
JESSICA  
25.03.2014 15:19:57
ya,terima nasib saja. saya berencana memasukkan anak saya sekolah di sekolah negeri saja. pelajaran agama Islam yang utama. btw, bisa gak ya, Pastur, Frater, atau Suster membantu menjadi tenaga pengajar agama Katolik di sekolah-sekolah negeri? kalo gak ada, ya gpp. saya sendiri yg akan mengajarkan agama Katolik ke anak saya. Terimakasih.
LUHUR  
23.05.2014 09:14:25
membaca semua komentar yang ada, memang harus diakui bahwa sekolah katolik sekarang mengalami penurunan kualitas, tidak lagi menjadi menara gading seperti dahulu. mengapa? berbekal pengalaman sebagai guru les dari berbagai sekolah, hal perlu disoroti:
1. kurang tegas, guru lebih banyak toleransi & maklum, beda dengan jaman saya dahulu. 2. kurang peduli, dengan tugas2, kadang sudah diberi tugas, tidak diperiksa. 3. sering menunda-nunda, sehingga berkesan seperti kejar setoran jika sudah dekat ulangan umum. 4. terlalu terbuai dengan nama besar.5. terlalu banyak gini-gono, ingat dahulu bisa bermutu karena simple, sederhana yang penting bisa terealisasi, gak usah lha memaksakan diri seperti pakai projector segala.saya jebolan canisius, dahulu pesaing ketat adalah PL, SMAK I, tetapi sekarang ini mengapa tidak ada gigi lagi? seakan yah sudah sekolah hanya untuk formalitas saja. masalah uang, memang pendidikan itu mahal, ingat yang mahal itu pasti baik, tetapi belum tentu yang mahal itu bagus. mohon menjadi perhatian pihak berwenang.

ADRIAN  
23.05.2014 09:29:57
sekolah katolik saat ini memang menurun kualitasnya, itu harus diakui. mengapa demikian? ada beberapa sekolah katolik yang tetap baik, karena mereka mempertahankan apa yang ada, tidak selalu mengikuti kemajuan jaman, harus dipilih mana yang baik dan mana yang tidak. contohnya saja dengan beban kurikulum dari pemerintah yang notabene masih lebih bagus kurikulum jaman dahulu dari sekarang. jangan semua diikuti (maaf, bukan menganjurkan yang buruk) karena sepertinya kok tidak ada gunanya. seperti pelajaran SBK, yang ukiran ini itu hingga detail, semua hanya teori untuk apa itu? saya tahu ada beberapa sekolah yang tidak mengikuti, kalau pun ikut hanya formalitas. anak sekarang SD kelas IV saja, menggunting lingkaran saja tidak bisa rapih. ketika saya sekolah dahulu, guru pun bersaing dengan guru dari sekolah lain. beda sekali dengan guru jaman sekarang yang berkesan mangajar hanya untuk formalitas. cobalah untuk mengembalikan ke sistem dahulu, tidak semua yang dari pemerintah diikuti. masih segar dalam ingatan ketika kelas 3 SMA semester 2, pelajaran olahraga diganti matematika, PPKN hanay 1 jam, diganti oleh fisika, kesenian diganti kimia, banyak sekali pelajaran yang diganti oelh sekolah tanpa ikut pemerintah, hasilnya? bisa dibanggakan.
dahulu sekolah sekelas PL, CC, SANUR, TARKI itu bersaing secara ketat sekali.sepertinya saat ini tidak terdengar lagi nama besar sekolah itu, hanya cc & sanur yang masih eksis & disegani sekolah lain.
Mengapa saat ini soal yang dikeluarkan MPK juga tidak berbobot? dahulu itu ulangan umum dari sekolah dan dari MPK merupakan hal menakutkan, sekarang? mana MPK? mengapa bisa merosot begitu jauh? tidak usah terlalu macam-macam, sederhana saja tapi hasilnya bisa bagus. gak perlu sok-sok-an melek IT segala, hasilnya yang penting. ingat, walau bagaimanapun nilai menjadi tolok ukur keberhasilan sekolah. ini hanya saran saja demi perbaikan sekolah. terima kasih.

ADITIA  
11.06.2014 11:47:25
saya bekerja diyayasan prayoga riau.saya setuju sekali dengan pendapat bahwa sekolah katolik sduh mulai hilang jati diri.di yayasan kami tukang sapu aja dikontrak dari PT.ini kan tidak masuk akal .masakan yayasan yang katanya lembaga non profit menyewa Perusahaan yang profit.ada apa ya??? dan yang lebih parah lagi ada kesan eksodus besar-besaran kelompok suku tertentu untuk menguasai yayasan ini.ini kan namanya perpecahan.hati hati bapak USKUP PAdang
DAVID PUTRA  

NAMA
EMAIL
*tidak ditampilkan
HOMEPAGE
KOMENTAR
KODE VERIFIKASI kode
 
BruderFIC.or.id © 2002-2008   
http://bruderfic.or.id/   ^:^ : 4 ms